Sabtu, 19 November 2011

Suara Seorang Kakak

Sebagian besar orang memperoleh inspirasi dalam hidup mereka. Mungkin dari pecakapan dengan seseorang yang kau hormati tau sebuah pengalaman. Apa pun bentuknya, inspirasi cenderung membuatmu memandang kehidupan dari sudut pandang yang baru. Inspirasiku berasal dari adikku Vicki, seseorag yang baik hati dan penuh perhatian. Ia tidak peduli akan penghargaan atau masuk dalm surat kabar. Yang diinginkannya hanyalah berbagi cinta dengan orang yang dikasihinya, keluarga dan teman-temannya.

Pada musim panas sebelum aku mulai kuliah ingkat tiga, aku menerrima telepon dari ayahku yang memberitahukan bahwa Vicki masuk rumah sakit. Ia pingsan dan bagian kanan tubuhnya lumpuh. Indikasi awal adalah ia menderita stroke. Namun, hasil tes memastikan bahwa penyakitnya lebih serius. Ada sebuah tunor otak ganas yang menyebabkan lumpuh. Dokter hanya memberinya waktu kurang dari tiga bulan. Aku ingat betanya-tanya, bagaimana mungkin ini terjadi?sehari sebelumnya Vicki baik-baik saja. Sekarang, hiduonya akan berakhir pada usia yang sangat muda.

Setelah mengatasi rasa kaget dan perasaan hampa pada awalnya, aku memutuskan bahwa Vicki membutuhkan harapan dan semangat. Ia memerlukan seseoang yang membuatnya percaya bahwa ia bisa mengatasi rintangan ini. Aku menjadi pelatih Vicki. Setiap hari kami membayangkan bahwa tumornya menyusut dan semua yang kami bicarakan bersifat positif . aku bahkan menempelkan poster didepan pintu masuk rumah sakitnya yang bertulisan “kalu kau memiliki pikiran yang negative, tinggalkan pikiran itu didepan pintu”.

Bulan agustus tiba dan kuliah tingkat tiga akan dimulai di univrsitas yang jaraknya 3000 mil dari rumah. Aku bingung apa aku harus pergi. Aku membuat perjanjia yang disebut 50-50. Aku berjuang 50% dan Vicki akan memperjuagkan 50% sisanya. Aku salah bicara, menyebutkan bahwa aku mungkin tak akan kuliah. Ia akan marah untuk menyuruhku  untuk tidak khawatir karena dia akan baik-baik saja. Kepergian malam itu, merasa bahwa ini mungkin terakhir kalinya aku melihat Vicki dalam keadaan hidup.

Selama aku kuliah aku tidak pernah lupa perjanjian 50% bagianku untuknya. Setiap malam sebelum tidur, aku berbicara dengan Vicki, berharap ia dapat mendengarkanku. Aku berkat, “Vicki, aku sedang berjuang untukmu dan aku tak akan menyerah. Asalkan kau tak berhemti berjuang, kita dapat mengalahkan tumor ini. Beberapa bulan berlalu dan ia masih bertahan. Aku sedang berbicara dengan teman yang lebih tua dan ia menanyakan keadaan Vicki. Aku bercerita bahwa kondisinya makin buruk, tapi dia tak menyerah.

Temanku melontarkan pertanyaan yang benar-benar membuatku berpikir. Kaatanya”menurutmu, akapah dia bertahan itu karena dia tak mau mengecewakanmu?” mungkin perkataannya benar? Mungkin aku egois,menyemangati Vicki untuk terus berjuang? Malam itu sebelum tidu, aku bertanya padanya “Vicki, aku mengerti  kau sangat menderita dan kau mungkin akan menyerah. Kalau memang begitu, aku mendukungmu. Kita tidak kalah karena kamu sudah berjuang. Kalau kau ingin pergi ketempat yang lebuh baik, aku mengerti. Kita pasti akan bersama lagi. Aku menyayangimu dan aku akan terus bersamamu di mana pun kau berada.”

keesokan paginya, ibuku menelepon, memberi tahu bahwa Vicki telah meninggal…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar