Sabtu, 19 November 2011

dia memberi tahu, menangis itu tak apa-apa

Bersahabat dekat dengan seseorang itu membutuhkan banyak pengertian, waktu, dan rasa percaya. Dengan semakin dekatnya masa hidupku yang tidak pasti, teman-temanku adalah hartaku yang paling berharga. Setelah berpisah bertahun-tahun, aku beertemu lagi dengannya tadi malam. Ia sengsara. Ia mengecat rambutnya, mencoba menyembunyikan warna aslinya, sama seperti penampilannya yang kasar menyembunyikan ketidak bahagiaannya yang mendalam. Ia ingin mengobrol, jadi kami berjalan-jalan

Sementara aku memikirkan masa depanku, formulir pendaftaran perguruan tinggi yang baru tiba, ia memikirkan masa lalunya, rumah yang baru ditinggalkan. Lalu ia bicara. Ia bercerita tentang pacarnya dan akupun melihat hubungan cinta yang bergantung pada seorang lelaki bertipe dominan. Ia ia bercerita tentang obat-obatan terlarang dan aku melihat bahwa obat adalah pelariannya. Ia bercerita tentang cita-citanya dan aku melihat impian materi yang tidak realitis.

Ia bercerita dirinya memerlukan orang teman dan aku melihat harapan, karena paling tidak aku bia memberikan kepadanya. Kami berkenalan di kelas 2 SD. Giginya baru tanggal, dan aku sedang merindukan teman-temanku. Aku bau saja melintasi benua, menemukan ayunan besi yang dingin dan wajah mengejek yang dingin di laur pintu P.S 174,  sekolah baruku.aku brtanya padanya apakah aku boleh meminjam buku komik Archie miliknya, meskipun aku tak begitu suka sama komik; dia bilang boleh, meskipun dia tak begitu suka berbagi.

Mungkin kami sama-sama mencari senyuman. Dan kami menemukannya. Kami menemukan seseorang untuk teman cekikikan waktu telah malam larut, seseorang untuk menghirup susu coklat hangat bersama di musim salju yang dingin saat sekolah diliburkan dan kami sering duduk berdua dekat jendela, memandang salju turun tiada henti. Angina pun meniup udaranya, dan kami pun kedinginan yang laur bisa….

Pada musim panas, di kolam renang, aku di sengat lebah. Ia menggenggam tanganku dan mengatakan padakubahwa dia akan menemaniku dan kalau aku mau menangis itu tidak apa-apa jadi akupun menangis. Pada musim gugur, kami menyapu daun hingga menjadi tumpukan, lalu bergiliran melompatinya tanpa merasa takut karena kami tahu bahwa kasur warna-warni itu akan menahan tubuh kami jatuh…

Hanya sekarang, dia sudah jatuh dan tak ada menangkapnya. Kami sudah berbulan-bulan tidak mengobrol, dan kami sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Aku sudah pindah ke California, dan dia pindah rumahnya. Pengalaman kami terpisahkan  jarak bermil-mil, membuat hari kami berjauhan, lebih jauh dari benua yang baru dilintasinya. Melalui kata-katanya aku mersa terasing, tapi melalui matanya aku merasa kehausannya. Ia membutuhkan dukungan dalam usahanya mencari kekuatan dan awal baru. Aku menggenggam tangannya dan mengatakan bahwa aku akan menemaninya dan kalau ia mau menangis, itu tak apa-apa dan ia pun menangis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar