Perlombaan lari wilayah telah tiba. Perlombaan yang kami siapkan dengan latihan disetiap musim. Kakiku masih belum pulih dari cedera sebelumnya. Malah, aku ragu apakah aku akan ikut lomba atau tidak. Tapi aku akan datng juga, bersiap-siap untuk lomba 3200 meter. Pistol berbunyi dan kami berlari. Anak perempuan yang lain melaju didepanku. Aku menyadari bahwa lariku timpang dan merasa malu saat makin lama makin tertinggal
Pelari pertama sudah dua kali putaran didepanku saat ia melintasi garis akhir. Horee.,! sorak penonton. Sorakan yang ternyaring yang pernah aku dengar dalam suatu perlombaan. Lebih baik aku berhenti saja, pikiranku saat aku terus lari terpincang-pincang. Orang-orang itu akan menungguku mengakhiri lomba ini. Namun, aku memutuskan untuk terus berlari. Pada dua putaran terakhir, aku berlari sambil menahan sakit dan memutuskan tidak ikut berlomba tahun depan. Tak ada gunanya, meskipun kakiku sembuh. Aku tidak akan mengalahkan gadis yang menyusulku dua kali.
Waktu aku selesai, aku mendengar saat gadis pertama melintasi garis finish. Ada apa ini?tanyaku. aku berbalik dan benar saja, pelari putra sedang siap berlomba. Pasti itu; mereka menyoraki pelari itu. Aku langsung kekamar mandi, dan seorang gadis berpapasan denganku. Wah, kamu benar-benat pemberani. Katanya. Aku tersentak, Pemberani? Dia pasti keliru mengenali orang itu kalau aku jadi kamu. Aku pasti sudah berhenti pada putaran pertama, kakimu kenapa? Kami menyorakimu, lho. Kamu dengar tidak?
Aku tak percaya. Seorang yang tak aku kenal menyorakiku bukan ia ingin aku menag, tapi karena ia ingin aku terus berlari dan tidak menyerah. Mendadak aku memperoleh harapan. Aku memutuskan ikut berlomba tahun depan. Seorang gadis menyelamatkan impianku.hari itu aku belajar dua hal. Pertama, sedikit kebaikan rasa percaya diri dapat menimbulkan peubahan yang besar dalam diri seseorang dan saya akui bahwa aku masih bisa ikut lomba lagi.
Dan kedua, kekuatan dan keberanian tak selalu diukir dengan medali dan kemenangan. Keduanya diuki dalam perjuangan yang berhasil. Orang terkuat tak selalu orang yang menang, melainkan orang yang tak pernah menyerah saat kalah. Aku hanya memimpikan bahwa suatu saat mungkin di kelas tiga aku akan berhasil memenangkan lomba dengan sorakan senyaring sorakan yang kudapatkan saat aku kalah lomba disaat kelas satu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar