Andai aku boleh katakan, aku tidak akan bermain-main dengan sebuah nama yakni “CINTA”. Dan akan aku ulang sekali lagi, andai aku boleh memilih sebuah jalan hidup baru, maka akan aku teriakkan serta mengibarkan bendera kedamaian untuk orang yang aku kasihani.
Bila aku tidak mampu memejamkan mata ini, maka akan aku petik gugusan bintang perdamaian malam ini. Bila semua hanya mimpi, akan aku ungkapan sebait doa untukmu disana. Dan bila aku bertemu denganmu, akan aku peluk erat tubuhmu yang berlumur darah. Darah merah yang segar akan aku raih dengan dua telapak tangan kosong ini. Mampukah diriku?
Sayangnya aku tidak bisa berbuat banyak untuknya, untuk dirinya, untukmu, serta untuk semua orang yang menderita. Maka akan aku tancapkan bambu rucing ini kearah tubuh lawanku yang kekar. Akan aku hunuskan puluhan serta ribuan tusukan runcingan bambu ini padamu. Dan aku akan tersenyum, sebelum mentari akan tenggelam diufuk timur.
“Nak, sudah pagi…” Mamaku membangunkanku dalam mimpi burukku. Aku mengucek kelopak mata kantukku dengan segera. Membasuh muka di dalam kamar mandi. Mamaku sibuk membersihkan tempat tidurku. Inilah kebiasaanku menjelang libur panjang sekolah. Aku akan bangun setelah mentari yang terbit dengan terang berderang.
“Ma, kan hari ini hari libur sekolah.” Jawabku dengan malasnya.
“Mau ikut liburan tidak hari ini?” ujar Mama dengan nada rendahnya.
“Liburan kemana?”
“Ke Bali, Nak.” Tiba-tiba suara Papa bergema disudut kamarku.
“Papa yang benar, Nih?” aku meyakinkan ucapan yang terlontar berapa detik barusan.
Papa menganggukkan kepalanya,”Iya. Papa dan Mama sengaja cuti kerja selama sepekan untuk mengajak anak Papa liburan ke Bali.”
“Bali?” aku kaget ketika nama seribu Pura itu kudengar. Baru pertama ini kedua kakiku akan menginjak pulau Dewata. Pulau yang eksotik untuk dikunjungi. Dalam lamunanku, aku berlari di atas pasir putih pantai Kuta. Aku akan bermain selancar dengan ketinggi ombak yang menggulung tinggi dengan gagahnya. Berpose ria bersama turis-turis yang berjemur menghitamkan tubuh mereka. Dan yang belum aku saksikan adalah panorama Sunset. Melihat mentari tenggelam di perairan pantai Kuta dengan bulatan besar itu tiba-tiba tenggelam perlahan-lahan. Asyiknya. Aku akan berkunjung mengelilingi Bali seperti pantai Kuta, Sanur, Bedugul, Kintami, Tanah Lot, dan tempat wisata lainnya di Bali.
“Rifki, kok malah bengong,” goda Mama sambil mencubit kedua pahaku.
“Aw…awww…sakit, Ma.”
“Hayo…memikirkan Bali seperti apa ya?” Papa meletakkan korannya diatas meja belajarku.
Aku tersipu malu.
“Kok diam lagi, sih? Mau ikut tidak ke Balinya?” Papa berbalik kanan.
“Pa..Pa..Papa…jadilah. Kalau begitu aku mau mandi dulu, Pa. Tunggu ya…” aku meraih handuk yang di jemur.
“Iya…Papa dan Mama tunggu di ruang makan, Nak.”
“Baiklah, Ma…”
***
Tiga puluh menit, persiapan untuk berlibur ke Bali sudah siap. Mobil sudah di cek kondisinya oleh Pak Amin, sopir pribadi di dalam keluargaku. Sudah berapa tahun lamanya, Pak Amin mengabdi di keluargaku. Untk itulah beliau sudah dianggap bagian dari keluargaku sendiri.
Wanita berbadan bongsor dengan wajah imut-imutnya ialah Mbak Jijah. Meskipun usianya kepala tiga, Mbak Jijah masih single loh. Saat Papa mengajak Mbak Jijah untuk bergabung serta mendapat tiket berlibur ke Bali, wajahnya sumringah tanpa henti-hentinya. Mbak Jijah orang kedua yang bersemangat menyambut keberangkatan ke pulau Dewata kali ini.
“Tuan, Nyonya, tidak berkata bohong mengajak saya ikut ke Bali?”
“Ngapain harus bohong,”
“Wah…mimpi apa saya semalam, Nyonya?”
Mamaku hanya mengangkat kedua bahunya,”Mimpi kodok tidak ada ekornya.”
“Dari dulu kan kodok tidak ada ekornya, Nyonya…”
Tawa pun meledak saat pemberangkatan menuju Bali.”Sudah siap!” teriak Pak Amin penuh semangat.
“Siap!!” teriak kami serentak.
***
Mobil yang dikendarai oleh Pak Amin sudah melewati Singosari-Malang. Sebentar lagi, mobil ini akan meninggalkan Bhumi Arema, julukan kota Malang. Aku menempelkan kelima jemari tangan kananku di kaca mobil. Aku gerakkan kearah kanan kemudian kearah kiri. Melambaikan perlahan tangan kananku,”Selamat jalan Bhumi Arema…I’m comming Bali Island….”
Suasana didalam mobil begitu gaduh. Aku tidak bisa menyembunyikan keceriaan yang terpancar dari wajah Mbak Jijah. Berulang kali Mbak Jijah mengatakan,”Hal yang pertama kali saya lakukan saat tiba di Bali adalah saya akan berpose dengan bule.”
“Bule?”
“Iya. Akan aku tunjukkan pada orang kampung, Ijah Sutijah Binti Achmad bisa berpose dengan bule, loh!”
***
Sembilan jam perjalanan dari kota Malang ke Bali, akhirnya setelah mobil menyebrang di pelabuhan Ketapang-Banyuwangi, maka Pak Amin yang sedari tadi kelelahan kini kembali menginjakkan gas mobil saat membaca tulisan,”WELCOME TO BALI.”
“Tuan, Rifki….ini Bali ya?” Mbak Ijah tanpa hentinya terlihat kagum.
“Iya, Mbak Ijah.”
“Wah…kok tidak ada bulenya, sih?”
“Ini kan belum nyampai obyek wisatanya, Mbak Ijah.”
Mbak Ijah menganggukkan kepala,”Kalau sudah sampai Kuta, pasti bulenya banyak ya?”
“Iya…”
***
Aku akan berlibur dua pekan lamanya di Bali. Papa sudah resevarsi di hotel berbintang di kawasan Legian Kuta. Kebetulan, Papa tidak asing lagi untuk berkunjung ke Bali. Selama Papa bekerja di perusahan asing termuka di kota kelahiranku, setiap kali ada meeting penting dengan kedutaan negara-negara asing termuka, beliau akan selalu menghabiskan untuk menghadiri meeting penting di Bali.
Kenapa aku dan Mbak Ijah begitu semangat pertama kali mendapat tiket liburan gratis ke Bali? Jawabannya ada pada Papa. Begini, ceritanya. Setiap Papa pulang dari meeting di Bali. Beliau selalu bercerita tentang budaya Bali. Dimana masyarakat Bali begitu baik dan ramah saat ada tamu luar negeri yang datang ingin menikmati panorama Bali. Menghabiskan liburan sepajang musim kali ini. Untuk itulah, saat liburan, ribuan orang dari penujuru dunia akan berkunjung dengan wajah gembira.
Cinderamata yang khas dan unik itulah yang selalu Papa bawa pulang untuk hadiahku di rumah. Berapa banyaknya koleksi benda-benda unik yang dihasilkan oleh perajin atau seniman terkenal di Bali. Papa pernah membawa lukisan gambar seorang anak yang sedang di gendong oleh ibunya dengan selendang bercorak motif Bali. Papa membeli lukisan termahal dalam sejarah hidupnya. Beliau tidak segan-segannya merogok uang berjuta-juta untuk membeli lukisan yang penuh makna itu. Kini, lukisan itu Papa taruh di ruang keluarga dan dirawatnya. Papa mewanti-wanti pada Mbak Ijah agar lukisan itu tidak berdebu.
Pernah suatu hari, Mbak Ijah lupa untuk membersihkan lukisan mahal itu. Abu tebal menempel di lukisan yang dibeli oleh Papa. Puncak emosi Papa tidak bisa dibendung lagi. Seolah-olah, di kepala Papa ada dua tanduk merah. Papa marah besar. Aku hanya bisa diam di dalam kamar tidak bersua sedikitpun.
“Bali itu pantas dikunjungi oleh semua orang di muka Bali.” Ujar Papa.
“Kenapa?” tanyaku penuh penasaran.
“Karena Bali tempat yang paling tepat untuk berlibur bersama keluarga.”
“Terus?”
“Sudah saat pasti Papa akan membawa kamu, Rifki…”
“Oh, ya? Kemana?”
“Bali.”
“Papa tidak bohong?”
“Buat apa Papa harus berbohong?”
Saat perbincangan kecil di ruang keluarga di malam hari, saat itulah hatiku tidak bisa terbendung lagi ingin segera terbang ke Bali. Berulang kalinya aku meminta pada Papa agar beliau memberikan ijin padaku untuk membawa diri ini berlibur ke Bali. Menikmati keindahan Bali sesungguhnya bukan cerita yang sering diceritakan Papa sepulang dari meeting di Bali.
“Papa janji ya?”
“Iya. Papa janji bila kamu rangking di kelas.”
“Baiklah.”
Nah, saat itulah aku sungguh-sungguh untuk meraih peringkat di kelas. Aku sungguh-sungguh untuk belajar sampai titik darah penghabisan. Aku bercermin pada sosok pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia yang ingin segera merdeka dari jajahan Belanda.
Aku sempat membaca sejarah, bagaimana arek Suroboyo menyobek bendera milik penjajah kalah itu di depan hotel. Arek-arek Suroboyo ingin sang Merah Putih berkibar di langit cerah. Untuk itulah, semangatku kian menggebu-gebu dalam relung jiwaku terdalam. Aku bisa membuktikan pada Papa, bahwa aku bisa meraih peringkat kelas. Dan akan aku rebut tiket emasku menuju Bali. Oh, Bali….sungguh impianku bisa bersua padamu kelak!
***
“Welcome to Beach Hotel, Mr. Handoko.” Ujar Mbak Resepsionis Beach Hotel.”Ada yang bisa saya bantu, Bapak Handoko?”
“Saya pesan dua kamar, Mbak.” Ujar Papa.
“Baik. Ditunggu sebentar, Pak. Maaf, bisa tunjukkan kartu indentitas Bapak Handoko?”
Papa mengeluarkan Kartu Tanda Penduduk di dalam dompet yang terbuat dari kulit asli. Setelah Mbak Resepsionis mencatat di guest list, data-data yang dibutuhkan oleh pihak hotel sudah lengkap, transaksi pembayaran sudah dilakukan Papa, maka Mbak Ayu memberikan master key.
“Ini master key,”
“Terima kasih, Mbak Ayu.”
“Sama-sama Bapak Handoko. Selamat berlibur dan selamat menikmati fasilitas Beach hotel.”
Bell Boy akan mengangkat barang bawaan kami semua menuju kamar yang sudah dibooking oleh Papa. Setelah memberikan uang tip ke Bell Boy itu, kami semua beristirahat sejenak melepas rasa capek perjalanan dari kota Malang menuju Bali yang memakan waktu sembilan jam perjalanan.
***
Hari ini adalah jadwal dimana aku dan keluarga besarku mengunjungi tempat rekreasi ke Tanah Lot dilanjutkan ke Bedugul, rasa capek perlahan nan pasti hinggap di pelupuk mata indahku. Walau sehari merasakan keindahan bersama keluarga tercinta. Aku tidak bisa memungkiri rasa lelah selalu menjadi momok perjalanan kali ini.
Berusaha untuk mengusir rasa lelah berkepanjangan, aku keluar dari kamar hotel. Untuk mengetahui dunia luar di hotel berlantai dua itu. Setelah mendapat kantong ijin untuk jalan seorang diri, langkahku kian mantap menyusuri jalan Poppies. Tidak lupa peta Bali aku genggam setelah aku bertanya pada tourisme infomation yang tidak jauh dari hotel dimana diriku menghinap. Setelah mendapat penjelasan dari guide setempat, aku berkenalan dengan Bli Made. Mas Made.
“Engken, Bli? Ada apa, Mas? Bisa saya bantu?” tanya Bli Made.
Penjelasan Bli Made begitu detail atas info-info obyek wisata. Aku diajak untuk berkunjung ke rumah Bli Made di jalan Mandala. Jalan Mandala yang berada dibelakang airport international Bali. Airport Ngurah Rai.
“Ini rumah mungil saya, Mas.” Bli Made dengan ramahnya mempersilahkan aku masuk.
“Matur sukseme, Bli. Terima kasih, Mas.”
“Mas, Rifki bisa bahasa Bali, ya?”
Aku tersenyum kearahnya,”Iyalah.”
“Bli Made seniman ya?” lanjutku sambil bertanya saat Bli Made menunjukkan ruang kerjanya.
“Seniman kacangan, Mas.”
“Sudah lamakah Bli Made menggeluti seni lukis?”
Bli made menggelengkan kepala,”Baru tiga bulan yang lalu. Saat saudara kita di Palestina menderita.”
“Maaf, Bli Made seorang muslim?”
Untuk kedua kalinya Bli Made menggelengkan kepala.
“Maaf….ya, Bli.”
“Sing Ken-ken. Tidak apa-apa, “
“Saya beragama Hindu. Oh, ya besok ada pameran seni lukis loh. Datang ya?” ajaknya.
“Dimana?” tanyaku.
“Di Sesetan.”
“Aku tidak tahu daerah Sesetan, Bli.”
“Ya, sudah. Besok aku tunggu jam delapan pagi, Mas.”
“Baiklah.”
Bli Made mengajari teknik melukis. Seharian aku menghabiskan untuk mencoba melukis. Kata Bli Made, aku ada bakat melukis. Aku mencoba melukis wajah saudaraku di Palestina. Aku mencoba melukis, seorang perempuan menggendong buah hatinya sedang memegang bambu rucing dan di ujung bambu runcing ada bendera kecil negara Palestina.
Sejam aku dibiarkan berkreasi oleh Bli Made.”Ini lukisan Mas Rifki ya?” tanya Bli Made dengan wajah kagum.
“Iya. Lukisannya jelek, Bli.”
“Saya tidak ngomong begitu, lho. Pasti harga lukisan Mas Rifki laku mahal di pameran lukisan besok.”
“Aku tidak ingin menjualnya, Bli.”
“Sayang, yah?”
“Kenapa?”
“Ah, sudahlah jangan dipikirkan. Besok jadi kan ikut ke pameran lukisan, Mas Rifki?”
“Iya.” Ujarku sambil naik keatas motor buntut Bli Made. Dan dia mengantarkanku kembali ke hotel sebab aku tidak tahu jalan menuju ke hotel. Pasti Papa dan Mama begitu mencemaskanku.
***
Bli Made mengenalkanku pada seniman se-Bali di kawasan Sesetan. Tanpa sepengetahuanku, lukisan yang aku lukis seadanya itu diikutsertakan dalam lomba lukisan se-Indonesia oleh Bli Made. Bli Made mendaftarkan lukisanku di meja panitia.
Aku berjalan menyusuri pameran lukisan yang penuh arti mendalam serta aku sulit membaca arti sesungguhnya pada lukisan yang di lukis oleh sang empunya. Lukisan itu beraneka ragam jenis lukisan. Mataku tak bisa menghafal, deretan mana lukisan yang menurutku paling bagus. Rata-rata lukisan itu bermakna dalam.
“Bagaimana Mas Rifki setelah melihat lukisan kali ini?” tanya Bli Made.
“Aku kagum, Bli. Untungnya Bli Made tidak memajang lukisanku di deretan seniman lukis kali ini.”
Bli Made tersenyum sambil mengajakku makan siang di warung lesehan. Di warung lesehan, aku banyak mendapat ilmu secara tidak langsung oleh Bli Made. Saat itu aku hanya bisa menjadi pendengar setianya saat Bli Made menjelma menjadi seorang guru seniman lukisan profesional siang itu.
Akhirnya kami kembali kembali ke pameran lukisan,”Sebentar lagi pengumuman lomba lukisan, lho.”
“Oh, ya?”
“Iya, Mas.”
“Wah, pasti juaranya memang seniman sejati.”
“Belum tentu, Mas Rifki.”
“Tahun lalu, juara pertama disambet seniman lukis yang baru terjun ke dunia seniman lukis.”
“Hem….”
Akhirnya, pengumuman dibacakan oleh juri diatas stage. Lampu mirip Diskotik beraneka ragam itu menyorot wajah juri yang membacakan juara harapan hingga juara ke dua. Aku tetap duduk berpaku. Memandangi wajah Bli Made yang terlihat panik. Kemungkinan besar, Bli Made cemas sebab namanya belum keluar sebagai juara.
“Bli, yang sabar ya?” aku menepuk pundak Bli Made perlahan.”Kalah menang sudah hal biasa dikompetisi bergengsi. Aku sering ikut lomba menulis selalu gagal. Dan kegagalan itulah aku mencoba untuk mengetahui sejauh mana tulisanku mendapat kritikan tajam.”
“Oh, ya?” jawab Bli Made dengan mata terbinar-binar. Aku menjelaskan kepada Bli Made bahwa aku lebih suka di dunia menulis dari pada dunia melukis. Untuk itulah, saat aku diperkenalkan kembali pada kanvas serta kuas oleh Bli Made, aku ingin mencoba melukiskan rasa kesedihanku teramat dalam.
Dan akhir-akhir ini, aku sering menyaksikan pemberitaan ataupun penderitaan saudara muslimku di Palestina sana. Ribuan mayat tidak berdosa bergelimpah bersimbah darah. Tunggu! Kenapa aku kemarin menggambarkan lukisan seorang ibu menggendong buah hati bersama bambu runcingnya? Persis didalam mimpiku berapa waktu lalu. Padahal, selama ini aku selalu berdebat sama Papa didepan layar televisi. Aku yang tidak hobi menonton dunia dalam berita, marah besar setiap kali aku menyaksikan drama sintetron tiap malam itu.
“Kapan kamu pandai, Rifki? Tontonan tidak mendidik yang kamu tonton tiap malam.” Ujar Papa mengganti channel televisi.
Maka, dunia dalam berita atau dunia mancanegara tidak luput Papa poloti. Bila Papa sudah berada didepan televisi, terpaksa penghuni rumah bisa diam.
“Rifki Pratama,seniman berasal dari Jawa Timur anda layak menjadi juara tahun ini.”
Riuh sorak pengunjung pameran lukisan begitu riuh. Aku tetap melamun. Dalam hatiku, aku akan melihat nama sang juara lukisan tahun ini yang diadalan di pulau Bali.
“Ananda Rifki Pratama dimohon untuk naik keatas stage sekarang,”
“Mas, naik keatas stage sana.” Perintah Bli Made.
“Naik keatas stage, Bli?” tanyaku merasa heran.
“Iya.”
“Lukisan seorang ibu menggendong buah hati dan memegang bambu rucing serta bendera negera Palestina berhak menyandang juara satu kali ini,”
“Aku?” tunjuk jemariku kearah diri ini yang merasa kebingungan.
“Iya. Nama Mas kan Rifki Pratama, bukan?”
“Iya.”
“Mas berasal dari Jawa Timur bukan?”
“Iya.”
“Lukisan seorang ibu menggendong buah hati dan memegang bambu rucing serta bendera negera Palestina berhak menyandang juara satu kali ini,” ujar Bli Made menirukan pembicaraan juri yang sedang mengumumkan juara satu lukisan tahun ini.
“Aku kan tidak merasa mengikuti lomba, Bli?”
“Lukisan Mas Rifki yang kemarin di lukis di ruang kerja saya, tanpa sepengetahuan Mas Rifki, saya mengirimkannya sebagai salah satu peserta lomba.” Bli Made menarik tanganku menuju stage.
Aku pun naik keatas stage dengan wajah kebingungan. Ucapan selamat bertubi-tubi menghampiriku. Aku mencoba untuk rileks diatas stage saat pembagian hadiah dilakukan oleh Bapak Gubenur .
***
“Rifki…” peluk Mama dikediaman Bli Made.
“Loh, Mama kok mengetahui aku berada di rumah Bli Made?” tanyaku sambil melepas pelukkan Mama.
“Selamat ya, Rifki…” ujar Papa memberikan ucapan selamat.
“Tuan Rifki jago melukis. Saat pulang ke rumah, Mas Rifki bisa melukis wajah Mbak Jijah yang cantik ini ya?”
“Selamat ya Tuan Rifki…” ujar Pak Amin.
“Mama tahu atas pemberitaan kamu di televisi.”
“Wah…anak Papa sekarang jadi pelukis, nih?”
“Pa, Ma, Mbak Jijah, Pak Amin, aku kaget saat namaku menjadi pemenang lukisan tahun ini yang diadakan di Bali. Padahal, niatan aku pergi ke pameran lukisan karena diajak Bli Made. Beliaulah yang mendaftarkan lukisanku tanpa sepengetahuan. Oh, ya, ini Bli Made.”
“Kasihku di atas kanvas kali ini akan aku sumbangkan untuk saudara kita di Palestina,” lanjutku.
“Hadiah uang tunai akan kamu sumbangkan ke Palestina, Nak?” ujar Mama mengelus rambut hitamku.
“Iya, Ma. Setelah berunding dengan Bli Made, beliau tidak keberatan hadiah uang tunainya akan aku sumbangkan.”
“Subhannallah, Nak…”
Suasana haru terukir di teras rumah Bli Made. Aku bak artis kondang diliput oleh stasiun televisi lokal dan luar negeri. Kali ini, liburanku diisi oleh kegembiraan. Allah telah mempertemukanku dengan Bli Made secara singkat. Melukis indahnya kanvas diatas kasihku yang benar-benar membutuhkannya. Meski aku tidak menyumbangkan tenaga untuk membela saudaraku, namun hanya sebait doa yang akan aku sumbangkan untukmu, saudara-saudaraku nan jauh disana.
***
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//google4332e1d0e6fde94e.html
Selasa, 17 Januari 2012
kilauan cahaya yang menghangatkan
Terminal Cicaheum di timur selalu ramai dengan berbagai aktivitas. Begitu juga dengan sore itu, Rabu, 3 Juni 2010. Bus Budiman jurusan Wonosobo yang saya dan teman-teman akan naiki telah siap sejak pukul 16.30, padahal baru akan berangkat selepas maghrib. Karena tidak mau kekehabisan tempat duduk, kami segera masuk dan mencari tempat yang nyaman. Tas ransel yang penuh dengan makanan dan baju ganti kami simpan di dekat kaki, tak ingin hal yang buruk terjadi. Saya mendapat tambahan barang, sebuah tas kain yang penuh dengan buku-buku hasil sumbangan teman-teman di Bandung untuk Abdurrahman Ghifari, teman kami di Semarang.
Saya, Bima Abdul Rahman, dan Hafy Zaindini akan melakukan sebuah perjalanan yang cukup melelahkan ke Wonosobo, Dieng, Semarang, dan Jogjakarta. Perjalanan ini akan kami tempuh dalam waktu kurang lebih 6 hari, dengan budget sekitar 400-500 ribu. Ceritanya, kami sedang mengisi liburan dengan backpacking kecil-kecilan.
Tak banyak cerita yang didapat selama perjalanan hampir 9 jam dari Bandung ke Wonosobo. Hmm, hanya saja, buat yang ingin berpergian naik bis, jangan lupa untuk siapkan mental menghadapi pedagang-pedagang asongan yang sedikit memaksa. Jika tidak kuat mental, hasilnya akan seperti orang yang duduk di sebelah kursi saya dan Bima. Hampir semua makanan yang ditawarkan oleh pedagang asongan dia beli. Mulai dari donat, gorengan, bahkan dodol dia beli. Saya sih hanya tertipu satu kali. Ada pedagang asongan yang menawarkan sekotak donat yang isinya 6 donat, tiga di bagian atas, tiga di bagian bawah kotak. Tampilannya sih bagus, harganya juga murah, tapi rasanya….hhahahaha, ga enak banget! Ternyata, tampilan yang bagus hanya bagian atasnya saja. Tiga donat di bagian bawah hanya ditaburi meses seadanya.
Selain itu, saya sarankan untuk menghabiskan dulu ampas makanan yang ada di perut (^_^, soalnya, waktu istirahat di Tasik, si Hafy hampir ditinggal bus karena sibuk mengurus perut di WC..:p)
Jam 3 subuh, bus yang kami tumpangi sampai di Wonosobo. Saya cukup kagum dengan sepinya terminal Mendolo di kota ini. Sepertinya, terminal ini masih cukup baru. Tidak seperti Cicaheum atau Leuwipanjang di Bandung, terminal ini tertata sangat rapi. Ada kantin yang berjajar rapi, mushola yang cukup nyaman, dan berbagai kios agen yang menyediakan jasa bus antar kota. Dari pintu gerbang sampai bangunan wc, semuanya tampak baru dan masih terjaga dengan baik.
Terminal Mendolo di Pagi Hari
Karena tidak tahu harus kemana lagi, kami pergi menuju mushola terminal untuk beristrirahat (musholanya ga ada lampunya, jadi kami bergelap-gelap ria di sana). Setelah sholat subuh di mesjid terdekat (di mushola terminal ga ada air untuk wudhu..), kami mulai berburu sarapan. Udara di Wonosobo cukup mirip dengan Bandung, jadi kami merasa nyaman untuk berjalan-jalan. Kami kembali lagi ke terminal, sekalian mencari informasi transportasi ke Dieng.
Ternyata, terminal Mendolo di pagi hari tidak jauh berbeda dengan saat kami datang jam 3 pagi. Suasananya tetap lengang, tidak banyak aktivitas seperti di Bandung. Yah, ini mungkin akan mengurangi tingkat kriminalitas. Dari terminal Mendolo, kami naik sebuah minibus sampai ke kota (Mendolo ada di pinggiran kota). Perjalanan yang menyenangkan saat saya melintas dan melihat kota Wonosobo di pagi hari. Supir bus yang saya tumpangi pun sangat ramah (padahal wajahnya sangar). Dia mengajak saya ngobrol, membandingkan kota besar Bandung yang ramai dengan Wonosobo yang kecil tapi menyenangkan. Dari pusat kota, kami harus naik lagi minibus yang langsung menuju Dieng.
Tidak rugi saya membayar ongkos sepuluh ribu (walau pada akhirnya sedikit nyesel) dari Wonosobo ke Dieng karena sepanjang perjalanan kami disuguhi berbagai pemandangan menakjubkan. Gunung-gunung tinggi Plato Dieng kami lewati satu per satu. Suasana pedesaan masih sangat terlihat jelas. Apalagi itu saat pagi hari, saat semua orang baru memulai aktivitasnya. Semua orang di bus tampak saling menyapa dan mengenal satu sama lain, pemandangan yang akan sangat jarang terlihat di kota-kota besar. Saat melewati sebuah jurang di tempat yang sudah lumayan tinggi, tampak di kejauhan bahwa ada awan yang berada di bawah kita. Yup, ternyata negeri di atas awan itu ada.
Pemandangan dari Bus
Perjalanan satu jam itu sangat menyenangkan. Jam 9 pagi, kami sampai di wilayah wisata Dieng. Saat sedang melihat-lihat peta wisata, kami didatangi oleh seorang tukang ojek yang menawarkan jasanya untuk mengantar kami berkeliling-keliling ke setiap tempat wisata. Memang, Plato Dieng memiliki lebih dari sepuluh tempat wisata. Tetapi, karena harga yang ditawarkan SANGAT mahal, yaitu 50 ribu per orang, kami lebih memilih untuk jalan kaki saja, dengan resiko cape..(jarak antara tempat wisata bisa sampai 5 km). Hmm, dengan pikiran bahwa kami adalah backpacker yang kuat (^^), kami mengambil resiko itu.
Plato atau Dataran Tinggi Dieng mempunyai udara yang menurut saya khas. Saat matahari mulai meninggi, suasana cukup panas terasa di kulit. Tetapi, angin berhembus dengan membawa udara dingin yang menyejukkan. Jadinya, perpaduan antara udara dingin dan panas itulah yang menurut saya sangat khas. Berbeda dengan di Lembang yang memang sudah dingin dari sananya.
Peta Wisata Dieng
Berbagai peta petunjuk yang ditempel di berbagai sudut jalan memudahkan para wisatawan untuk menuju tempat wisata yang diinginkannya. Selain itu, wisatawan juga bisa bertanya arah ke penduduk sekitar. Mereka pasti akan menjawab dengan sangat ramah. Bagi yang ingin menghabiskan malam di Dieng, banyak juga penginapan-penginapan yang disediakan, dengan interval harga yang menurut saya cukup terjangkau.
Si Tampan
Saya dan teman-teman memilih untuk menuju ke kompleks Candi Arjuna terlebih dahulu, karena jaraknya paling dekat dari tempat kami datang. Dengan berjalan kaki sedikit, sekitar 300 meter, Candi Arjuna mulai tampak di depan mata. Setelah membeli tiket seharga 6 ribu (tiket berlaku untuk semua tempat wisata berupa candi, kawah, dan telaga, kecuali Telaga Warna), kami masuk ke dalam kompleks candi.
Yang sangat menakjubkan, kompleks candi itu tertata sangat baik. Jalan di sekitar candi tampak sangat bersih dan di sekitarnya ditumbuhi berbagai tanaman dan bunga yang cukup indah. Kompleks Candi Arjuna berada di tengah ladang masyarakat, sehingga kami dapat melihat para petani yang sedang merawat ladangnya. Candi Arjuna beralaskan pasir, seperti candi Prambanan di Solo. Candi Hindu ini memiliki beberapa candi utama (saya ga ngerti masalah percandian, jadi deskripsinya cukup sampai di sini). Mungkin karena hari itu bukan hari libur dan hari masih pagi, wisatawan yang ada di kompleks cankdi itu hanya kami bertiga. Kami pun puas melihat-lihat dan berfoto di sana, dilatarbelakangi lanskap candi, suasana pedesaan, dan langit yang biru terbentang.
Kompleks Candi Arjuna
Dari Candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Jalan yang kami lalui sungguh tertata sangat rapi, dipenuhi dengan tanaman dan bunga yang tampak mekar. Beberapa menit berjalan, kami bertemu dengan Candi Gatot Kaca. Candi ini tidak terlalu besar dan menarik perhatian. Hanya saja, candi ini terletak di ketinggian, sehingga kami dapat melihat hamparan padang hijau yang membentang di bawahnya.
Candi Bima menjadi candi berikutnya yang kami kunjungi. Kompleks candi ini hanya berisi satu candi saja, itu pun tidak terlalu besar. Hanya saja, kompleks candi dibuat menyerupai taman yang indah, sehingga kami betah berlama-lama di sana. Di belakang Candi Bima, kami beristirahat dan menyantap sajian snack sederhana, sisa bekal yang kami bawa dari Bandung.
Perjalanan kami lanjutkan ke arah barat, mencari Kawah Sikidang. Lima belas menit berjalan dari Candi Bima, dengan jalanan yang teduh dan banyak pepohonan, kami sampai di Kawah Sikidang. Bau belerang yang menyengat menyambut dengan mesra. Setelah beristirahat sejenak di sebuah ‘saung’, kami mulai berjalan ke arah bau yang paling menyengat, yaitu kawah. Mengapa Sikidang? Kata referensi yang saya baca, air-air belerang yang bertebaran di kompleks kawah suka meloncat-loncat karena suhu yang sangat panas. Oleh karena itu, dinamakanlah kawah ini kawah Sikidang (berasal dari Si Kijang kayaknya).
Kawah Sikidang
Kawah Sikidang merupakan sebuah kompleks kawah yang mempunyai banyak lekukan-lekukan yang berisi air belerang. Kawah utamanya berada di tempat yang cukup tinggi, sehingga harus melalui jalan yang menaik. Kawah utama itu berupa kolah berdiameter sekitar 10-15 meter yang berisi air belerang berwarna kelabu, terus bergelegak, mengeluarkan asap putih, dan berbau belerang yang sangat menyengat. Tidak ada sisi indahnya sama sekali, tapi saya sangat mengagumi fenomena alam ini. Hanya saja, sayang saya tidak melihat air belerang yang berlompatan seperti namanya.
Di Depan Kawah Sikidang
Setelah puas berfoto ria di sekitar kawah, kami bertiga beristirahat di sebuah warung. Kami pun berbincang-bincang sebentar dengan ibu penjaga warung tersebut. Memang benar, warga desa sangat ramah dan jujur. Bahkan, beliau mendoakan kami segala. Saat akan berpisah, beliau berkata, “Beberapa tahun lagi, saat kalian sudah sukses, dateng lagi ke sini yaa. Ibu akan tetap disini kok. Oh iya, bawa juga istri masing masing..”
Perjalanan kami lanjutkan. Kami kembali ke arah Candi Bima, melewatinya, lalu berjalan ke arah timur. Kali ini, kami menuju Telaga Warna. Menurut ibu penjaga warung di Kawah Sikidang, perjalanan ke sana sekitar satu kilometer. Udara yang sangat panas sempat membuat kami berpikir untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek. Akan tetapi, mengingat bahwa keuangan kami terbatas, pikiran itu ditepis jauh-jauh.
Si Tampan di Telaga Warna
Perjalanan ke Telaga Warna tidak semenyenangkan sebelumnya. Jika perjalanan ke Kawah Sikidang melalui jalanan teduh yang indah, perjalanan ke Telaga Warna dipenuhi rumah penduduk dan jarang pepohonan, membuat udara semakin terasa panas. Akan tetapi, saat melihat bahwa Telaga Warna telah di depan mata, rasa capek hilang begitu saja. Ternyata, untuk masuk ke Telaga, kami harus membayar lagi seharga lima ribu rupiah.
Telaga Warna adalah telaga yang memiliki kandungan belerang yang cukup tinggi, mirip seperti Kawah Putih di Bandung Selatan. Seperti namanya, te;aga ini mempunyai beberapa warna, yaitu biru muda, ungu, hijau, bahkan coklat. Telaga ini dikelilingi oleh hutan kecil, membuat udaranya cukup menyenangkan dan enak untuk dibuat tempat istirahat. Selain itu, di sekitar telaga ini ada tempat wisata yang lain, yaitu gua. Akan tetapi, gua-gua itu tidak dapat dimasuki, entah karena berbahaya, entah karena ada kekuatan mistisnya. Kami hanya bisa melihat-lihat dan berfoto di depannya saja.
Si Tampan dan Semar
Ada sebuah cerita menarik dan menyebalkan saat kami berjalan-jalan di sekitar gua-gua di Telaga Warna. Saat itu, kami sedang akan berfodto di depan patung Gajah Mada yang ada di depan salah satu gua. Kami bertemu dengan seorang ibu-ibu berpenampilan nyentrik : baju panjang merah seperti daster yang terbuat dari bahan bulu, jas warna abu-abu, dan rambut yang dicat merah. Ia mengaku sebagai guide dan supranaturalis di Telaga Warna. Dia mengajak kami ngobrol seputar Telaga Warna dan Dieng. Dia pun mulai meramal-ramal masa depan kami. Saya sih tidak terlalu menanggapi. Dalam Islam kan tidak boleh memercayai kata-kata peramal. Dia juga menunjukkan keanehan-keanehan gaib di Telaga Warna. Karena saya cuek dan menunjukkan wajah tidak begitu senang, ibu itu jarang mengajak ngobrol saya. Dia lebih banyak berbicara kepada Hafy dan Bima. Saat hendak menyalami saya pun, saya hanya meletakkan tangan di depan dada, menandakan saya tidak mau. Setelah berbicara panjang lebar tentang ramalan dan hal gaib, dia pun meminta sumbangan sukarela dari kami (-_-). Sudah saya duga sebelumnya….
Foto di Dekat Patung Gajah Mada (Katanya, di belakang kepala Hafy-tengah-ada sesosok bayangan perempuan..iya kah?)
Setelah bebas dari ibu-ibu itu, kami pun keluar dari kompleks Telaga Warna dengan sedikit terburu-buru, malas bertemu dia lagi. Apalagi, adzan dzuhur sudah berkumandang. Kami menyusuri jalan raya lagi, menuju tempat kami tiba beberapa jam lalu. Ternyata, jalan yang kami lalui saat melewati tempat wisata hanya memutar, membentuk sebuah lingkaran, sehingga kami tidak perlu balik lagi menyusuri jalan yang pernah kami lewati. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, kami sampai di tempat awal dan shalat dzuhur di mesjid terdekat.
Perut sudah berbunyi, lapar, menanti makan siang. Alhamdulillah, di dekat situ ada sebuah warung makan. Setelah makan nasi goreng yang rasanya cukup aneh (nasi gorengnya dicampur mie, dan ayam dari mie ayam), kami kembali naik bis, menuju Wonosobo. (bersambung…)
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/3262/submission/review/3262-3593-1-RV.docx
Saya, Bima Abdul Rahman, dan Hafy Zaindini akan melakukan sebuah perjalanan yang cukup melelahkan ke Wonosobo, Dieng, Semarang, dan Jogjakarta. Perjalanan ini akan kami tempuh dalam waktu kurang lebih 6 hari, dengan budget sekitar 400-500 ribu. Ceritanya, kami sedang mengisi liburan dengan backpacking kecil-kecilan.
Tak banyak cerita yang didapat selama perjalanan hampir 9 jam dari Bandung ke Wonosobo. Hmm, hanya saja, buat yang ingin berpergian naik bis, jangan lupa untuk siapkan mental menghadapi pedagang-pedagang asongan yang sedikit memaksa. Jika tidak kuat mental, hasilnya akan seperti orang yang duduk di sebelah kursi saya dan Bima. Hampir semua makanan yang ditawarkan oleh pedagang asongan dia beli. Mulai dari donat, gorengan, bahkan dodol dia beli. Saya sih hanya tertipu satu kali. Ada pedagang asongan yang menawarkan sekotak donat yang isinya 6 donat, tiga di bagian atas, tiga di bagian bawah kotak. Tampilannya sih bagus, harganya juga murah, tapi rasanya….hhahahaha, ga enak banget! Ternyata, tampilan yang bagus hanya bagian atasnya saja. Tiga donat di bagian bawah hanya ditaburi meses seadanya.
Selain itu, saya sarankan untuk menghabiskan dulu ampas makanan yang ada di perut (^_^, soalnya, waktu istirahat di Tasik, si Hafy hampir ditinggal bus karena sibuk mengurus perut di WC..:p)
Jam 3 subuh, bus yang kami tumpangi sampai di Wonosobo. Saya cukup kagum dengan sepinya terminal Mendolo di kota ini. Sepertinya, terminal ini masih cukup baru. Tidak seperti Cicaheum atau Leuwipanjang di Bandung, terminal ini tertata sangat rapi. Ada kantin yang berjajar rapi, mushola yang cukup nyaman, dan berbagai kios agen yang menyediakan jasa bus antar kota. Dari pintu gerbang sampai bangunan wc, semuanya tampak baru dan masih terjaga dengan baik.
Terminal Mendolo di Pagi Hari
Karena tidak tahu harus kemana lagi, kami pergi menuju mushola terminal untuk beristrirahat (musholanya ga ada lampunya, jadi kami bergelap-gelap ria di sana). Setelah sholat subuh di mesjid terdekat (di mushola terminal ga ada air untuk wudhu..), kami mulai berburu sarapan. Udara di Wonosobo cukup mirip dengan Bandung, jadi kami merasa nyaman untuk berjalan-jalan. Kami kembali lagi ke terminal, sekalian mencari informasi transportasi ke Dieng.
Ternyata, terminal Mendolo di pagi hari tidak jauh berbeda dengan saat kami datang jam 3 pagi. Suasananya tetap lengang, tidak banyak aktivitas seperti di Bandung. Yah, ini mungkin akan mengurangi tingkat kriminalitas. Dari terminal Mendolo, kami naik sebuah minibus sampai ke kota (Mendolo ada di pinggiran kota). Perjalanan yang menyenangkan saat saya melintas dan melihat kota Wonosobo di pagi hari. Supir bus yang saya tumpangi pun sangat ramah (padahal wajahnya sangar). Dia mengajak saya ngobrol, membandingkan kota besar Bandung yang ramai dengan Wonosobo yang kecil tapi menyenangkan. Dari pusat kota, kami harus naik lagi minibus yang langsung menuju Dieng.
Tidak rugi saya membayar ongkos sepuluh ribu (walau pada akhirnya sedikit nyesel) dari Wonosobo ke Dieng karena sepanjang perjalanan kami disuguhi berbagai pemandangan menakjubkan. Gunung-gunung tinggi Plato Dieng kami lewati satu per satu. Suasana pedesaan masih sangat terlihat jelas. Apalagi itu saat pagi hari, saat semua orang baru memulai aktivitasnya. Semua orang di bus tampak saling menyapa dan mengenal satu sama lain, pemandangan yang akan sangat jarang terlihat di kota-kota besar. Saat melewati sebuah jurang di tempat yang sudah lumayan tinggi, tampak di kejauhan bahwa ada awan yang berada di bawah kita. Yup, ternyata negeri di atas awan itu ada.
Pemandangan dari Bus
Perjalanan satu jam itu sangat menyenangkan. Jam 9 pagi, kami sampai di wilayah wisata Dieng. Saat sedang melihat-lihat peta wisata, kami didatangi oleh seorang tukang ojek yang menawarkan jasanya untuk mengantar kami berkeliling-keliling ke setiap tempat wisata. Memang, Plato Dieng memiliki lebih dari sepuluh tempat wisata. Tetapi, karena harga yang ditawarkan SANGAT mahal, yaitu 50 ribu per orang, kami lebih memilih untuk jalan kaki saja, dengan resiko cape..(jarak antara tempat wisata bisa sampai 5 km). Hmm, dengan pikiran bahwa kami adalah backpacker yang kuat (^^), kami mengambil resiko itu.
Plato atau Dataran Tinggi Dieng mempunyai udara yang menurut saya khas. Saat matahari mulai meninggi, suasana cukup panas terasa di kulit. Tetapi, angin berhembus dengan membawa udara dingin yang menyejukkan. Jadinya, perpaduan antara udara dingin dan panas itulah yang menurut saya sangat khas. Berbeda dengan di Lembang yang memang sudah dingin dari sananya.
Peta Wisata Dieng
Berbagai peta petunjuk yang ditempel di berbagai sudut jalan memudahkan para wisatawan untuk menuju tempat wisata yang diinginkannya. Selain itu, wisatawan juga bisa bertanya arah ke penduduk sekitar. Mereka pasti akan menjawab dengan sangat ramah. Bagi yang ingin menghabiskan malam di Dieng, banyak juga penginapan-penginapan yang disediakan, dengan interval harga yang menurut saya cukup terjangkau.
Si Tampan
Saya dan teman-teman memilih untuk menuju ke kompleks Candi Arjuna terlebih dahulu, karena jaraknya paling dekat dari tempat kami datang. Dengan berjalan kaki sedikit, sekitar 300 meter, Candi Arjuna mulai tampak di depan mata. Setelah membeli tiket seharga 6 ribu (tiket berlaku untuk semua tempat wisata berupa candi, kawah, dan telaga, kecuali Telaga Warna), kami masuk ke dalam kompleks candi.
Yang sangat menakjubkan, kompleks candi itu tertata sangat baik. Jalan di sekitar candi tampak sangat bersih dan di sekitarnya ditumbuhi berbagai tanaman dan bunga yang cukup indah. Kompleks Candi Arjuna berada di tengah ladang masyarakat, sehingga kami dapat melihat para petani yang sedang merawat ladangnya. Candi Arjuna beralaskan pasir, seperti candi Prambanan di Solo. Candi Hindu ini memiliki beberapa candi utama (saya ga ngerti masalah percandian, jadi deskripsinya cukup sampai di sini). Mungkin karena hari itu bukan hari libur dan hari masih pagi, wisatawan yang ada di kompleks cankdi itu hanya kami bertiga. Kami pun puas melihat-lihat dan berfoto di sana, dilatarbelakangi lanskap candi, suasana pedesaan, dan langit yang biru terbentang.
Kompleks Candi Arjuna
Dari Candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Jalan yang kami lalui sungguh tertata sangat rapi, dipenuhi dengan tanaman dan bunga yang tampak mekar. Beberapa menit berjalan, kami bertemu dengan Candi Gatot Kaca. Candi ini tidak terlalu besar dan menarik perhatian. Hanya saja, candi ini terletak di ketinggian, sehingga kami dapat melihat hamparan padang hijau yang membentang di bawahnya.
Candi Bima menjadi candi berikutnya yang kami kunjungi. Kompleks candi ini hanya berisi satu candi saja, itu pun tidak terlalu besar. Hanya saja, kompleks candi dibuat menyerupai taman yang indah, sehingga kami betah berlama-lama di sana. Di belakang Candi Bima, kami beristirahat dan menyantap sajian snack sederhana, sisa bekal yang kami bawa dari Bandung.
Perjalanan kami lanjutkan ke arah barat, mencari Kawah Sikidang. Lima belas menit berjalan dari Candi Bima, dengan jalanan yang teduh dan banyak pepohonan, kami sampai di Kawah Sikidang. Bau belerang yang menyengat menyambut dengan mesra. Setelah beristirahat sejenak di sebuah ‘saung’, kami mulai berjalan ke arah bau yang paling menyengat, yaitu kawah. Mengapa Sikidang? Kata referensi yang saya baca, air-air belerang yang bertebaran di kompleks kawah suka meloncat-loncat karena suhu yang sangat panas. Oleh karena itu, dinamakanlah kawah ini kawah Sikidang (berasal dari Si Kijang kayaknya).
Kawah Sikidang
Kawah Sikidang merupakan sebuah kompleks kawah yang mempunyai banyak lekukan-lekukan yang berisi air belerang. Kawah utamanya berada di tempat yang cukup tinggi, sehingga harus melalui jalan yang menaik. Kawah utama itu berupa kolah berdiameter sekitar 10-15 meter yang berisi air belerang berwarna kelabu, terus bergelegak, mengeluarkan asap putih, dan berbau belerang yang sangat menyengat. Tidak ada sisi indahnya sama sekali, tapi saya sangat mengagumi fenomena alam ini. Hanya saja, sayang saya tidak melihat air belerang yang berlompatan seperti namanya.
Di Depan Kawah Sikidang
Setelah puas berfoto ria di sekitar kawah, kami bertiga beristirahat di sebuah warung. Kami pun berbincang-bincang sebentar dengan ibu penjaga warung tersebut. Memang benar, warga desa sangat ramah dan jujur. Bahkan, beliau mendoakan kami segala. Saat akan berpisah, beliau berkata, “Beberapa tahun lagi, saat kalian sudah sukses, dateng lagi ke sini yaa. Ibu akan tetap disini kok. Oh iya, bawa juga istri masing masing..”
Perjalanan kami lanjutkan. Kami kembali ke arah Candi Bima, melewatinya, lalu berjalan ke arah timur. Kali ini, kami menuju Telaga Warna. Menurut ibu penjaga warung di Kawah Sikidang, perjalanan ke sana sekitar satu kilometer. Udara yang sangat panas sempat membuat kami berpikir untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek. Akan tetapi, mengingat bahwa keuangan kami terbatas, pikiran itu ditepis jauh-jauh.
Si Tampan di Telaga Warna
Perjalanan ke Telaga Warna tidak semenyenangkan sebelumnya. Jika perjalanan ke Kawah Sikidang melalui jalanan teduh yang indah, perjalanan ke Telaga Warna dipenuhi rumah penduduk dan jarang pepohonan, membuat udara semakin terasa panas. Akan tetapi, saat melihat bahwa Telaga Warna telah di depan mata, rasa capek hilang begitu saja. Ternyata, untuk masuk ke Telaga, kami harus membayar lagi seharga lima ribu rupiah.
Telaga Warna adalah telaga yang memiliki kandungan belerang yang cukup tinggi, mirip seperti Kawah Putih di Bandung Selatan. Seperti namanya, te;aga ini mempunyai beberapa warna, yaitu biru muda, ungu, hijau, bahkan coklat. Telaga ini dikelilingi oleh hutan kecil, membuat udaranya cukup menyenangkan dan enak untuk dibuat tempat istirahat. Selain itu, di sekitar telaga ini ada tempat wisata yang lain, yaitu gua. Akan tetapi, gua-gua itu tidak dapat dimasuki, entah karena berbahaya, entah karena ada kekuatan mistisnya. Kami hanya bisa melihat-lihat dan berfoto di depannya saja.
Si Tampan dan Semar
Ada sebuah cerita menarik dan menyebalkan saat kami berjalan-jalan di sekitar gua-gua di Telaga Warna. Saat itu, kami sedang akan berfodto di depan patung Gajah Mada yang ada di depan salah satu gua. Kami bertemu dengan seorang ibu-ibu berpenampilan nyentrik : baju panjang merah seperti daster yang terbuat dari bahan bulu, jas warna abu-abu, dan rambut yang dicat merah. Ia mengaku sebagai guide dan supranaturalis di Telaga Warna. Dia mengajak kami ngobrol seputar Telaga Warna dan Dieng. Dia pun mulai meramal-ramal masa depan kami. Saya sih tidak terlalu menanggapi. Dalam Islam kan tidak boleh memercayai kata-kata peramal. Dia juga menunjukkan keanehan-keanehan gaib di Telaga Warna. Karena saya cuek dan menunjukkan wajah tidak begitu senang, ibu itu jarang mengajak ngobrol saya. Dia lebih banyak berbicara kepada Hafy dan Bima. Saat hendak menyalami saya pun, saya hanya meletakkan tangan di depan dada, menandakan saya tidak mau. Setelah berbicara panjang lebar tentang ramalan dan hal gaib, dia pun meminta sumbangan sukarela dari kami (-_-). Sudah saya duga sebelumnya….
Foto di Dekat Patung Gajah Mada (Katanya, di belakang kepala Hafy-tengah-ada sesosok bayangan perempuan..iya kah?)
Setelah bebas dari ibu-ibu itu, kami pun keluar dari kompleks Telaga Warna dengan sedikit terburu-buru, malas bertemu dia lagi. Apalagi, adzan dzuhur sudah berkumandang. Kami menyusuri jalan raya lagi, menuju tempat kami tiba beberapa jam lalu. Ternyata, jalan yang kami lalui saat melewati tempat wisata hanya memutar, membentuk sebuah lingkaran, sehingga kami tidak perlu balik lagi menyusuri jalan yang pernah kami lewati. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, kami sampai di tempat awal dan shalat dzuhur di mesjid terdekat.
Perut sudah berbunyi, lapar, menanti makan siang. Alhamdulillah, di dekat situ ada sebuah warung makan. Setelah makan nasi goreng yang rasanya cukup aneh (nasi gorengnya dicampur mie, dan ayam dari mie ayam), kami kembali naik bis, menuju Wonosobo. (bersambung…)
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/3262/submission/review/3262-3593-1-RV.docx
pleser ala nyonya dan meneer
Pada awal abad ke-19, sejumlah ahli geologi Belanda yang tinggal di Yogyakarta, bermaksud mencari tempat peristirahatan bagi keluarganya. Mereka menyusuri kawasan utara yang merupakan dataran tinggi. Sesampainya di Kaliurang yang berada di ketinggian 900 meter dari permukaan laut, para "meneer" tersebut terpesona dengan keindahan dan kesejukan alam di kaki gunung itu. Mereka akhirnya membangun bungalow-bungalow dan memutuskan kawasan itu sebagai tempat peristirahatan mereka.
Perjalanan menuju kaliurang dari arah Jogja akan mengingatkan kita pada lukisan pemandangan saat masih di taman kanak-kanak. Sebuah gunung dengan jalan di tengahnya serta hamparan hijau yang membentang di kedua sisinya dihiasi dengan rumah penduduk, akan menghilangkan penat dalam bingkai lukisan alam.
Diselimuti angin yang berhembus sejuk, bahkan di saat mentari tepat di atas kepala, kesejukan itu masih terasa. Udara yang menari melewati pepohonan dan turun dengan gemulai, memberi rasa segar ketika menerpa tubuh.
Pemandangan Gunung Merapi memberi sensasi tersendiri di kawasan ini. Bagaikan seorang gadis desa yang menutup tabirnya bila sengaja diperhatikan, gunung ini akan tertutup kabut seolah malu bila sengaja datang untuk melihatnya.
Menyusur sisi barat Bukit Plawangan sejauh 1100 meter, menempuh perjalanan lintas alam, melalui jalan tanah yang diapit pepohonan dan lereng rimbun, deretan 22 gua peninggalan Jepang menjadi salah satu keunikan wisata alam Kaliurang.
Di samping keindahan alamnya, Kaliurang juga mempunyai beberapa bangunan peninggalan sejarah. Diantaranya adalah Wisma Kaliurang dan Pesangrahan Dalem Ngeksigondo milik Kraton yang pernah dipakai sebagai tempat berlangsungnya Komisi Tiga Negara. Atau Museum Ullen Sentalu yang sebagian bangunannya berada di bawah tanah. Museum ini menguak misteri kebudayaan dan nilai-nilai sejarah Jawa, terutama yang berhubungan dengan putri Kraton Yogyakarta dan Surakarta pada abad ke-19.
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/3262/submission/original/3262-3592-1-SM.docx
Perjalanan menuju kaliurang dari arah Jogja akan mengingatkan kita pada lukisan pemandangan saat masih di taman kanak-kanak. Sebuah gunung dengan jalan di tengahnya serta hamparan hijau yang membentang di kedua sisinya dihiasi dengan rumah penduduk, akan menghilangkan penat dalam bingkai lukisan alam.
Diselimuti angin yang berhembus sejuk, bahkan di saat mentari tepat di atas kepala, kesejukan itu masih terasa. Udara yang menari melewati pepohonan dan turun dengan gemulai, memberi rasa segar ketika menerpa tubuh.
Pemandangan Gunung Merapi memberi sensasi tersendiri di kawasan ini. Bagaikan seorang gadis desa yang menutup tabirnya bila sengaja diperhatikan, gunung ini akan tertutup kabut seolah malu bila sengaja datang untuk melihatnya.
Menyusur sisi barat Bukit Plawangan sejauh 1100 meter, menempuh perjalanan lintas alam, melalui jalan tanah yang diapit pepohonan dan lereng rimbun, deretan 22 gua peninggalan Jepang menjadi salah satu keunikan wisata alam Kaliurang.
Di samping keindahan alamnya, Kaliurang juga mempunyai beberapa bangunan peninggalan sejarah. Diantaranya adalah Wisma Kaliurang dan Pesangrahan Dalem Ngeksigondo milik Kraton yang pernah dipakai sebagai tempat berlangsungnya Komisi Tiga Negara. Atau Museum Ullen Sentalu yang sebagian bangunannya berada di bawah tanah. Museum ini menguak misteri kebudayaan dan nilai-nilai sejarah Jawa, terutama yang berhubungan dengan putri Kraton Yogyakarta dan Surakarta pada abad ke-19.
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/3262/submission/original/3262-3592-1-SM.docx
Senin, 16 Januari 2012
gunung soleram
Foto ini diambil 6 tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku SMA. Nampaklah di sana fotoku yang masih imut dan lucu. Sampai saat ini masih kusimpan jilbab putih dan jaket hijau itu, hehe. Ah, ternyata sudah lama..
Foto ini berlokasi di Gunung Merbabu. Dan bendera merah-putih itu adalah bendera sispala di SMA-ku, Starcrusher (STR) namanya. Benar-benar my very first mountain climbing. Pertama kali dolan neng gunung!
Dan selama pendakian itu, hanya ada beberapa scene yang kuingat.
Scene pertama yang kuingat adalah ketika day-pack adik angkatanku jebol dan harus dijahit. Untung ada yang membawa jarum dan benang. Dari situ aku baru tahu bahwa jarum dan benang adalah peralatan yang harus dibawa ketika beraktifitas di alam bebas. (adalah mungkin karena aku tak pernah memperhatikan ketika senior memberi materi,, ataukah mungkin…?).
Scene kedua yang kuingat adalah ketika kami ngecamp. Ngecamp kali itu begitu mengesankan dan tak terlupakan. Entah disengaja atau tidak, malam itu kami tidur tanpa dome dan tanpa matras. Kukira hal seperti itu wajar, kala itu. Kami juga tak membawa sleeping bag, karena saat itu aku belum tau bahwa ada benda hangat yang disebut ‘sleeping bag’. Jadinya, kami beristirahat tanpa penahan angin apapun, kecuali baju dan jaket pastinya. Kini aku bersyukur bahwa saat itu tidak turun hujan, bahwa saat itu adalah musim kemarau. Apa jadinya kalau…?
Kami melepas lelah dan berbagi cerita di bawah langit yang terang, di dalam hembusan angin dingin, di tengah hutan, di atas dinginnya tanah gunung, dan di depan api unggun. Lama-lama kami mengantuk. Satu persatu dari kami mulai menata posisi senyaman dan sehangat mungkin untuk terlelap. Ada yang memasukkan kakinya ke dalam daypack, ada yang menekuk badannya sedemikian rupa, ada yang saling peluk, sedangkan aku menutup kakiku dengan mukena *hehe.
Api unggun masih menemani kami dalam hening malam itu, menghantarkan tidur kami. Begitu juga hembusan angin itu menyelimuti kami dengan tenangnya. Dan, aaaaaaahhhhhhh… Aku tak bisa tidur! Baru aku tau, ternyata gunung itu dingin!
Dan, blaarrr!! Hanya itu saja memori yang terekam. Namun, tak kusangka, mulai saat itu aku selalu merindukan suasana di gunung beserta dingin angin malamnya. Tak kusangka, mulai saat itu aku selalu ingin ke gunung..
Itu adalah malam pertamaku tidur di alam bebas, sebebas-bebasnya. Pertama kalinya aku menatap langit dari dalam hutan. Memandang kelip bintang dalam intaian bulan. Merinding di dalam dingin, dan terlelap dalap pekat malam. Hhhmmm… Ternyata aku menyukainya.
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/3262/public/3262-3613-1-PB.pdf
Foto ini berlokasi di Gunung Merbabu. Dan bendera merah-putih itu adalah bendera sispala di SMA-ku, Starcrusher (STR) namanya. Benar-benar my very first mountain climbing. Pertama kali dolan neng gunung!
Dan selama pendakian itu, hanya ada beberapa scene yang kuingat.
Scene pertama yang kuingat adalah ketika day-pack adik angkatanku jebol dan harus dijahit. Untung ada yang membawa jarum dan benang. Dari situ aku baru tahu bahwa jarum dan benang adalah peralatan yang harus dibawa ketika beraktifitas di alam bebas. (adalah mungkin karena aku tak pernah memperhatikan ketika senior memberi materi,, ataukah mungkin…?).
Scene kedua yang kuingat adalah ketika kami ngecamp. Ngecamp kali itu begitu mengesankan dan tak terlupakan. Entah disengaja atau tidak, malam itu kami tidur tanpa dome dan tanpa matras. Kukira hal seperti itu wajar, kala itu. Kami juga tak membawa sleeping bag, karena saat itu aku belum tau bahwa ada benda hangat yang disebut ‘sleeping bag’. Jadinya, kami beristirahat tanpa penahan angin apapun, kecuali baju dan jaket pastinya. Kini aku bersyukur bahwa saat itu tidak turun hujan, bahwa saat itu adalah musim kemarau. Apa jadinya kalau…?
Kami melepas lelah dan berbagi cerita di bawah langit yang terang, di dalam hembusan angin dingin, di tengah hutan, di atas dinginnya tanah gunung, dan di depan api unggun. Lama-lama kami mengantuk. Satu persatu dari kami mulai menata posisi senyaman dan sehangat mungkin untuk terlelap. Ada yang memasukkan kakinya ke dalam daypack, ada yang menekuk badannya sedemikian rupa, ada yang saling peluk, sedangkan aku menutup kakiku dengan mukena *hehe.
Api unggun masih menemani kami dalam hening malam itu, menghantarkan tidur kami. Begitu juga hembusan angin itu menyelimuti kami dengan tenangnya. Dan, aaaaaaahhhhhhh… Aku tak bisa tidur! Baru aku tau, ternyata gunung itu dingin!
Dan, blaarrr!! Hanya itu saja memori yang terekam. Namun, tak kusangka, mulai saat itu aku selalu merindukan suasana di gunung beserta dingin angin malamnya. Tak kusangka, mulai saat itu aku selalu ingin ke gunung..
Itu adalah malam pertamaku tidur di alam bebas, sebebas-bebasnya. Pertama kalinya aku menatap langit dari dalam hutan. Memandang kelip bintang dalam intaian bulan. Merinding di dalam dingin, dan terlelap dalap pekat malam. Hhhmmm… Ternyata aku menyukainya.
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/3262/public/3262-3613-1-PB.pdf
secerah mentari pagi
“Muslimah adalah ciptaan Allah S.W.T yang unik, emosinya tak terjangkau, meledak-ledak dalam masa yang sama boleh menjadi sesejuk mata air di gunung. Penciptaannya sangat unik, kisahnya sangat berwarna-warni, perempuan adalah peniup obor semangat, dibelakang seorang tokoh adijagat atau maestro perjuangan adalah kaum hawa yang dicipta dengan seribu keunikan.”
Prakata buku terbaru Ustaz Riduan Md Nor yang selamat saya dapatkan di dalam Pesta Buku Selangor.
Saya suka kata-kata pendahuluan penulis asal buku ini yang berasal dari Perancis.
“Isteri tidak aktif dalam jemaah kerana sikap suami? Pandangan yang merungkai persoalan mengapa muslimat tidak aktif dalam gerak kerja Islam. Benarkah ia berpunca dari sikap kaum lelaki?”
Terdapat pelbagai pro kontra persoalan ini. Pernah dalam usrah saya utarakan isu ini.
“Kita muslimat ni, kalau nak ‘selamat’ dan istiqamah perlu cari pasangan yang jemaah juga. Kalau cari yang tidak sefikrah, virus futur akan datang.”
Semua mengangguk-angguk tanda setuju.
“Tapi ada juga yang dapat tidak sefikrah tapi berjaya kaderkan suami dia selepas mereka berkahwin, namun masih dalam kuantiti yang sangat kecil. Sebab apa sangatlah kuasa si isteri untuk merubah fikrah suaminya”
Saya melihat pada masa itu, semuanya bercita-cita mahukan suami pinjaman Allah S.W.T yang sefikrah, boleh turun ke medan masyarakat dan menghadiri usrah bersama-sama termasuk saya juga.
Waktu yang berlalu sedikit sebanyak memahamkan erti perjuangan merealisasikan baitul haraki sebenar (walaupun saya belum berumah tangga). Pelbagai pengalaman yang saya dapatkan dari kakak-kakak senior yang telah berkahwin bersama dengan anak-anak mereka.
Hakikatnya tidaklah seindah yang disangka walaupun telah ‘selamat’ mendirikan rumah tangga bersama sang mujahid yang sefikrah. Kerana ego sang suami selaku pemimpin rumah tangga tetap ada untuk ‘menyekat’ pergerakan si isteri. Rata-rata, kebanyakkan isteri ini ‘setia’ berada di rumah menguruskan suami dan anak-anak.
Blog dan facebook berlatarbelakangkan status dan gambar-gambar bersama suami, dan sehinggalah mempunyai anak. Daripada meniarap sehinggalah boleh berjalan, perkembangan anak diceritakan. Tiada lagi kata-kata, gambar dan status-status tarbiyah dan dakwah. Apatah lagi, soal politik negara. Mereka seolah-olah ‘hanyut’ tatkala bersama suami dan anak-anak.
Allah berfirman,” Dihiasi dalam diri manusia rasa kecintaan yang besar terhadap wanita, anak-anak, harta benda yang banyak berupa emas dan perak, kuda terlatih, binatang ternak dan tanah ladang. Itulah perhiasan dalam kehidupan dunia. dan Allah adalah sebaik-baik tempat kembali.”(QS. Ali Imron : 14)
Berlainan pula dengan sebilangan kecil yang dengan izin Allah, dibenarkan oleh suami, malah turun bergerak bersama-sama.
Ini luahan mereka apabila sahabat yang bersama-sama suatu ketika dulu di kampus tidak lagi seiring sejalan.
“Tapi sayang kebanyakannya walaupun sudah berumah tangga dengan yg sefikrah, sang suami tidak bagi keluar berjuang...sudah ramai ku kehilangan sahabat-sahabat muslimat yg dulunya sama-sama berjuang...”
Kes yang berlainan pula dilihat pada sebilangan yang takut mendirikan rumah tangga kerana bimbang futur. Dan akhirnya, mereka sememangnya tidak berkahwin sehingga umur menginjak naik.
"Ramai yang bila kahwin, futur... Hanya suami yang aktif, isteri tidak lagi melibatkan diri. Blog juga berubah corak. Sebelum kahwin, terhias indah pelbagai tarbiyah dan fikrah. Selepas kahwin, gambar anak demi anak. Dari merangkak, telentang, langkah pertama semuanya di catat. Tiada lagi 'roh' perjuangan."
Bagaimana mengatasinya?
Jujurnya seorang muslimah yang benar-benar ingin istiqamah, kami pasti risau kehidupan kami selepas berumah tangga.
Adakah dibenarkan untuk keluar ke mesyuarat seperti di kampus dulu?
Adakah dibenarkan menghadiri usrah bagi mengisi jiwa dan rohani?
Adakah dibenarkan melakukan program-program dakwah terhadap masyarakat yang semakin ketandusan mengenali agama Islam itu sendiri?
Maka, saya pernah mendengar jawapan-jawapan daripada muslimin daripada segala persoalan di atas.
‘Mesyuarat’ sekarang yang perlu dihadiri hanya bersama dengan suami bagi membentuk baiti jannati.
Jiwa dan rohani si isteri akan diisi oleh sang suami selaku pendidik tetap seorang isteri.
Jangan fikir anak orang lain kalau anak-anak sendiri tidak didakwahkan.
Segala jawapan yang diberikan adalah benar 100%. Tiada yang salah. Tetapi, mungkin jawapan tersebut kurang adil dihuraikan terhadap pihak kaum muslimat yang ingin istiqamah.
Ada pelbagai pendapat yang diberikan dan kebiasaannya kelihatan kontra antara para suami dan para isteri.
Para suami yang sudah keluar berjuang merasa sudah ‘cukup’ pahala buat mereka suami isteri berdasarkan hadis nabi tersebut.
Dalam satu pertemuan antara Asma bt Yazid al-Ansoriyyah dengan Rasulullah saw, beliau berkata: “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Taala mengutusmu bagi seluruh lelaki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membai’atmu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami adalah penjaga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat memenuhi syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan solat jumaat, menghantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”
Mendengarkan pertanyaan tersebut, Rasulullah saw menoleh kepada para sahabat dan bersabda: “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang Deen yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”
Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah !,”
Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahawa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, patuh terhadap apa ang disuruhnya selagi tidak melanggar syara’, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki.”
Namun, lebih dari itu yang dimahukan. Para muslimah juga mahu turut menyumbang kepada kemenangan Islam yang telah sekian lama dirindukan. Mereka mahu sama-sama turun ke lapangan masyarakat terutamanya pada golongan wanita, menyedarkan golongan yang bilangannya kian bertambah, bahkan masalah sosial para wanita juga turut bertambah.
“Habis tu, rumah bersepah? Anak-anak di rumah siapa mahu jaga dan didik? Takkan dua-dua nak sibuk?”
Di sinilah peranan duhai muslimah sekalian untuk memantapkan pengurusan rumah tangga. Dan pastinya pengorbanan seluruh jiwa dan raga diperlukan. Sentiasa perlu mujahadah dan muhasabah dalam memenangi hati suami dan anak-anak tetapi dalam masa yang sama masih aktif memberikan sehabis mampu buat masyarakat yang kian membarah.
Jika hujung minggu ada program, seawal pagi telah bangun menyiapkan sarapan dan mungkin makan tengah hari sekali (jika program habis petang), rumah dikemas dengan bersih, dan anak-anak disiapkan (anak-anak dibawa bersama). Tidak lupa membawa kelengkapan dan keperluan anak-anak semasa menghadiri program.
Dalam masa yang sama, anak-anak sebenarnya sedang didakwah bersama. Mereka melihat sendiri dengan mata erti hidup sebenar, tugas menjadikan Islam sebagai cara hidup dan turut bawa bersama orang-orang lain mempraktikkannya.
Indahnya jika hidup sebegini…
Tetapkan prinsipmu duhai serikandi penggerak ummah, ujian dan cabaran tidak akan berhenti menyinggah. Ia sebenarnya semakin mematangkan diri dalam menghadapi kehidupan yang semakin menduga iman, akal dan hati. Koreksilah diri sendiri sebaiknya, berbincanglah dengan bakal suami (buat yang bakal berumah tangga) dan juga dengan suami (buat yang telah berkahwin).
Binalah kejayaan pada langkah kedua, bait muslim selepas individu muslim ini sebelum menuju masyarakat Islam, negara Islam dan dunia Islam.
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/5221/submission/review/5221-7576-1-RV.pdf
Prakata buku terbaru Ustaz Riduan Md Nor yang selamat saya dapatkan di dalam Pesta Buku Selangor.
Saya suka kata-kata pendahuluan penulis asal buku ini yang berasal dari Perancis.
“Isteri tidak aktif dalam jemaah kerana sikap suami? Pandangan yang merungkai persoalan mengapa muslimat tidak aktif dalam gerak kerja Islam. Benarkah ia berpunca dari sikap kaum lelaki?”
Terdapat pelbagai pro kontra persoalan ini. Pernah dalam usrah saya utarakan isu ini.
“Kita muslimat ni, kalau nak ‘selamat’ dan istiqamah perlu cari pasangan yang jemaah juga. Kalau cari yang tidak sefikrah, virus futur akan datang.”
Semua mengangguk-angguk tanda setuju.
“Tapi ada juga yang dapat tidak sefikrah tapi berjaya kaderkan suami dia selepas mereka berkahwin, namun masih dalam kuantiti yang sangat kecil. Sebab apa sangatlah kuasa si isteri untuk merubah fikrah suaminya”
Saya melihat pada masa itu, semuanya bercita-cita mahukan suami pinjaman Allah S.W.T yang sefikrah, boleh turun ke medan masyarakat dan menghadiri usrah bersama-sama termasuk saya juga.
Waktu yang berlalu sedikit sebanyak memahamkan erti perjuangan merealisasikan baitul haraki sebenar (walaupun saya belum berumah tangga). Pelbagai pengalaman yang saya dapatkan dari kakak-kakak senior yang telah berkahwin bersama dengan anak-anak mereka.
Hakikatnya tidaklah seindah yang disangka walaupun telah ‘selamat’ mendirikan rumah tangga bersama sang mujahid yang sefikrah. Kerana ego sang suami selaku pemimpin rumah tangga tetap ada untuk ‘menyekat’ pergerakan si isteri. Rata-rata, kebanyakkan isteri ini ‘setia’ berada di rumah menguruskan suami dan anak-anak.
Blog dan facebook berlatarbelakangkan status dan gambar-gambar bersama suami, dan sehinggalah mempunyai anak. Daripada meniarap sehinggalah boleh berjalan, perkembangan anak diceritakan. Tiada lagi kata-kata, gambar dan status-status tarbiyah dan dakwah. Apatah lagi, soal politik negara. Mereka seolah-olah ‘hanyut’ tatkala bersama suami dan anak-anak.
Allah berfirman,” Dihiasi dalam diri manusia rasa kecintaan yang besar terhadap wanita, anak-anak, harta benda yang banyak berupa emas dan perak, kuda terlatih, binatang ternak dan tanah ladang. Itulah perhiasan dalam kehidupan dunia. dan Allah adalah sebaik-baik tempat kembali.”(QS. Ali Imron : 14)
Berlainan pula dengan sebilangan kecil yang dengan izin Allah, dibenarkan oleh suami, malah turun bergerak bersama-sama.
Ini luahan mereka apabila sahabat yang bersama-sama suatu ketika dulu di kampus tidak lagi seiring sejalan.
“Tapi sayang kebanyakannya walaupun sudah berumah tangga dengan yg sefikrah, sang suami tidak bagi keluar berjuang...sudah ramai ku kehilangan sahabat-sahabat muslimat yg dulunya sama-sama berjuang...”
Kes yang berlainan pula dilihat pada sebilangan yang takut mendirikan rumah tangga kerana bimbang futur. Dan akhirnya, mereka sememangnya tidak berkahwin sehingga umur menginjak naik.
"Ramai yang bila kahwin, futur... Hanya suami yang aktif, isteri tidak lagi melibatkan diri. Blog juga berubah corak. Sebelum kahwin, terhias indah pelbagai tarbiyah dan fikrah. Selepas kahwin, gambar anak demi anak. Dari merangkak, telentang, langkah pertama semuanya di catat. Tiada lagi 'roh' perjuangan."
Bagaimana mengatasinya?
Jujurnya seorang muslimah yang benar-benar ingin istiqamah, kami pasti risau kehidupan kami selepas berumah tangga.
Adakah dibenarkan untuk keluar ke mesyuarat seperti di kampus dulu?
Adakah dibenarkan menghadiri usrah bagi mengisi jiwa dan rohani?
Adakah dibenarkan melakukan program-program dakwah terhadap masyarakat yang semakin ketandusan mengenali agama Islam itu sendiri?
Maka, saya pernah mendengar jawapan-jawapan daripada muslimin daripada segala persoalan di atas.
‘Mesyuarat’ sekarang yang perlu dihadiri hanya bersama dengan suami bagi membentuk baiti jannati.
Jiwa dan rohani si isteri akan diisi oleh sang suami selaku pendidik tetap seorang isteri.
Jangan fikir anak orang lain kalau anak-anak sendiri tidak didakwahkan.
Segala jawapan yang diberikan adalah benar 100%. Tiada yang salah. Tetapi, mungkin jawapan tersebut kurang adil dihuraikan terhadap pihak kaum muslimat yang ingin istiqamah.
Ada pelbagai pendapat yang diberikan dan kebiasaannya kelihatan kontra antara para suami dan para isteri.
Para suami yang sudah keluar berjuang merasa sudah ‘cukup’ pahala buat mereka suami isteri berdasarkan hadis nabi tersebut.
Dalam satu pertemuan antara Asma bt Yazid al-Ansoriyyah dengan Rasulullah saw, beliau berkata: “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Taala mengutusmu bagi seluruh lelaki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membai’atmu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami adalah penjaga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat memenuhi syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan solat jumaat, menghantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”
Mendengarkan pertanyaan tersebut, Rasulullah saw menoleh kepada para sahabat dan bersabda: “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang Deen yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”
Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah !,”
Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahawa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, patuh terhadap apa ang disuruhnya selagi tidak melanggar syara’, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki.”
Namun, lebih dari itu yang dimahukan. Para muslimah juga mahu turut menyumbang kepada kemenangan Islam yang telah sekian lama dirindukan. Mereka mahu sama-sama turun ke lapangan masyarakat terutamanya pada golongan wanita, menyedarkan golongan yang bilangannya kian bertambah, bahkan masalah sosial para wanita juga turut bertambah.
“Habis tu, rumah bersepah? Anak-anak di rumah siapa mahu jaga dan didik? Takkan dua-dua nak sibuk?”
Di sinilah peranan duhai muslimah sekalian untuk memantapkan pengurusan rumah tangga. Dan pastinya pengorbanan seluruh jiwa dan raga diperlukan. Sentiasa perlu mujahadah dan muhasabah dalam memenangi hati suami dan anak-anak tetapi dalam masa yang sama masih aktif memberikan sehabis mampu buat masyarakat yang kian membarah.
Jika hujung minggu ada program, seawal pagi telah bangun menyiapkan sarapan dan mungkin makan tengah hari sekali (jika program habis petang), rumah dikemas dengan bersih, dan anak-anak disiapkan (anak-anak dibawa bersama). Tidak lupa membawa kelengkapan dan keperluan anak-anak semasa menghadiri program.
Dalam masa yang sama, anak-anak sebenarnya sedang didakwah bersama. Mereka melihat sendiri dengan mata erti hidup sebenar, tugas menjadikan Islam sebagai cara hidup dan turut bawa bersama orang-orang lain mempraktikkannya.
Indahnya jika hidup sebegini…
Tetapkan prinsipmu duhai serikandi penggerak ummah, ujian dan cabaran tidak akan berhenti menyinggah. Ia sebenarnya semakin mematangkan diri dalam menghadapi kehidupan yang semakin menduga iman, akal dan hati. Koreksilah diri sendiri sebaiknya, berbincanglah dengan bakal suami (buat yang bakal berumah tangga) dan juga dengan suami (buat yang telah berkahwin).
Binalah kejayaan pada langkah kedua, bait muslim selepas individu muslim ini sebelum menuju masyarakat Islam, negara Islam dan dunia Islam.
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/5221/submission/review/5221-7576-1-RV.pdf
keceriaan itu terbagi digunung ceremai
fotopribadi
Pagi yang indah kutemui di goa walet. Dinginnya begitu menusuk tulang hingga tembus kesum-sum. Beruntung teh hangat telah siap untuk aku minum. Belum lagi sempat aku mencuci mulut, berbagai minuman penghangat dan makanan telah siap disajikan oleh dicky (mapala Muci) dan koala (Mapala unismuh makassar). Rupanya koala sudah lebih dahulu bangun. Padahal tadi malam sempat terdengar suaranya merintih karena demam. Hampir saja membuat aku keluar dari tenda. Tapi aku urungkan niatku karena berfikir bahwa ada tawon (mapala unismuh) dan datox (mapala kelopak) bersamanya ditenda.
Cek percek, ternyata bukan hanya koala saja yang menggigil kedinginan malam itu. Dicky yang kelihatannya sehat juga ikut-ikutan menggigil. Dicky memang semalaman berada diluar dan menjaga api agar tetap menyala.
***
Pagi ini harus segera aku manfaatkan untuk segera menikmati sunrise diatas puncak Gunung Ceremai. Karena moment terbaik serta view indah tak mungkin menunggu kami berlama-lama ada dibawah. Segera aku usulkan untuk membangunkan mereka-mereka yang masih tertidur. Dan ulan pun menyambut usulanku dengan semangatnya.
“bangun…bangun….”teriak ulan sambil menggoncang tubuh-tubuh yang masih lelap dalam kehangatan sleeping bag.
Mereka tidur dalam bentuk yang sama, yaitu tangan terkepit diantara kedua paha. Kulihat ada tawon, datox dan yang satunya…owh…rupanya dicky melanjutkan tidurnya.
Dengan mulut petasannya dan tangannya yang tak bisa diam ulan mulai mencubit kesana kemari, membuat pemilik tubuh-tubuh itu segera bangkit dari tidurnya. Mereka tak tahan dengan perlakuan ulan yang jahilnya minta ampun.
***
berangkatlah kami menuju puncak. Lagi-lagi aku, datox dan dicky menjadi orang terakhir naik kepuncak. Kami masih menikmati kepulan asap dari masing-masing rokok kami tadi sewaktu dibawah. Tapi beruntung, view indah masih kami dapatkan. kesempatan ini tak kami sia-siakan untuk berfoto dan mengabadikan diri seindah dan sebagus mungkin. Tiap sudut dan tiap posisi kami atur sedemikian rupa, agar keindahan ini benar-benar bisa kami bagikan kepada kawan-kawan yang tak ikut pergi bersama kami. Sibuk sekali kami mengolah gaya, Sehingga lupa untuk bersujud syukur atas kesuksesan kami mencapai puncak.
13221026931934982681
Aku, datox, tawon, ulan, silvy, valdo, dul joni, dicky dan kak happy merapatkan diri agar dapat terukir dalam gambar.
“Kenapa rasanya ada yang kurang ya….?” gumamku dalam hati.
Oalah…..rupanya koala tak hadir dalam kerapatan kami ini.
Ya….dia tak ikut naik kepuncak. Setelah bercerita tentang mimpinya semalam, dia lebih memilih kembali beristirahat dalam tenda. Sayang sekali tim kami tak lengkap sampai kepuncak gunung ceremai ini. Semoga saja lain waktu koala bisa menebusnya kembali.
***
Puncak ini tak rela kami biarkan begitu saja. Setiap sudut kami telusuri jalurnya. Benar-benar menawan dari manapun kami lihat. Awan putih menggumpal bagai kapas, ditambah sinar mentari yang menunjukkan keindahan siloetnya, serta udara dingin yang tak henti-hentinya aku hirup dalam-dalam. Udara sesegar ini tak mungkin aku dapat dijakarta.
Dari atas puncak ceremai ini terlihat ujung gunung selamet yang berada dijawa tengah. menambah keindahan awan-awan yang menghampar bagai permaidani persia. Andai saja bisa aku berjalan diatasnya, ingin rasanya segera menginjakkan kaki diatas awan-awan itu.
Semakin lama panas matahari mulai membakar kulit. Saatnya kami berpisah dengan puncak Gunung Ceremai. Berat meninggalkannya, tapi tak mungkin pula aku tetap berada dipuncak ini. Entah kapan lagi aku bisa kesini. aku pasti akan merindukan puncak Gunung Ceremai ini. “Doakan aku datang kembali” harapku sepenuh hati. Dan kamipun beranjak menuruni puncak Gunung Ceremai.(LCL)
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/5221/submission/original/5221-7575-1-SM.pdf
Pagi yang indah kutemui di goa walet. Dinginnya begitu menusuk tulang hingga tembus kesum-sum. Beruntung teh hangat telah siap untuk aku minum. Belum lagi sempat aku mencuci mulut, berbagai minuman penghangat dan makanan telah siap disajikan oleh dicky (mapala Muci) dan koala (Mapala unismuh makassar). Rupanya koala sudah lebih dahulu bangun. Padahal tadi malam sempat terdengar suaranya merintih karena demam. Hampir saja membuat aku keluar dari tenda. Tapi aku urungkan niatku karena berfikir bahwa ada tawon (mapala unismuh) dan datox (mapala kelopak) bersamanya ditenda.
Cek percek, ternyata bukan hanya koala saja yang menggigil kedinginan malam itu. Dicky yang kelihatannya sehat juga ikut-ikutan menggigil. Dicky memang semalaman berada diluar dan menjaga api agar tetap menyala.
***
Pagi ini harus segera aku manfaatkan untuk segera menikmati sunrise diatas puncak Gunung Ceremai. Karena moment terbaik serta view indah tak mungkin menunggu kami berlama-lama ada dibawah. Segera aku usulkan untuk membangunkan mereka-mereka yang masih tertidur. Dan ulan pun menyambut usulanku dengan semangatnya.
“bangun…bangun….”teriak ulan sambil menggoncang tubuh-tubuh yang masih lelap dalam kehangatan sleeping bag.
Mereka tidur dalam bentuk yang sama, yaitu tangan terkepit diantara kedua paha. Kulihat ada tawon, datox dan yang satunya…owh…rupanya dicky melanjutkan tidurnya.
Dengan mulut petasannya dan tangannya yang tak bisa diam ulan mulai mencubit kesana kemari, membuat pemilik tubuh-tubuh itu segera bangkit dari tidurnya. Mereka tak tahan dengan perlakuan ulan yang jahilnya minta ampun.
***
berangkatlah kami menuju puncak. Lagi-lagi aku, datox dan dicky menjadi orang terakhir naik kepuncak. Kami masih menikmati kepulan asap dari masing-masing rokok kami tadi sewaktu dibawah. Tapi beruntung, view indah masih kami dapatkan. kesempatan ini tak kami sia-siakan untuk berfoto dan mengabadikan diri seindah dan sebagus mungkin. Tiap sudut dan tiap posisi kami atur sedemikian rupa, agar keindahan ini benar-benar bisa kami bagikan kepada kawan-kawan yang tak ikut pergi bersama kami. Sibuk sekali kami mengolah gaya, Sehingga lupa untuk bersujud syukur atas kesuksesan kami mencapai puncak.
13221026931934982681
Aku, datox, tawon, ulan, silvy, valdo, dul joni, dicky dan kak happy merapatkan diri agar dapat terukir dalam gambar.
“Kenapa rasanya ada yang kurang ya….?” gumamku dalam hati.
Oalah…..rupanya koala tak hadir dalam kerapatan kami ini.
Ya….dia tak ikut naik kepuncak. Setelah bercerita tentang mimpinya semalam, dia lebih memilih kembali beristirahat dalam tenda. Sayang sekali tim kami tak lengkap sampai kepuncak gunung ceremai ini. Semoga saja lain waktu koala bisa menebusnya kembali.
***
Puncak ini tak rela kami biarkan begitu saja. Setiap sudut kami telusuri jalurnya. Benar-benar menawan dari manapun kami lihat. Awan putih menggumpal bagai kapas, ditambah sinar mentari yang menunjukkan keindahan siloetnya, serta udara dingin yang tak henti-hentinya aku hirup dalam-dalam. Udara sesegar ini tak mungkin aku dapat dijakarta.
Dari atas puncak ceremai ini terlihat ujung gunung selamet yang berada dijawa tengah. menambah keindahan awan-awan yang menghampar bagai permaidani persia. Andai saja bisa aku berjalan diatasnya, ingin rasanya segera menginjakkan kaki diatas awan-awan itu.
Semakin lama panas matahari mulai membakar kulit. Saatnya kami berpisah dengan puncak Gunung Ceremai. Berat meninggalkannya, tapi tak mungkin pula aku tetap berada dipuncak ini. Entah kapan lagi aku bisa kesini. aku pasti akan merindukan puncak Gunung Ceremai ini. “Doakan aku datang kembali” harapku sepenuh hati. Dan kamipun beranjak menuruni puncak Gunung Ceremai.(LCL)
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/5221/submission/original/5221-7575-1-SM.pdf
Jumat, 06 Januari 2012
seindah mentari pagi
Pagi itu di dapur….
” Bu,.. awas itu ikannya hampir gosong loh… “, seru khadimatku, Asih, membuyarkan lamunanku.
” Masya Allah…”, seruku seraya mematikan kompor.
” Nah loh ibu lagi ngelamun ya… ?”, goda Asih lagi.
” Ah, kamu ini… ayo mana belanjaannya ? “, tanyaku.
” Asih, hari ini kita bikin bali ikan, sayurnya kita bikin lodeh saja terus goreng tahu, tempe dan kerupuk”. Asih, khadimatku sudah lama ikut aku dan keluarga. Sejak dia baru lulus SD sampai sekarang dia sudah lulus SMEA. Kami sekeluarga sudah menganggap Asih sebagai anggota keluarga sendiri.
Selesai masak bareng Asih sambil menunggu adzan dzuhur aku berniat meneruskan tulisanku semalam, tapi aku hanya termenung di depan layar monitor tanpa dapat memusatkan pikiranku. Aku kembali meneruskan lamunanku yang tadi sempat terputus gara-gara Asih mengejutkanku. Semalam selepas kami sholat Isya’ berjamaah, Sarah putri tunggalku menghampiriku di kamar.
” Ummi,… ummi lagi repot ? “, tanya Sarah.
” Nggak kog sayang, ada apa ? “.
” Malam ini ummi nggak nulis ?, biasanya ba’da isya ummi khan langsung asyik sama komputer “.
” He.. he.. Sarah,…Sarah….nggak kog, memang sih ummi mau nulis tapi nanti-nanti saja. Ada apa sholihah… ? “.
” Eng.. eng… ada yang mau Sarah diskusikan sama ummi “.
” Ya,… tentang apa nak ? “.
” Tapi ummi harus janji dulu sama Sarah loh.. “.
” Janji.. ? ada apa memangnya ? “.
” Ya ummi, janji dulu ya mi yah… ? “, Sarah mulai dengan rengekan manjanya
” Iya deh insya Allah…. “.
” Ummi musti janji pertama ummi jangan motong dulu sebelum Sarah selesai, terus yang kedua ummi jangan bicarakan ini dulu sama siapapun kecuali sama Abi. Sarah nggak mau kalau mas Fadhil, mas Yazid dan Zakly tahu sebelum waktunya “, kata Sarah seraya menatapku.
” Hhhmm…. iya insya Allah “.
” Nah,… sekarang ummi dengarkan baik-baik yah…? “, pinta Sarah dengan kerlingan manjanya.
” Iya…. ini dari tadi juga ummi sudah dengerin kog…”, kataku mulai tak sabar.
” Mmhhhh… begini ummi,…. akhir-akhir ini Sarah mulai berpikir kalau… mmhhh…mmhhh.. kalau Sarah pingin menyempurnakan setengah dari dien Sarah “, kata Sarah perlahan lantas Sarah tertunduk dan diam.
Seindah Mentari PagiAku masih terdiam, rasanya otakku saat itu bekerja dengan sangat lambat untuk mencerna kata-kata Sarah. Sarah ingin menyempurnakan setengah dari diennya itu artinya Sarah hendak menikah….Subhanallah… Alhamdulillah… putri tunggalku sudah berpikir ke arah sana.
” Sarah,…subhanallah nak…”, aku tak dapat meneruskan kata-kataku.
” Ummi kaget Sarah,… tapi sekaligus juga bangga “, kataku seraya memeluk Sarah yang masih tertunduk di hadapanku. ” Alhamdulillah nak…. Insya Allah kalau nanti abi sudah pulang akan ummi diskusikan dengan abi. Nah,…mau ngomong begitu aja kog dari tadi pakai takut-takut segala sih sayang.. ? “, godaku.
Sarah masih menunduk sambil tersenyum.
” Sekarang masalahnya Sarah mau nikah sama siapa ?”, tanyaku. “Atau Sarah pingin abi dan ummi yang carikan calonnya ? “.
” Mmhh… sebenarnya Sarah sudah punya calon ummi…. “, katanya perlahan.
” Heh… ?? Sarah sudah punya calon… kog abi dan ummi nggak tahu ? “.
Terus terang aku terkejut. Aku kenal betul siapa Sarah, ia sangat hati- hati dalam menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya. Tapi kog tahu-tahu sekarang sudah ada calon.
” Ummi masih janji kalau nggak memotong sebelum Sarah selesai khan,…sekarang Sarah mau cerita yang lengkap “. Sarah menarik nafas.
” Begini ummi,… ada temen pengajian Sarah di kampus, akhwat itu punya mas. Nah, masnya itu insyaAllah akhlaq dan diennya baik “.
” Hhmm…. lantas.. “, kataku tak sabar.
” Temen Sarah itu mengusulkan agar Sarah menikah dengan masnya. Nah,.. sekarang Sarah mau minta tolong ummi dan abi atau mas Fadhil atau mas Yazid untuk menyelidiki apa memang betul ikhwan itu diennya baik dan insya Allah bisa cocok sama Sarah “.
” Hhhmmm… begitu ? “.
” Sarah belum pernah ketemu sama ikhwan itu, Sarah baru lihat fotonya saja dan Yasmin, teman Sarah itu cerita kalau ikhwan itu insya Allah shalih. Sarah percaya sama Yasmin, ummi masih ingat Yasmin khan yang pernah kesini itu lho… “.
” Ummi lupa abis khan banyak akhwat temen Sarah yang main kesini “.
” Ummi,… abi dan ummi khan selalu bilang kalau apapun yang kita kerjakan harus lillaahita’ala khan ? “, tanya Sarah. Aku hanya mengangguk….
” Ummi,….insya Allah Sarah ingin pernikahan ini juga menjadi ibadah karena Sarah pingin mencari ridho Allah ummi. Sarah ingin nikah dengan ikhwan itu karena Sarah ingin menolong ia dan keluarganya mi… Ummi,.. sebenarnya ia sudah menikah, sudah punya isteri “.
” Heh….”, seruku dengan terkejut.
Tanpa memperdulikan keterkejutanku Sarah kembali meneruskan kata-katanya.
” Ummi, ikhwan itu sudah nikah hampir 6 tahun, tapi sampai sekarang belum dikasih amanah oleh Allah, isterinya punya fisik yang lemah, sering sakit-sakitan. Sarah berpikir ummi,…. Sarah ingin bisa menolong keluarga itu untuk sama-sama berjihad di jalan Allah. Sarah bisa bantu-bantu pekerjaan rumah tangga dan insya Allah nanti Sarah bisa melahirkan jundi-jundi yang bisa dididik sama-sama. Ummi ingat ya ummi,… Sarah insyaAllah mau melakukan ini semua hanya karena Allah, Sarah cuma mau mencari ridho Allah saja ummi…. Sarah sudah istikharoh berkali-kali dan Sarah makin hari makin mantap aja “.
Aku hanya terdiam,… tak tahu harus berkata apa. Terus terang aku sangat ingin suamiku ada disampingku saat ini. Kenapa Sarah harus membicarakan hal itu di saat suamiku ke luar kota. Aku bingung tak tahu harus berkata apa….
” Ummi,…. “, panggil Sarah perlahan.
” Sarah,…sekarang ummi mau tanya ya nak… “.
” Bagaimana awal mulanya kog tiba-tiba Sarah ingin menikah dengan ikhwan itu ? “.
” Begini ummi,…Yasmin bilang kalau mbak Asma, nama isteri masnya itu, pernah bilang ke Yasmin bahwa mbak Asma ingin suaminya menikah lagi “.
” Hhmmm…. terus…. “.
” Soalnya mbak Asma tahu benar kalau suaminya sudah ingin punya jundi sementara mbak Asma sendiri sampai sekarang belum juga dikasih kesempatan oleh Allah untuk hamil. Kasihan mbak Asma ummi,…sudah fisiknya lemah, kesepian lagi. Sehabis Yasmin cerita begitu Sarah jadi kepikiran, Sarah ingin membantu keluarga itu ummi…. Sarah pingin bisa bantu-bantu mbak Asma, nemenin mbak Asma, insyaAllah nanti Sarah juga bisa melahirkan jundi yang bisa dididik sama-sama. Khan Ummi sendiri yang bilang kalau untuk menuju kebangkitan Islam memerlukan generasi yang berkualitas, insya Allah nanti akan lahir generasi-generasi robbani .”
Setelah sholat dzuhur berdua dengan Asih aku kemudian makan sendirian. Kalau siang seperti ini rumah selalu sepi, hanya aku berdua dengan Asih saja. Mereka biasanya makan di kampus masing-masing dan Yazid makan di cafetaria kantornya. Terus terang aku kesepian, ingin rasanya aku segera mendapatkan cucu-cucu dari mereka. Dan kini salah seorang dari mereka mengajukan keinginannya untuk menikah, tapi…kenapa Sarah hendak nikah dengan seseorang yang telah beristri?…. Rasanya sejak semalam aku sulit berpikir secara jernih, aku terlalu terbawa alam perasaanku. Diantara mereka berempat aku tidak membeda-bedakan kasih sayangku. Aku selalu berusaha adil terhadap mereka. Tapi tak dapat kupungkiri kalau Sarah menempati posisi yang lebih istimewa. Perhatianku lebih tercurah ekstra pada Sarah. Karena Sarah hanya satu-satunya putri tunggalku. Aku lebih melindungi Sarah dibandingkan dengan putra-putraku yang lain. Timbul rasa was-was dalam hatiku, bagaimana kalau seandainya suaminya nanti tak dapat berlaku adil, bagaimana kalau seandainya madu Sarah tidak memperlakukannya dengan baik karena merasa mendapat saingan dan bagaimana kalau nanti Sarah tidak bahagia. Semua itu menjadi beban pikiranku. Aku menyayangi Sarah, dan wajar bila sebagai seorang ibu aku ingin melihat anak-anakku bahagia. Aku menjadi tidak berselera makan. Tiba-tiba…
” Assalamu’alaikum,…”, suara Zakly kudengar dari teras depan.
” Wa’alaikumussalam,… loh kog sudah pulang ? “, tanyaku.
” Iya mi, dosennya nggak ada… lagi pula siang ini sudah nggak ada kuliah lagi kog “, jawab Zakly seraya mencium tanganku.
” Ayo makan sekalian,…ummi baru saja mulai “.
” Sebentar mi, cuci tangan dulu… “.
Seperti kebiasaan mereka sejak kecil, setiap pulang sekolah waktu makan siang mereka akan bercerita tentang kejadian mereka di sekolah hari itu. Dan hingga kini meskipun mereka telah beranjak dewasa kebiasaan itu tetap terbawa. Zakly sedang bercerita tentang susahnya mencari dosen pembimbingnya untuk skripsi. Tapi aku hanya menanggapi setengah hati, konsentrasiku tidak terpusat seutuhnya pada apa yang dibicarakannya.
” Ummi,…. ummi kenapa sih…? “, tanya Zakly.
” Oohh…nggak,… Zakly bilang apa tadi temen Zakly kenapa ? “.
” Nah khan… ketahuan deh kalo ummi nggak dengerin Zakly ngomong “.
” Nggak,.. kenapa tadi…. ? “.
” Sejak tadi pagi Zakly perhatikan ummi hari ini agak lain deh… “.
” Ah masa sih,… itu khan perasaan Zakly saja.. “.
” Bener kog… tadi pagi di garasi mas Yazid saja tanya sama Zakly, kog ummi pagi ini agak diam ya… nggak secerewet biasanya “.
” Eh,…ghibah ih,…ngomongin umminya “, sahutku sambil tersenyum.
” Bener kog… ummi nggak sakit khan ?? “.
” Nggak ummi nggak apa-apa kog… “.
” Kalo nggak apa-apa kog ummi jadi agak lain ayo !”, desak Zakly masih dengan ngototnya.
Sifat Zakly ini menurun dari abinya, yang nggak akan berhenti bertanya kalo belum mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan hatinya.
” Ummi…ummi cuma pingin abi cepet pulang, gitu aja..” sahutku perlahan.
” Ha…. ha…. “, meledak tawa Zakly.
” Lho kog ketawa sih ? “,tanyaku.
” Abis ummi lucu, kaya pengantin baru aja deh…. dikit-dikit kangen pingin ketemu abi “.
” Yah wajar dong…. namanya juga suami isteri “.
” Tapi ummi lucu deh… kita khan pura-pura nggak tahu aja, kalau sebenarnya di belakang kita ummi tuh kolokan banget sama abi… “, goda Zakly lagi.
” Hhhmmm…. kata siapa ? “, tanyaku tak mau kalah.
” Yah ummi…ngaku aja deh,…kalau ummi khan masih manja banget sama abi, ummi kita khan udah pada gede-gede, sudah ngerti “, kata Zakly masih sambil ketawa.
” Udah ah,… ketawa aja tersedak lho nanti maemnya.. “,sahutku.
” Mmmhh…ummi nggak mau ngakuin tuh…, sabar dong ummi insya Allah besok abi khan sudah pulang “, goda Zakly lagi.
” Udah,… cepat dihabisin maemnya Zakly… “.
” Iya nyonya besar…. “, kata Zakly sambil tersenyum-senyum menggoda.
” Ummi,…”, panggil Zakly lagi.
” Apa lagi sholeh ?? “.
” Mmhh… Zakly nanti ingin kalau punya rumah tangga seperti rumah tangga abi dan ummi…. “.
” Kenapa memangnya… ? “.
” Sepertinya abi sama ummi tuh seneenng terus, nggak pernah Zakly lihat abi sama ummi ribut, meskipun sudah tua-tua tapi masih seperti pengantin baru saja “.
” Hhmmm… kalian khan nggak tau saja, pernah juga abi dan ummi berselisih, karena beda pendapat, itu wajar dalam rumah tangga “.
” Oya… kog Zakly nggak tahu.. “.
” Aduh anakku sholeh…. masa sih kalau abi sama ummi lagi nggak enakan harus lapor sama kalian, nggak khan ?”.
” Iya.. ya…. “.
” Itu rahasia abi dan ummi, kita selesaikan berdua, diskusi, dibahas, saling menghargai pendapat lawan, cari jalan tengahnya “.
” Terus mi…. “.
” Ya sudah,…berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, dan saling mengalah. InsyaAllah keadaan cepat normal lagi, baikan lagi. Kunci yang penting Zakly,… kalau nanti Zakly sudah berkeluarga, jangan pernah kalian ribut di depan anak-anak, karena nggak baik buat perkembangan jiwa mereka. Selesaikan berdua ketika sudah sama-sama tenang sehabis sholat misalnya “.
” Hhmmm… itu makanya abi sama ummi tetap awet sampai sekarang yah ? “.
” Yah… alhamdulillah nak, abi dan ummi saling cinta meskipun dulu kita nggak pakai istilah pacaran “.
” Iya mi,… Zakly tahu itu….subhanallah….
“Iya,… Islam sudah bikin aturan yang benar dan baik tinggal tergantung kita mau ikut atau nggak “, kataku lebih lanjut. Sudah sekarang cepat habisin maemnya… “.
” Jazakillah ya ummi buat materinya siang ini…. “.
” Hhmm… waiyakallahu.. “.
Dan tiba-tiba…. kring… dering suara telfon.
” Hallo,… “, angkat Yazid.
” ‘Alaikumussalam,… oh abi nih… Iya bi,… bener nih nggak usah dijemput ?. Iya-iya….insya Allah…. ‘alaikumussalam… “.
” Dari abi, Yazid ?? “, tanyaku.
” Iya,… seminar abi ternyata selesai hari ini, abi sekarang ada di airport sebentar lagi pulang “.
” Lho,… abi nggak minta dijemput ? “, tanyaku.
” Kata abi, abi mau naik taksi saja biar cepat, kalau nunggu dijemput kelamaan “.
” Insya Allah sebentar lagi abi pulang “. harapku.
Selesai sholat isya’….
” Kalian sudah pada lapar ya ?, mau makan sekarang atau nunggu abi saja sekalian ? “, tanyaku.
” Nanti aja mi,… enakan bareng-bareng abi aja.. “.
” Kalau kalian mau maem dulu nggak apa-apa, biar nanti ummi saja yang nemenin abi “.
” Nggak usah mi,… khan sebentar lagi insya Allah abi juga datang “, jawab Fadhil lagi.
Dan benar, tak berapa lama kemudian….
” Assalamu’alaikum,…”, suara suamiku dari teras depan.
” Wa’alaikumussalam… “, jawab kami berbarengan.
Kelakuan mereka masih persis anak-anak langsung berebut membuka pintu buat abinya dan mencium tangan abinya. Kalau melihat mereka seperti itu tak percaya rasanya kalau mereka sudah pada besar-besar dan sudah waktunya untuk nikah. Ah,…nikah lagi… kenapa itu yang ada dipikiranku selalu.
” Ummi,..ini nih pacar ummi udah datang…”, seru Zakly.
” Zakly,…apa-apa an sih ya…”, kataku sambil melotot.
” Alah.. ummi, tadi siang bilang kangen, pingin abi cepet pulang, sekarang malah berdiri disitu aja… “, goda Zakly lagi.
” He.. he…. memang tadi siang ummi kenapa Zakly “, tanya suamiku.
” Tadi siang nih bi…. “.
” Udah Zakly,… abi baru aja dateng,… cuci tangan dulu deh bi,.. terus kita maem “, potongku langsung.
” Iya bi,.. kita tadi udah laper nungguin “, kata Sarah.
Seperti biasa waktu makan malam adalah saat dimana kami dapat makan bersama. Kalau pagi, anak-anak biasa sarapan lebih dulu sedangkan aku dan suamiku hanya sarapan berdua, karena suami ke kantor agak siang dibanding mereka pergi. Kalau siang mereka tak pernah makan di rumah, biasanya aku makan sendiri. Jadi baru makan malamlah kami dapat berkumpul bersama. Dan seperti biasa mereka saling tak mau kalah kalau sudah cerita, jadi bisa dibayangkan bagaimana semaraknya suasana.
” Oya,…tadi Zakly bilang apa tentang ummi “, tanya sumiku mendadak.
” Oh,… he.. he.. ini ummi,… “.
” Kenapa Zakly ? “, tanya Yazid.
” Tadi siang khan Zakly makan di rumah , terus pas Zakly ajak ngobrol ummi tuh kayanya nggak bener-bener ngedengerin deh,… Zakly pikir kenapa gitu…. “.
” Trus…. “, potong Fadhil.
” Waktu Zakly desak-desak ummi bilang nggak apa-apa,.. tapi akhirnya ngaku juga… “.
” Ummi bilang apa… ? “, tanya suamiku.
” Ummi bilang kangen sama abi, pingin abi cepat-cepat pulang, waktu ngomongnya kaya anak remaja yang umur 17 tahun, sambil malu-malu gimanaaa.. gitu “.
Langsung, tawa mereka memecah…
” Ih,… ummi perasaan biasa aja bilangnya, ngapain juga pakai malu-malu segala, orang abi sama ummi udah 28 tahun nikah “, sahutku.
” Alah ummi,..Zakly tadi khan liat muka ummi merah-merah gimana gitu “.
” Oooohh…. pantesan tadi pagi Yazid juga perhatikan ummi agak aneh, nggak seperti biasanya “, sambung Yazid.
” Iya,..ummi tadi pagi agak diam, hhmm baru ketauan ternyata sebabnya kenapa “, kata Fadhil
Mereka masih tertawa-tawa, kulirik Sarah hanya tersenyum tak ikut menggodaku seperti yang lain. Tentu Sarah tahu dialah yang menjadi penyebab kenapa seharian ini aku agak aneh.
” Iya mi,…bener ya apa yang Zakly bilang “, tanya suamiku sambil menatapku dalam-dalam.
” Hhmm…. “, aku hanya tersenyum, jengah juga rasanya ditatap seperti itu di depan anak-anak meskipun mereka udah dewasa.
Mendadak tawa mereka memecah lagi….
” Lho,… kenapa sih… ?? “.
” Coba deh ummi ngaca, muka ummi tuh lucu banget tersipu-sipu gimana gitu, kaya remaja 17 tahunan “, kata Zakly.
” Ummi… ummi…,mau bilang iya aja kog pake malu-malu segala sih… “, kata suamiku.
” Padahal abi khan baru pergi 3 hari yang lalu, ya khan ? “, tanya suamiku ke mereka.
” Tunggu aja bi,.. nanti kalau kita sudah nggak ada, ummi bakal ngaku juga sama abi,… “, kata Zakly.
” Udah ah,… nggak selesai-selesai maemnya nanti, ingat abi belum sholat lho..”, kataku mengalihkan pembicaraan.
Setelah suamiku sholat, seperti biasa kami berkumpul di ruang tengah. Dan juga seperti biasa mereka tak pernah habis-habis akan topik bahasan. Mulai dari kerusuhan tentang adanya isyu pembunuhan dukun santet yang menyebabkan sebagian ulama juga ikut terbunuh, tentang harga sembako yang masih saja sulit dijangkau, dan juga tentang keanekaragaman visi dari bermacam-macam partai Islam yang ada. Sampai pada masalah banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena tak ada biaya serta kondisi gizi anak-anak balita yang memprihatinkan. Dan seperti biasa, mereka ingin agar segera terbentuk khalifah Islam dimana segala macam bentuk perundang-undangan bersumber pada Al Qur’an dan sunnah Rasul yang insya Allah apabila semuanya itu dilakukan dapat menjamin pola kehidupan masyarakat akan menjadi baik.
Dari balik layar monitor kuperhatikan Sarah tidak selincah biasanya dalam berdiskusi dengan mas-masnya, Sarah hanya sesekali menimpali itu pun dengan nada bicara yang tanpa semangat, sedangkan aku dari tadi duduk di depan komputer, tapi hanya satu paragraf yang berhasil kutulis. Karena perhatianku lebih tercurah pada apa yang mereka bahas dibanding dengan susunan cerita yang sedang kukerjakan. Ingin rasanya aku cepat-cepat menarik suamiku ke kamar untuk membahas keinginan Sarah. Tapi kulihat mereka masih asyik, dan sekarang`mereka sedang nonton Dunia Dalam Berita. Biasanya sehabis acara itu mereka masih duduk di situ untuk membahas berita yang baru saja mereka lihat, sebelum akhirnya masuk ke kamar masing-masing. Setelah dunia dalam berita….
” Abi nggak capek,… khan tadi baru pulang, besok harus ke kantor khan ? “, kataku.
” Besok saja diterusin obrolannya,… atau kalian ngobrol berempat saja… “, sambil kutatap mereka.
” Kasian abi dong…. “, sambungku lagi.
” Hhhmm…. hhmm…. “, Zakly pura-pura batuk, yang aku tahu itu hanya untuk menggodaku saja.
” Iya deh,…lagian masa abi ngobrol sama kalian aja, abi khan juga pingin ngobrol sama ummi “, kata suamiku.
Tawa mereka memecah lagi…
” Bukan,… bukan gitu, abi khan baru pulang, dan besok harus kerja “, bantahku.
” Iya..iya…udah yok mi,.. kita bobo…”, ajak suamiku.
” Jangan lupa lho, periksa lagi pintu jendela sebelum kalian masuk kamar “, perintahku pada mereka.
Kulirik jam, sudah pukul 10 kurang seperempat. Tak mungkin rasanya aku bercerita malam ini. Suamiku tentu lelah, biar besok saja setelah sholat shubuh pikirku. Dan kulihat suamiku sudah merebah di tempat tidur dan bersiap-siap untuk tidur. Iya,… nggak mungkin malam ini, besok saja putusku. Tapi aku masih belum dapat memejamkan mata, ingin rasanya hari segera berganti. Aku tidak biasa memendam sesuatu terhadap suamiku. Aku ingin segera menumpahkan apa yang menjadi beban pikiranku. Yah,… insya Allah nanti selepas shubuh…
Setelah qiyamul lail, sambil menunggu shubuh aku bergantian membaca qur’an dengan suamiku. Seperti biasa suamiku dan anak-anak sholat shubuh di mesjid. Tinggal aku, Sarah dan Asih sholat berjama’ah di rumah. Pada halaman terakhir aku membaca Al Matsurat, suamiku pun tiba. Akhirnya setelah kulipat mukena dan kurapikan sajadah aku berdiri di hadapan suamiku yang sedang duduk di tepi tempat tidur….
” Mas,… mas masih ngantuk ? mau tidur lagi ? “.
” Nggak kog,… mas nggak ngantuk, kenapa de’ ? “.
” Mmhhh… ada yang mau ade’ omongin sama mas… “.
” Iya,.. tentang apa de’ ? “, tanya suamiku seraya menarikku untuk duduk di hadapannya.
” Mmhh.. ini tentang Sarah mas,… “.
” Iya,.. ada apa memangnya sama Sarah ? “.
Akhirnya kuceritakan semua apa yang menjadi keinginan Sarah. Rasa banggaku terhadap Sarah yang memiliki niat seperti itu. Persetujuanku terhadap keinginannya, tapi juga sekaligus rasa khawatirku, rasa cemasku akan putri tunggalku. Betapa aku amat mengasihinya dan aku tidak ingin ada sesuatu hal buruk yang akan dialaminya kelak. Di satu pihak apa yang menjadi keinginan Sarah patut untuk aku dukung, karena yang dilakukan Sarah hanyalah untuk mencari ridhoNya semata, tak boleh aku menghalanginya dari jalan Allah. Tapi di pihak yang lain aku khawatir bila nanti suaminya tidak bisa berlaku adil atau rasa cemburu dari madunya akan menyakiti hatinya. Aku rasa kekhawatiranku adalah hal yang wajar, karena waktu Fatimah mengadu kepada Rasulullah SAW akan niat Ali ra yang hendak nikah lagi, Rasulullah pun berkata bahwa apabila menyakiti hati Fatimah, itu sama halnya dengan menyakiti hati beliau, karena rasa kasih sayang Rasulullah sangat besar terhadap Fatimah. Tapi aku sungguh tersentuh dengan niat Sarah yang subhanallah sangat mulia. Kutumpahkan semua uneg-uneg di hatiku pada suamiku.
” De’,… mas tahu,…ade’ sayang sekali pada Sarah, begitu juga mas “, kata suamiku perlahan.
” Tapi de’,… ade’ tahu khan kalau Sarah itu bukan milik kita, Allah cuma menitipkan Sarah ke kita. Alhamdulillah Allah mau memberikan amanahNya pada kita, bukan cuma Sarah, tapi juga Fadhil, Yazid dan Zakly “.
” Mas bangga pada anak-anak, begitu juga mas bangga pada ade’ yang sudah berperan buat mentarbiyah mereka. Karena mereka semua nantinya harus kita pertanggung-jawabkan kepada Allah. Nah,…sekarang misalnya ade’ ada di posisi Asma, sudah fisiknya lemah, sakit-sakitan, kesepian…, padahal dia menginginkan untuk dapat berperan menjadi pendidik generasi yang dapat menggantikan perjuangan generasi sebelumnya, dia juga menginginkan akan adanya panggilan ‘ummi’ dari seorang anak yang lucu. Gimana coba ? “, tanya suamiku dengan lembut.
” Dari cerita ade’ tadi,…Asma sendiri yang usul supaya suaminya nikah lagi, rasanya apa yang ade’ khawatirkan insya Allah nggak akan terjadi deh…Dia sudah rela suaminya menikah lagi, dia sudah ridho dan insya Allah diapun akan memperlakukan Sarah dengan baik.. . Ade’ juga tau khan kalau Allah pasti memberikan yang terbaik, belum tentu apa yang menurut kita nggak baik tapi sebenarnya itu justru baik menurut Allah, cuma Allah yang tahu ade ‘…., kita tidak tahu apa-apa… “.
Sampai sini air mataku mulai menetes…Astaghfirullah…Ampuni aku ya Allah,… aku terlalu melibatkan perasaan dan emosiku. Sarah hanyalah milik-Mu, dan Engkau yang akan menjaganya… ” Ade’,..ade’ inget khan kalau rasa cinta kita terhadap keluarga, harta dan sebagainya tidak boleh melebihi rasa cinta kita terhadap Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya ? “,tanya suamiku.
Aku hanya mengangguk….
” Jadi insyaAllah kitapun akan mendapat ridho Allah, dari apa yang dilakukan Sarah nanti…., karena kita dengan ikhlas menyetujui Sarah menikah hanya karena kita juga sama-sama mencintai-Nya “.
Kami sama-sama terdiam sesaat. Kutarik nafas panjang…
” Mas,…”, panggilku lirih.
” Ya sayang… gimana ? “, tanya suamiku,
” Iya mas…ade’ sudah tenang sekarang,…kalau tadi meskipun ade’ setuju tapi tetap ada yang ganjal rasanya “.
” Kalau sekarang.. ? “, tanya suamiku.
” Ade’ sekarang sudah ikhlas mas,… hati ade’ sudah plong rasanya, ade’ sadar ada Allah yang akan menjaga Sarah, Sarah kan cuma milik Allah ya mas ?? “.
” Nah,… gitu dong… insya Allah Sarah, Asma dan Farid bisa membentuk keluarga sakinah, yang bisa mencetak generasi rabbani, kita tinggal mendo’akan mereka saja de’…”.
” Tapi mas,… “, kataku tertahan.
” Tapi kenapa lagi ? masih belum sreg juga ?
” Bukan begitu,… cuma mas kog kayanya begitu gampang memutuskan masalah ini, kayanya mas sudah tau tentang ini sebelumnya “, kataku penuh curiga.
” Mmmhhh… sebenernya sebelum ade’ cerita tadi mas udah tau kog de’… “, kata suamiku.
” Hah…. ?? “, tanyaku heran.
” Mmmhh.. sebelum mas ke Jakarta Farid dateng ke kantor mas, sudah diskusi dengan mas… “.
” Lho.. ??? “.
” Iya,… Mas juga tahu siapa Farid itu, juga isterinya, tapi waktu itu mas sorenya udah buru-buru mau berangkat mas pikir nanti saja pulang dari Jakarta cerita ama ade’, terus pas ade’ lagi belanja sama Asih mas interlokal dari Jakarta, yang ada di rumah Sarah, mas tanya sama Sarah. Ternyata Sarah juga sudah tahu dari Yasmin, mungkin Asma sudah minta Yasmin bilang ke Sarah, begitu de’ “, penjelasan suamiku.
” Lho,.. Sarah kog nggak bilang kemaren sama ade’ kalo mas sebenarnya sudah ngomong sama Sarah duluan ?”, tanyaku masih kebingungan.
” Iya,… mas bilang sama Sarah, supaya Sarah bilang sama ade’ saja, tanya pendapat ade’ gimana gitu… . Khan nggak enak kalau tahu-tahu mas udah langsung ngasih persetujuan duluan padahal ade’ masih belum tahu apa-apa”, kata suamiku lagi.
Subhanallah….betapa suamiku sangat menghargai aku, dari dulu suamiku tidak pernah mengambil keputusan sendiri dalam masalah rumah tangga, selalu mengajakku untuk berunding terlebih dahulu.
” Tapi mas,…ade’ masih mau tanya lagi nih.. “, kataku.
” Iya sayang,… kenapa lagi ? “.
” Tadi mas bilang kalau mas tahu bener siapa Farid itu, memang mas sudah kenal sebelumnya sama Farid ? “.
” Mmmhh….mmmhh….”, suamiku tidak menjawab hanya tersenyum saja.
Dan aku tahu apa itu artinya…suamiku tidak akan menjawab pertanyaan semacam itu. Tapi akupun tahu sebesar apa kasih sayang suamiku terhadap Sarah. Tidak mungkin rasanya suamiku membuat keputusan besar seperti ini tanpa lebih dahulu menyelidiki bagaimana keluarga Farid dan Asma.
” Yang penting de’,… kita berdo’a aja untuk kebahagiaan mereka “, ujar suamiku.
” Hhhmm… iya deh,… yang penting kita tinggal berdoa saja buat mereka “, kataku.
” Terus mas ada lagi,.. berarti mas tahu dong kemarin pas ade’ gelisah soalnya ada yang mau ade’ omongin sama mas, ya khan ?”, tanyaku.
” Iya doonngg…., masa mas nggak tahu, khan ade paling nggak bisa menyembunyikan sesuatu dari mas, meskipun sebenarnya ade’ berusaha nutup-nutupin juga… “.
” Berarti mas tau dong sebenarnya ade’ pingin ngomong kemaren ? “, tanyaku lebih gencar.
” Iya dong…tau dong….”, kata suamiku sambil tertawa.
” Ih,… mas jahat,… nggak mau dibahas dari kemarin saja… mas tau nggak, ade’ tuh semalam nggak nyenyak bobonya,… pingin cepat-cepat pagi biar cepat cerita sama mas… “, jelasku.
” Iya…. mas juga tahu, mas iseng saja… sekalian melatih kesabaran ade’…”, sambung suamiku masih tertawa.
” Mas jahat ih…. sudah tua masih suka iseng ngerjain isterinya… “, kataku berusaha untuk tidak ikut tersenyum.
” He.. he…. alaah de’…. mau ketawa aja pakai gengsi segala sih…. “, kata suamiku sambil mengacak-ngacak rambutku. ” Hhmmmm…. si mas….”, aku sudah kehabisan kata-kata.
Tiba-tiba suara pintu kamar diketuk dengan agak keras, aku sudah hafal siapa lagi kalau bukan Zakly yang berani mengetuk seperti itu…
” Abi,… Ummi,…. pada mau pamitan nih…. “, teriak Zakly dari luar.
” Hhmm….Zakly ya, ngomong agak pelanan khan bisa “, kataku sambil membuka pintu kamar.
” He.. he…. abis tadi Sarah udah ngetuk tapi nggak dibukain sih,..ya udah Zakly aja yang ngetuk lagi, katanya membela diri.
” Lho bi,… kog belum siap ?? nggak ke kantor hari ini ya.. ? “, tanya Fadhil.
” Iya,… nanti agak siangan… “, jawab suamiku.
” Udah pada sarapan ? “, tanyaku.
” Udah dong…. khan kita sarapan sendirian…. ummi sama abi khan masih di dalam kamar “, kata Zakly sambil sedikit memonyongkan bibirnya.
” Khan udah pada gede juga…. “, kataku sambil tertawa.
” Ya udah mi,… berangkat dulu nih…. “, kata Yazid sambil mereka bergantian mencium tangan kami satu-persatu.
” Sarah,…berangkat ya mi… “, katanya sambil berbisik di telingaku sambil mencium pipiku.
” Iya nak,… hati-hati “, lantas kupeluk Sarah agak erat. Sarah pun membalas pelukanku dan sambil mengusap kerudungnya aku seraya berbisik bahwa aku ikhlas menyetujuinya. Kulihat mata Sarah berkaca-kaca….
” Woow… Sarah pamit ke ummi aja sampai kaya gitu, kaya di film-film telenovela aja “, goda Zakly.
” Udah ah,… kamu khan nggak tahu “, balas Sarah.
” Lho memangnya ada apa sih mi… ? “, tanya Fadhil.
” Udah,… sekarang berangkat saja kalian, udah siang lho nanti malam saja kita bahas… “, kata suamiku.
” Lho… emang ada apa… ?? “, tanya Zakly lagi.
” Udah…. berangkat sana…. ingat Zakly kalau naik motor jangan ngebut….terus kalian kalau jajan jangan sembarangan, sekarang lagi musim macam-macam penyakit “, kataku mulai lagi dengan segala pesan-pesan.
” Yah,…. ummi balik lagi dah… padahal kemarin udah anteng, udah diem ya mas Yazid ? “, kata Zakly.
” Iya nih ummi… habis abi sudah pulang sih…”, timpal Yazid.
” Iya,… balik lagi deh berisiknya “, tambah Zakly.
” Zakly,… kog ngomong gitu sama umminya.. “, kataku.
” Afwan mi,.. becanda mi…. “, kata Zakly sambil memeluk bahuku.
” Hhmmm… udah ah,..pada terlambat lho nanti… “.
” Assalamu’alaikum….”, kata mereka berbarengan.
” Wa’alaikumussalam…”.
Aku antar mereka sampai depan rumah. Sambil menikmati hangatnya sinar mentari pagi di teras depan, aku termenung,….alhamdulillah aku bahagia ya Allah atas segala nikmat-Mu. Lindungilah mereka Ya Allah, tuntunlah selalu langkah-langkah mereka, penuhilah hati dan cinta mereka hanya dengan iman dan takwa kepada-Mu semata….
Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wadzurriyaatinaa qurrota
‘ayun waj’alnaa lil muttaqiina imaama…
Amiin Ya Rabbal ‘aalamiin….
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/5221/public/5221-7581-1-PB.pdf
” Bu,.. awas itu ikannya hampir gosong loh… “, seru khadimatku, Asih, membuyarkan lamunanku.
” Masya Allah…”, seruku seraya mematikan kompor.
” Nah loh ibu lagi ngelamun ya… ?”, goda Asih lagi.
” Ah, kamu ini… ayo mana belanjaannya ? “, tanyaku.
” Asih, hari ini kita bikin bali ikan, sayurnya kita bikin lodeh saja terus goreng tahu, tempe dan kerupuk”. Asih, khadimatku sudah lama ikut aku dan keluarga. Sejak dia baru lulus SD sampai sekarang dia sudah lulus SMEA. Kami sekeluarga sudah menganggap Asih sebagai anggota keluarga sendiri.
Selesai masak bareng Asih sambil menunggu adzan dzuhur aku berniat meneruskan tulisanku semalam, tapi aku hanya termenung di depan layar monitor tanpa dapat memusatkan pikiranku. Aku kembali meneruskan lamunanku yang tadi sempat terputus gara-gara Asih mengejutkanku. Semalam selepas kami sholat Isya’ berjamaah, Sarah putri tunggalku menghampiriku di kamar.
” Ummi,… ummi lagi repot ? “, tanya Sarah.
” Nggak kog sayang, ada apa ? “.
” Malam ini ummi nggak nulis ?, biasanya ba’da isya ummi khan langsung asyik sama komputer “.
” He.. he.. Sarah,…Sarah….nggak kog, memang sih ummi mau nulis tapi nanti-nanti saja. Ada apa sholihah… ? “.
” Eng.. eng… ada yang mau Sarah diskusikan sama ummi “.
” Ya,… tentang apa nak ? “.
” Tapi ummi harus janji dulu sama Sarah loh.. “.
” Janji.. ? ada apa memangnya ? “.
” Ya ummi, janji dulu ya mi yah… ? “, Sarah mulai dengan rengekan manjanya
” Iya deh insya Allah…. “.
” Ummi musti janji pertama ummi jangan motong dulu sebelum Sarah selesai, terus yang kedua ummi jangan bicarakan ini dulu sama siapapun kecuali sama Abi. Sarah nggak mau kalau mas Fadhil, mas Yazid dan Zakly tahu sebelum waktunya “, kata Sarah seraya menatapku.
” Hhhmm…. iya insya Allah “.
” Nah,… sekarang ummi dengarkan baik-baik yah…? “, pinta Sarah dengan kerlingan manjanya.
” Iya…. ini dari tadi juga ummi sudah dengerin kog…”, kataku mulai tak sabar.
” Mmhhhh… begini ummi,…. akhir-akhir ini Sarah mulai berpikir kalau… mmhhh…mmhhh.. kalau Sarah pingin menyempurnakan setengah dari dien Sarah “, kata Sarah perlahan lantas Sarah tertunduk dan diam.
Seindah Mentari PagiAku masih terdiam, rasanya otakku saat itu bekerja dengan sangat lambat untuk mencerna kata-kata Sarah. Sarah ingin menyempurnakan setengah dari diennya itu artinya Sarah hendak menikah….Subhanallah… Alhamdulillah… putri tunggalku sudah berpikir ke arah sana.
” Sarah,…subhanallah nak…”, aku tak dapat meneruskan kata-kataku.
” Ummi kaget Sarah,… tapi sekaligus juga bangga “, kataku seraya memeluk Sarah yang masih tertunduk di hadapanku. ” Alhamdulillah nak…. Insya Allah kalau nanti abi sudah pulang akan ummi diskusikan dengan abi. Nah,…mau ngomong begitu aja kog dari tadi pakai takut-takut segala sih sayang.. ? “, godaku.
Sarah masih menunduk sambil tersenyum.
” Sekarang masalahnya Sarah mau nikah sama siapa ?”, tanyaku. “Atau Sarah pingin abi dan ummi yang carikan calonnya ? “.
” Mmhh… sebenarnya Sarah sudah punya calon ummi…. “, katanya perlahan.
” Heh… ?? Sarah sudah punya calon… kog abi dan ummi nggak tahu ? “.
Terus terang aku terkejut. Aku kenal betul siapa Sarah, ia sangat hati- hati dalam menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya. Tapi kog tahu-tahu sekarang sudah ada calon.
” Ummi masih janji kalau nggak memotong sebelum Sarah selesai khan,…sekarang Sarah mau cerita yang lengkap “. Sarah menarik nafas.
” Begini ummi,… ada temen pengajian Sarah di kampus, akhwat itu punya mas. Nah, masnya itu insyaAllah akhlaq dan diennya baik “.
” Hhmm…. lantas.. “, kataku tak sabar.
” Temen Sarah itu mengusulkan agar Sarah menikah dengan masnya. Nah,.. sekarang Sarah mau minta tolong ummi dan abi atau mas Fadhil atau mas Yazid untuk menyelidiki apa memang betul ikhwan itu diennya baik dan insya Allah bisa cocok sama Sarah “.
” Hhhmmm… begitu ? “.
” Sarah belum pernah ketemu sama ikhwan itu, Sarah baru lihat fotonya saja dan Yasmin, teman Sarah itu cerita kalau ikhwan itu insya Allah shalih. Sarah percaya sama Yasmin, ummi masih ingat Yasmin khan yang pernah kesini itu lho… “.
” Ummi lupa abis khan banyak akhwat temen Sarah yang main kesini “.
” Ummi,… abi dan ummi khan selalu bilang kalau apapun yang kita kerjakan harus lillaahita’ala khan ? “, tanya Sarah. Aku hanya mengangguk….
” Ummi,….insya Allah Sarah ingin pernikahan ini juga menjadi ibadah karena Sarah pingin mencari ridho Allah ummi. Sarah ingin nikah dengan ikhwan itu karena Sarah ingin menolong ia dan keluarganya mi… Ummi,.. sebenarnya ia sudah menikah, sudah punya isteri “.
” Heh….”, seruku dengan terkejut.
Tanpa memperdulikan keterkejutanku Sarah kembali meneruskan kata-katanya.
” Ummi, ikhwan itu sudah nikah hampir 6 tahun, tapi sampai sekarang belum dikasih amanah oleh Allah, isterinya punya fisik yang lemah, sering sakit-sakitan. Sarah berpikir ummi,…. Sarah ingin bisa menolong keluarga itu untuk sama-sama berjihad di jalan Allah. Sarah bisa bantu-bantu pekerjaan rumah tangga dan insya Allah nanti Sarah bisa melahirkan jundi-jundi yang bisa dididik sama-sama. Ummi ingat ya ummi,… Sarah insyaAllah mau melakukan ini semua hanya karena Allah, Sarah cuma mau mencari ridho Allah saja ummi…. Sarah sudah istikharoh berkali-kali dan Sarah makin hari makin mantap aja “.
Aku hanya terdiam,… tak tahu harus berkata apa. Terus terang aku sangat ingin suamiku ada disampingku saat ini. Kenapa Sarah harus membicarakan hal itu di saat suamiku ke luar kota. Aku bingung tak tahu harus berkata apa….
” Ummi,…. “, panggil Sarah perlahan.
” Sarah,…sekarang ummi mau tanya ya nak… “.
” Bagaimana awal mulanya kog tiba-tiba Sarah ingin menikah dengan ikhwan itu ? “.
” Begini ummi,…Yasmin bilang kalau mbak Asma, nama isteri masnya itu, pernah bilang ke Yasmin bahwa mbak Asma ingin suaminya menikah lagi “.
” Hhmmm…. terus…. “.
” Soalnya mbak Asma tahu benar kalau suaminya sudah ingin punya jundi sementara mbak Asma sendiri sampai sekarang belum juga dikasih kesempatan oleh Allah untuk hamil. Kasihan mbak Asma ummi,…sudah fisiknya lemah, kesepian lagi. Sehabis Yasmin cerita begitu Sarah jadi kepikiran, Sarah ingin membantu keluarga itu ummi…. Sarah pingin bisa bantu-bantu mbak Asma, nemenin mbak Asma, insyaAllah nanti Sarah juga bisa melahirkan jundi yang bisa dididik sama-sama. Khan Ummi sendiri yang bilang kalau untuk menuju kebangkitan Islam memerlukan generasi yang berkualitas, insya Allah nanti akan lahir generasi-generasi robbani .”
Setelah sholat dzuhur berdua dengan Asih aku kemudian makan sendirian. Kalau siang seperti ini rumah selalu sepi, hanya aku berdua dengan Asih saja. Mereka biasanya makan di kampus masing-masing dan Yazid makan di cafetaria kantornya. Terus terang aku kesepian, ingin rasanya aku segera mendapatkan cucu-cucu dari mereka. Dan kini salah seorang dari mereka mengajukan keinginannya untuk menikah, tapi…kenapa Sarah hendak nikah dengan seseorang yang telah beristri?…. Rasanya sejak semalam aku sulit berpikir secara jernih, aku terlalu terbawa alam perasaanku. Diantara mereka berempat aku tidak membeda-bedakan kasih sayangku. Aku selalu berusaha adil terhadap mereka. Tapi tak dapat kupungkiri kalau Sarah menempati posisi yang lebih istimewa. Perhatianku lebih tercurah ekstra pada Sarah. Karena Sarah hanya satu-satunya putri tunggalku. Aku lebih melindungi Sarah dibandingkan dengan putra-putraku yang lain. Timbul rasa was-was dalam hatiku, bagaimana kalau seandainya suaminya nanti tak dapat berlaku adil, bagaimana kalau seandainya madu Sarah tidak memperlakukannya dengan baik karena merasa mendapat saingan dan bagaimana kalau nanti Sarah tidak bahagia. Semua itu menjadi beban pikiranku. Aku menyayangi Sarah, dan wajar bila sebagai seorang ibu aku ingin melihat anak-anakku bahagia. Aku menjadi tidak berselera makan. Tiba-tiba…
” Assalamu’alaikum,…”, suara Zakly kudengar dari teras depan.
” Wa’alaikumussalam,… loh kog sudah pulang ? “, tanyaku.
” Iya mi, dosennya nggak ada… lagi pula siang ini sudah nggak ada kuliah lagi kog “, jawab Zakly seraya mencium tanganku.
” Ayo makan sekalian,…ummi baru saja mulai “.
” Sebentar mi, cuci tangan dulu… “.
Seperti kebiasaan mereka sejak kecil, setiap pulang sekolah waktu makan siang mereka akan bercerita tentang kejadian mereka di sekolah hari itu. Dan hingga kini meskipun mereka telah beranjak dewasa kebiasaan itu tetap terbawa. Zakly sedang bercerita tentang susahnya mencari dosen pembimbingnya untuk skripsi. Tapi aku hanya menanggapi setengah hati, konsentrasiku tidak terpusat seutuhnya pada apa yang dibicarakannya.
” Ummi,…. ummi kenapa sih…? “, tanya Zakly.
” Oohh…nggak,… Zakly bilang apa tadi temen Zakly kenapa ? “.
” Nah khan… ketahuan deh kalo ummi nggak dengerin Zakly ngomong “.
” Nggak,.. kenapa tadi…. ? “.
” Sejak tadi pagi Zakly perhatikan ummi hari ini agak lain deh… “.
” Ah masa sih,… itu khan perasaan Zakly saja.. “.
” Bener kog… tadi pagi di garasi mas Yazid saja tanya sama Zakly, kog ummi pagi ini agak diam ya… nggak secerewet biasanya “.
” Eh,…ghibah ih,…ngomongin umminya “, sahutku sambil tersenyum.
” Bener kog… ummi nggak sakit khan ?? “.
” Nggak ummi nggak apa-apa kog… “.
” Kalo nggak apa-apa kog ummi jadi agak lain ayo !”, desak Zakly masih dengan ngototnya.
Sifat Zakly ini menurun dari abinya, yang nggak akan berhenti bertanya kalo belum mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan hatinya.
” Ummi…ummi cuma pingin abi cepet pulang, gitu aja..” sahutku perlahan.
” Ha…. ha…. “, meledak tawa Zakly.
” Lho kog ketawa sih ? “,tanyaku.
” Abis ummi lucu, kaya pengantin baru aja deh…. dikit-dikit kangen pingin ketemu abi “.
” Yah wajar dong…. namanya juga suami isteri “.
” Tapi ummi lucu deh… kita khan pura-pura nggak tahu aja, kalau sebenarnya di belakang kita ummi tuh kolokan banget sama abi… “, goda Zakly lagi.
” Hhhmmm…. kata siapa ? “, tanyaku tak mau kalah.
” Yah ummi…ngaku aja deh,…kalau ummi khan masih manja banget sama abi, ummi kita khan udah pada gede-gede, sudah ngerti “, kata Zakly masih sambil ketawa.
” Udah ah,… ketawa aja tersedak lho nanti maemnya.. “,sahutku.
” Mmmhh…ummi nggak mau ngakuin tuh…, sabar dong ummi insya Allah besok abi khan sudah pulang “, goda Zakly lagi.
” Udah,… cepat dihabisin maemnya Zakly… “.
” Iya nyonya besar…. “, kata Zakly sambil tersenyum-senyum menggoda.
” Ummi,…”, panggil Zakly lagi.
” Apa lagi sholeh ?? “.
” Mmhh… Zakly nanti ingin kalau punya rumah tangga seperti rumah tangga abi dan ummi…. “.
” Kenapa memangnya… ? “.
” Sepertinya abi sama ummi tuh seneenng terus, nggak pernah Zakly lihat abi sama ummi ribut, meskipun sudah tua-tua tapi masih seperti pengantin baru saja “.
” Hhmmm… kalian khan nggak tau saja, pernah juga abi dan ummi berselisih, karena beda pendapat, itu wajar dalam rumah tangga “.
” Oya… kog Zakly nggak tahu.. “.
” Aduh anakku sholeh…. masa sih kalau abi sama ummi lagi nggak enakan harus lapor sama kalian, nggak khan ?”.
” Iya.. ya…. “.
” Itu rahasia abi dan ummi, kita selesaikan berdua, diskusi, dibahas, saling menghargai pendapat lawan, cari jalan tengahnya “.
” Terus mi…. “.
” Ya sudah,…berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, dan saling mengalah. InsyaAllah keadaan cepat normal lagi, baikan lagi. Kunci yang penting Zakly,… kalau nanti Zakly sudah berkeluarga, jangan pernah kalian ribut di depan anak-anak, karena nggak baik buat perkembangan jiwa mereka. Selesaikan berdua ketika sudah sama-sama tenang sehabis sholat misalnya “.
” Hhmmm… itu makanya abi sama ummi tetap awet sampai sekarang yah ? “.
” Yah… alhamdulillah nak, abi dan ummi saling cinta meskipun dulu kita nggak pakai istilah pacaran “.
” Iya mi,… Zakly tahu itu….subhanallah….
“Iya,… Islam sudah bikin aturan yang benar dan baik tinggal tergantung kita mau ikut atau nggak “, kataku lebih lanjut. Sudah sekarang cepat habisin maemnya… “.
” Jazakillah ya ummi buat materinya siang ini…. “.
” Hhmm… waiyakallahu.. “.
Dan tiba-tiba…. kring… dering suara telfon.
” Hallo,… “, angkat Yazid.
” ‘Alaikumussalam,… oh abi nih… Iya bi,… bener nih nggak usah dijemput ?. Iya-iya….insya Allah…. ‘alaikumussalam… “.
” Dari abi, Yazid ?? “, tanyaku.
” Iya,… seminar abi ternyata selesai hari ini, abi sekarang ada di airport sebentar lagi pulang “.
” Lho,… abi nggak minta dijemput ? “, tanyaku.
” Kata abi, abi mau naik taksi saja biar cepat, kalau nunggu dijemput kelamaan “.
” Insya Allah sebentar lagi abi pulang “. harapku.
Selesai sholat isya’….
” Kalian sudah pada lapar ya ?, mau makan sekarang atau nunggu abi saja sekalian ? “, tanyaku.
” Nanti aja mi,… enakan bareng-bareng abi aja.. “.
” Kalau kalian mau maem dulu nggak apa-apa, biar nanti ummi saja yang nemenin abi “.
” Nggak usah mi,… khan sebentar lagi insya Allah abi juga datang “, jawab Fadhil lagi.
Dan benar, tak berapa lama kemudian….
” Assalamu’alaikum,…”, suara suamiku dari teras depan.
” Wa’alaikumussalam… “, jawab kami berbarengan.
Kelakuan mereka masih persis anak-anak langsung berebut membuka pintu buat abinya dan mencium tangan abinya. Kalau melihat mereka seperti itu tak percaya rasanya kalau mereka sudah pada besar-besar dan sudah waktunya untuk nikah. Ah,…nikah lagi… kenapa itu yang ada dipikiranku selalu.
” Ummi,..ini nih pacar ummi udah datang…”, seru Zakly.
” Zakly,…apa-apa an sih ya…”, kataku sambil melotot.
” Alah.. ummi, tadi siang bilang kangen, pingin abi cepet pulang, sekarang malah berdiri disitu aja… “, goda Zakly lagi.
” He.. he…. memang tadi siang ummi kenapa Zakly “, tanya suamiku.
” Tadi siang nih bi…. “.
” Udah Zakly,… abi baru aja dateng,… cuci tangan dulu deh bi,.. terus kita maem “, potongku langsung.
” Iya bi,.. kita tadi udah laper nungguin “, kata Sarah.
Seperti biasa waktu makan malam adalah saat dimana kami dapat makan bersama. Kalau pagi, anak-anak biasa sarapan lebih dulu sedangkan aku dan suamiku hanya sarapan berdua, karena suami ke kantor agak siang dibanding mereka pergi. Kalau siang mereka tak pernah makan di rumah, biasanya aku makan sendiri. Jadi baru makan malamlah kami dapat berkumpul bersama. Dan seperti biasa mereka saling tak mau kalah kalau sudah cerita, jadi bisa dibayangkan bagaimana semaraknya suasana.
” Oya,…tadi Zakly bilang apa tentang ummi “, tanya sumiku mendadak.
” Oh,… he.. he.. ini ummi,… “.
” Kenapa Zakly ? “, tanya Yazid.
” Tadi siang khan Zakly makan di rumah , terus pas Zakly ajak ngobrol ummi tuh kayanya nggak bener-bener ngedengerin deh,… Zakly pikir kenapa gitu…. “.
” Trus…. “, potong Fadhil.
” Waktu Zakly desak-desak ummi bilang nggak apa-apa,.. tapi akhirnya ngaku juga… “.
” Ummi bilang apa… ? “, tanya suamiku.
” Ummi bilang kangen sama abi, pingin abi cepat-cepat pulang, waktu ngomongnya kaya anak remaja yang umur 17 tahun, sambil malu-malu gimanaaa.. gitu “.
Langsung, tawa mereka memecah…
” Ih,… ummi perasaan biasa aja bilangnya, ngapain juga pakai malu-malu segala, orang abi sama ummi udah 28 tahun nikah “, sahutku.
” Alah ummi,..Zakly tadi khan liat muka ummi merah-merah gimana gitu “.
” Oooohh…. pantesan tadi pagi Yazid juga perhatikan ummi agak aneh, nggak seperti biasanya “, sambung Yazid.
” Iya,..ummi tadi pagi agak diam, hhmm baru ketauan ternyata sebabnya kenapa “, kata Fadhil
Mereka masih tertawa-tawa, kulirik Sarah hanya tersenyum tak ikut menggodaku seperti yang lain. Tentu Sarah tahu dialah yang menjadi penyebab kenapa seharian ini aku agak aneh.
” Iya mi,…bener ya apa yang Zakly bilang “, tanya suamiku sambil menatapku dalam-dalam.
” Hhmm…. “, aku hanya tersenyum, jengah juga rasanya ditatap seperti itu di depan anak-anak meskipun mereka udah dewasa.
Mendadak tawa mereka memecah lagi….
” Lho,… kenapa sih… ?? “.
” Coba deh ummi ngaca, muka ummi tuh lucu banget tersipu-sipu gimana gitu, kaya remaja 17 tahunan “, kata Zakly.
” Ummi… ummi…,mau bilang iya aja kog pake malu-malu segala sih… “, kata suamiku.
” Padahal abi khan baru pergi 3 hari yang lalu, ya khan ? “, tanya suamiku ke mereka.
” Tunggu aja bi,.. nanti kalau kita sudah nggak ada, ummi bakal ngaku juga sama abi,… “, kata Zakly.
” Udah ah,… nggak selesai-selesai maemnya nanti, ingat abi belum sholat lho..”, kataku mengalihkan pembicaraan.
Setelah suamiku sholat, seperti biasa kami berkumpul di ruang tengah. Dan juga seperti biasa mereka tak pernah habis-habis akan topik bahasan. Mulai dari kerusuhan tentang adanya isyu pembunuhan dukun santet yang menyebabkan sebagian ulama juga ikut terbunuh, tentang harga sembako yang masih saja sulit dijangkau, dan juga tentang keanekaragaman visi dari bermacam-macam partai Islam yang ada. Sampai pada masalah banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena tak ada biaya serta kondisi gizi anak-anak balita yang memprihatinkan. Dan seperti biasa, mereka ingin agar segera terbentuk khalifah Islam dimana segala macam bentuk perundang-undangan bersumber pada Al Qur’an dan sunnah Rasul yang insya Allah apabila semuanya itu dilakukan dapat menjamin pola kehidupan masyarakat akan menjadi baik.
Dari balik layar monitor kuperhatikan Sarah tidak selincah biasanya dalam berdiskusi dengan mas-masnya, Sarah hanya sesekali menimpali itu pun dengan nada bicara yang tanpa semangat, sedangkan aku dari tadi duduk di depan komputer, tapi hanya satu paragraf yang berhasil kutulis. Karena perhatianku lebih tercurah pada apa yang mereka bahas dibanding dengan susunan cerita yang sedang kukerjakan. Ingin rasanya aku cepat-cepat menarik suamiku ke kamar untuk membahas keinginan Sarah. Tapi kulihat mereka masih asyik, dan sekarang`mereka sedang nonton Dunia Dalam Berita. Biasanya sehabis acara itu mereka masih duduk di situ untuk membahas berita yang baru saja mereka lihat, sebelum akhirnya masuk ke kamar masing-masing. Setelah dunia dalam berita….
” Abi nggak capek,… khan tadi baru pulang, besok harus ke kantor khan ? “, kataku.
” Besok saja diterusin obrolannya,… atau kalian ngobrol berempat saja… “, sambil kutatap mereka.
” Kasian abi dong…. “, sambungku lagi.
” Hhhmm…. hhmm…. “, Zakly pura-pura batuk, yang aku tahu itu hanya untuk menggodaku saja.
” Iya deh,…lagian masa abi ngobrol sama kalian aja, abi khan juga pingin ngobrol sama ummi “, kata suamiku.
Tawa mereka memecah lagi…
” Bukan,… bukan gitu, abi khan baru pulang, dan besok harus kerja “, bantahku.
” Iya..iya…udah yok mi,.. kita bobo…”, ajak suamiku.
” Jangan lupa lho, periksa lagi pintu jendela sebelum kalian masuk kamar “, perintahku pada mereka.
Kulirik jam, sudah pukul 10 kurang seperempat. Tak mungkin rasanya aku bercerita malam ini. Suamiku tentu lelah, biar besok saja setelah sholat shubuh pikirku. Dan kulihat suamiku sudah merebah di tempat tidur dan bersiap-siap untuk tidur. Iya,… nggak mungkin malam ini, besok saja putusku. Tapi aku masih belum dapat memejamkan mata, ingin rasanya hari segera berganti. Aku tidak biasa memendam sesuatu terhadap suamiku. Aku ingin segera menumpahkan apa yang menjadi beban pikiranku. Yah,… insya Allah nanti selepas shubuh…
Setelah qiyamul lail, sambil menunggu shubuh aku bergantian membaca qur’an dengan suamiku. Seperti biasa suamiku dan anak-anak sholat shubuh di mesjid. Tinggal aku, Sarah dan Asih sholat berjama’ah di rumah. Pada halaman terakhir aku membaca Al Matsurat, suamiku pun tiba. Akhirnya setelah kulipat mukena dan kurapikan sajadah aku berdiri di hadapan suamiku yang sedang duduk di tepi tempat tidur….
” Mas,… mas masih ngantuk ? mau tidur lagi ? “.
” Nggak kog,… mas nggak ngantuk, kenapa de’ ? “.
” Mmhhh… ada yang mau ade’ omongin sama mas… “.
” Iya,.. tentang apa de’ ? “, tanya suamiku seraya menarikku untuk duduk di hadapannya.
” Mmhh.. ini tentang Sarah mas,… “.
” Iya,.. ada apa memangnya sama Sarah ? “.
Akhirnya kuceritakan semua apa yang menjadi keinginan Sarah. Rasa banggaku terhadap Sarah yang memiliki niat seperti itu. Persetujuanku terhadap keinginannya, tapi juga sekaligus rasa khawatirku, rasa cemasku akan putri tunggalku. Betapa aku amat mengasihinya dan aku tidak ingin ada sesuatu hal buruk yang akan dialaminya kelak. Di satu pihak apa yang menjadi keinginan Sarah patut untuk aku dukung, karena yang dilakukan Sarah hanyalah untuk mencari ridhoNya semata, tak boleh aku menghalanginya dari jalan Allah. Tapi di pihak yang lain aku khawatir bila nanti suaminya tidak bisa berlaku adil atau rasa cemburu dari madunya akan menyakiti hatinya. Aku rasa kekhawatiranku adalah hal yang wajar, karena waktu Fatimah mengadu kepada Rasulullah SAW akan niat Ali ra yang hendak nikah lagi, Rasulullah pun berkata bahwa apabila menyakiti hati Fatimah, itu sama halnya dengan menyakiti hati beliau, karena rasa kasih sayang Rasulullah sangat besar terhadap Fatimah. Tapi aku sungguh tersentuh dengan niat Sarah yang subhanallah sangat mulia. Kutumpahkan semua uneg-uneg di hatiku pada suamiku.
” De’,… mas tahu,…ade’ sayang sekali pada Sarah, begitu juga mas “, kata suamiku perlahan.
” Tapi de’,… ade’ tahu khan kalau Sarah itu bukan milik kita, Allah cuma menitipkan Sarah ke kita. Alhamdulillah Allah mau memberikan amanahNya pada kita, bukan cuma Sarah, tapi juga Fadhil, Yazid dan Zakly “.
” Mas bangga pada anak-anak, begitu juga mas bangga pada ade’ yang sudah berperan buat mentarbiyah mereka. Karena mereka semua nantinya harus kita pertanggung-jawabkan kepada Allah. Nah,…sekarang misalnya ade’ ada di posisi Asma, sudah fisiknya lemah, sakit-sakitan, kesepian…, padahal dia menginginkan untuk dapat berperan menjadi pendidik generasi yang dapat menggantikan perjuangan generasi sebelumnya, dia juga menginginkan akan adanya panggilan ‘ummi’ dari seorang anak yang lucu. Gimana coba ? “, tanya suamiku dengan lembut.
” Dari cerita ade’ tadi,…Asma sendiri yang usul supaya suaminya nikah lagi, rasanya apa yang ade’ khawatirkan insya Allah nggak akan terjadi deh…Dia sudah rela suaminya menikah lagi, dia sudah ridho dan insya Allah diapun akan memperlakukan Sarah dengan baik.. . Ade’ juga tau khan kalau Allah pasti memberikan yang terbaik, belum tentu apa yang menurut kita nggak baik tapi sebenarnya itu justru baik menurut Allah, cuma Allah yang tahu ade ‘…., kita tidak tahu apa-apa… “.
Sampai sini air mataku mulai menetes…Astaghfirullah…Ampuni aku ya Allah,… aku terlalu melibatkan perasaan dan emosiku. Sarah hanyalah milik-Mu, dan Engkau yang akan menjaganya… ” Ade’,..ade’ inget khan kalau rasa cinta kita terhadap keluarga, harta dan sebagainya tidak boleh melebihi rasa cinta kita terhadap Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya ? “,tanya suamiku.
Aku hanya mengangguk….
” Jadi insyaAllah kitapun akan mendapat ridho Allah, dari apa yang dilakukan Sarah nanti…., karena kita dengan ikhlas menyetujui Sarah menikah hanya karena kita juga sama-sama mencintai-Nya “.
Kami sama-sama terdiam sesaat. Kutarik nafas panjang…
” Mas,…”, panggilku lirih.
” Ya sayang… gimana ? “, tanya suamiku,
” Iya mas…ade’ sudah tenang sekarang,…kalau tadi meskipun ade’ setuju tapi tetap ada yang ganjal rasanya “.
” Kalau sekarang.. ? “, tanya suamiku.
” Ade’ sekarang sudah ikhlas mas,… hati ade’ sudah plong rasanya, ade’ sadar ada Allah yang akan menjaga Sarah, Sarah kan cuma milik Allah ya mas ?? “.
” Nah,… gitu dong… insya Allah Sarah, Asma dan Farid bisa membentuk keluarga sakinah, yang bisa mencetak generasi rabbani, kita tinggal mendo’akan mereka saja de’…”.
” Tapi mas,… “, kataku tertahan.
” Tapi kenapa lagi ? masih belum sreg juga ?
” Bukan begitu,… cuma mas kog kayanya begitu gampang memutuskan masalah ini, kayanya mas sudah tau tentang ini sebelumnya “, kataku penuh curiga.
” Mmmhhh… sebenernya sebelum ade’ cerita tadi mas udah tau kog de’… “, kata suamiku.
” Hah…. ?? “, tanyaku heran.
” Mmmhh.. sebelum mas ke Jakarta Farid dateng ke kantor mas, sudah diskusi dengan mas… “.
” Lho.. ??? “.
” Iya,… Mas juga tahu siapa Farid itu, juga isterinya, tapi waktu itu mas sorenya udah buru-buru mau berangkat mas pikir nanti saja pulang dari Jakarta cerita ama ade’, terus pas ade’ lagi belanja sama Asih mas interlokal dari Jakarta, yang ada di rumah Sarah, mas tanya sama Sarah. Ternyata Sarah juga sudah tahu dari Yasmin, mungkin Asma sudah minta Yasmin bilang ke Sarah, begitu de’ “, penjelasan suamiku.
” Lho,.. Sarah kog nggak bilang kemaren sama ade’ kalo mas sebenarnya sudah ngomong sama Sarah duluan ?”, tanyaku masih kebingungan.
” Iya,… mas bilang sama Sarah, supaya Sarah bilang sama ade’ saja, tanya pendapat ade’ gimana gitu… . Khan nggak enak kalau tahu-tahu mas udah langsung ngasih persetujuan duluan padahal ade’ masih belum tahu apa-apa”, kata suamiku lagi.
Subhanallah….betapa suamiku sangat menghargai aku, dari dulu suamiku tidak pernah mengambil keputusan sendiri dalam masalah rumah tangga, selalu mengajakku untuk berunding terlebih dahulu.
” Tapi mas,…ade’ masih mau tanya lagi nih.. “, kataku.
” Iya sayang,… kenapa lagi ? “.
” Tadi mas bilang kalau mas tahu bener siapa Farid itu, memang mas sudah kenal sebelumnya sama Farid ? “.
” Mmmhh….mmmhh….”, suamiku tidak menjawab hanya tersenyum saja.
Dan aku tahu apa itu artinya…suamiku tidak akan menjawab pertanyaan semacam itu. Tapi akupun tahu sebesar apa kasih sayang suamiku terhadap Sarah. Tidak mungkin rasanya suamiku membuat keputusan besar seperti ini tanpa lebih dahulu menyelidiki bagaimana keluarga Farid dan Asma.
” Yang penting de’,… kita berdo’a aja untuk kebahagiaan mereka “, ujar suamiku.
” Hhhmm… iya deh,… yang penting kita tinggal berdoa saja buat mereka “, kataku.
” Terus mas ada lagi,.. berarti mas tahu dong kemarin pas ade’ gelisah soalnya ada yang mau ade’ omongin sama mas, ya khan ?”, tanyaku.
” Iya doonngg…., masa mas nggak tahu, khan ade paling nggak bisa menyembunyikan sesuatu dari mas, meskipun sebenarnya ade’ berusaha nutup-nutupin juga… “.
” Berarti mas tau dong sebenarnya ade’ pingin ngomong kemaren ? “, tanyaku lebih gencar.
” Iya dong…tau dong….”, kata suamiku sambil tertawa.
” Ih,… mas jahat,… nggak mau dibahas dari kemarin saja… mas tau nggak, ade’ tuh semalam nggak nyenyak bobonya,… pingin cepat-cepat pagi biar cepat cerita sama mas… “, jelasku.
” Iya…. mas juga tahu, mas iseng saja… sekalian melatih kesabaran ade’…”, sambung suamiku masih tertawa.
” Mas jahat ih…. sudah tua masih suka iseng ngerjain isterinya… “, kataku berusaha untuk tidak ikut tersenyum.
” He.. he…. alaah de’…. mau ketawa aja pakai gengsi segala sih…. “, kata suamiku sambil mengacak-ngacak rambutku. ” Hhmmmm…. si mas….”, aku sudah kehabisan kata-kata.
Tiba-tiba suara pintu kamar diketuk dengan agak keras, aku sudah hafal siapa lagi kalau bukan Zakly yang berani mengetuk seperti itu…
” Abi,… Ummi,…. pada mau pamitan nih…. “, teriak Zakly dari luar.
” Hhmm….Zakly ya, ngomong agak pelanan khan bisa “, kataku sambil membuka pintu kamar.
” He.. he…. abis tadi Sarah udah ngetuk tapi nggak dibukain sih,..ya udah Zakly aja yang ngetuk lagi, katanya membela diri.
” Lho bi,… kog belum siap ?? nggak ke kantor hari ini ya.. ? “, tanya Fadhil.
” Iya,… nanti agak siangan… “, jawab suamiku.
” Udah pada sarapan ? “, tanyaku.
” Udah dong…. khan kita sarapan sendirian…. ummi sama abi khan masih di dalam kamar “, kata Zakly sambil sedikit memonyongkan bibirnya.
” Khan udah pada gede juga…. “, kataku sambil tertawa.
” Ya udah mi,… berangkat dulu nih…. “, kata Yazid sambil mereka bergantian mencium tangan kami satu-persatu.
” Sarah,…berangkat ya mi… “, katanya sambil berbisik di telingaku sambil mencium pipiku.
” Iya nak,… hati-hati “, lantas kupeluk Sarah agak erat. Sarah pun membalas pelukanku dan sambil mengusap kerudungnya aku seraya berbisik bahwa aku ikhlas menyetujuinya. Kulihat mata Sarah berkaca-kaca….
” Woow… Sarah pamit ke ummi aja sampai kaya gitu, kaya di film-film telenovela aja “, goda Zakly.
” Udah ah,… kamu khan nggak tahu “, balas Sarah.
” Lho memangnya ada apa sih mi… ? “, tanya Fadhil.
” Udah,… sekarang berangkat saja kalian, udah siang lho nanti malam saja kita bahas… “, kata suamiku.
” Lho… emang ada apa… ?? “, tanya Zakly lagi.
” Udah…. berangkat sana…. ingat Zakly kalau naik motor jangan ngebut….terus kalian kalau jajan jangan sembarangan, sekarang lagi musim macam-macam penyakit “, kataku mulai lagi dengan segala pesan-pesan.
” Yah,…. ummi balik lagi dah… padahal kemarin udah anteng, udah diem ya mas Yazid ? “, kata Zakly.
” Iya nih ummi… habis abi sudah pulang sih…”, timpal Yazid.
” Iya,… balik lagi deh berisiknya “, tambah Zakly.
” Zakly,… kog ngomong gitu sama umminya.. “, kataku.
” Afwan mi,.. becanda mi…. “, kata Zakly sambil memeluk bahuku.
” Hhmmm… udah ah,..pada terlambat lho nanti… “.
” Assalamu’alaikum….”, kata mereka berbarengan.
” Wa’alaikumussalam…”.
Aku antar mereka sampai depan rumah. Sambil menikmati hangatnya sinar mentari pagi di teras depan, aku termenung,….alhamdulillah aku bahagia ya Allah atas segala nikmat-Mu. Lindungilah mereka Ya Allah, tuntunlah selalu langkah-langkah mereka, penuhilah hati dan cinta mereka hanya dengan iman dan takwa kepada-Mu semata….
Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wadzurriyaatinaa qurrota
‘ayun waj’alnaa lil muttaqiina imaama…
Amiin Ya Rabbal ‘aalamiin….
http://publikasi.umy.ac.id/files/journals//4/articles/5221/public/5221-7581-1-PB.pdf
mentari pagi dan secangkir kopi
Saat aku suka maupun duka..
Saat senja walaupun mentari pagi tak lagi cerah..
Selalu setia menemaniku mengawali cerita..
Setiap tetesmu ada rasa dan juga kisah..
Pagi ini ceritamu sedikit berbeda...
Aroma,rasa dan juga parasmu terlalu menggoda...
Seolah tahu dari sisa cerita kemarin senja..
Mulai mengalirkan suasana dengan mentari yang cerah..
Warnamu kini melekat di sudut dermaga..
Rasamu membangkitkan gelora dalam jiwa..
Parasmu yang menggoda melumat di setiap wajah..
Di tiap tetesmu selalu menghadirkan asa..
Mentari yang cerah telah menyapa
Mengawali sebuah cerita
Dengan secangkir kopi pengakhir kisah
Dari cerita dan kisah kemarin di senja yang salah...
07.30 wita lagi-lagi di dermaga tempat mengakhiri senja,mengawali pagi dengan mentari yang cerah dengan secangkir kopi yang bercengkrama dalam jiwa-raga penghilang rasa..menuju ke pulau besi pencerah asa..titip salam dan juga doa,moga pagi ini berjalan seperti biasanya...
*** mentari pagi dengan secangkir kopi...
telah tertulis di situs ini...
moga ada senyuman buat warga ngerumpi..
mengawali dan juga mengakhiri perjalanan hidup hari ini...
Saat senja walaupun mentari pagi tak lagi cerah..
Selalu setia menemaniku mengawali cerita..
Setiap tetesmu ada rasa dan juga kisah..
Pagi ini ceritamu sedikit berbeda...
Aroma,rasa dan juga parasmu terlalu menggoda...
Seolah tahu dari sisa cerita kemarin senja..
Mulai mengalirkan suasana dengan mentari yang cerah..
Warnamu kini melekat di sudut dermaga..
Rasamu membangkitkan gelora dalam jiwa..
Parasmu yang menggoda melumat di setiap wajah..
Di tiap tetesmu selalu menghadirkan asa..
Mentari yang cerah telah menyapa
Mengawali sebuah cerita
Dengan secangkir kopi pengakhir kisah
Dari cerita dan kisah kemarin di senja yang salah...
07.30 wita lagi-lagi di dermaga tempat mengakhiri senja,mengawali pagi dengan mentari yang cerah dengan secangkir kopi yang bercengkrama dalam jiwa-raga penghilang rasa..menuju ke pulau besi pencerah asa..titip salam dan juga doa,moga pagi ini berjalan seperti biasanya...
*** mentari pagi dengan secangkir kopi...
telah tertulis di situs ini...
moga ada senyuman buat warga ngerumpi..
mengawali dan juga mengakhiri perjalanan hidup hari ini...
mentari pagi ditanah rencong
Hari ini aku mulai mengexspresikan diriku disebuah rumah kumuh di sudut kota ini, mencari perbekalan hidup yang akan ku jalani esok. Hari yang mungkin menghibur diriku penuh dengan gelombang harapan yang menggebu. Menarik suasana hati yang memang menyejukkan batin ini. “Hari yang telah aku jalani dengan senyuman” mungkin kata-kata itu yang sering terlontar dalam benah setiap insan yang merindukan kebahagiaan di dalam gemuruhnya hidup yang tak pernah ada habis-habisnya menyapa pendatang baru yang masih tidak bersahabat ini. Hari yang begitu sepi menyayat pendengaranku mengijakkan masa depan ini di tanah rencong kebanggaan masyarakat aceh ini.
“Tempat yang begitu tenang” kata orang-orang yang aku dengar ketika aku masih di kampung dulu. Tempat ini, tempat yang jauh dari kesombongan, sopan, dan masyarakat yang beradap. Menjunjung tinggi adat istiadat daerah mereka dan entah apa lagi yang dapat ku bayangkan ketika aku masih merindukan tanah rencong ini dulu. Kini aku sudah berada dalam sebuah masyarakat yang katanya penuh dengan keperdulian. Meninggalkan bayanganku yang entah aku tak tau, aku juga tak dapat memikirkan dengan akal sehatku ketika aku telah berada di tanah rencong ini. Dengan ucapan banga mereka menyebutnya ini semua “seramoe mekah” itulah kata yang juga sering aku dengar ketika itu. Negri seraya penuh dengan gejolak cinta dunia dan akherat, negri yang di idam-idamkan oleh setiap umat muslim sejati.
Tapi, itu semua hanyalah kata mereka, katanya, atau kata siapakah yang pasti aku mendengarnya demikian dari orang-orang yang ada di kampung dulu. Sehingga aku ingin sekali menimba sepotong pengalaman di tanah yang sejuk ini.
Pagi yang cerah, diselimuti oleh awan putih yang menambah keceriaan hari itu, dengan lambayan tangan pengucap salam memulai sebuah perjalananku di kota sederhana ini. Deruan kendaraan berlalu lalang di jalannan hitam bergariskan pembatas yang tidak menyatu. Tempat pemisah antara kenderaan yang satu dengan geberan mesin di hari itu. Aku melintas disebuah trotoar penyebrangan jalan yang membelah perjalanan para pengemudi kota ini. “Wah ramai” gumamku ketika aku beranjak dari sebuah tangga trotoar menuju jembatan penyebrangan di persimpangan jalan kota ini. Persimpangan yang cukup ramai, yang tidak aku jumpai ketika aku dikampung dulu.
Meniti langgkah kakiku yang melayang di sela-sela anak tangga, berjajar mengikuti ayunan telapak kakiku yang asik menari di tepian anak tangga ini. Sejenak aku menghentikan ayunan langkah kakiku di atas jembatan penyebrangan ini. Kutatap pesona kota hari ini, hari yang ku anggap bersejarah, mengapa tidak, ini hari pertamaku mengijakkan kakiku di sebuah pusat kota kebanggaan masyarakat ini. Hari yang aku jalani penuh dengan rasa senang, mengingat di kota ini, aku kini mulai mengawali perjalanan panjangku kehari yang akan datang. Hari yang akan aku arungi bersama masyarakat sekitar tempat tinggalku ini.
Dari atas jembatan penyebrangan terlihat begitu menenangkan, penuh dengan hiasan kota yang begitu mengasikkan. Barisan lampu kota rapi berjajar laksana para pejuang yang sedang mengatur barisan dalam acara apel pagi. Dihiasi pohon-pohon yang memagari jalanan tersebut. “Indah” aku menilai kota ini, dari atas jembatan pula tampak persimpangan jalan yang bercabang berjajar kenderaan dari beberapa sudut tepi jalan berbaris rapi dan hanya dikawal oleh lampu yang warnanya mirip seperti pelangi yang ada di kampung ku dulu ketika hujan gerimis menghampiri kampunggku. Wah warnanya mirip sekali ada yang merah, kuning, dan hijau seperti lagu anak-anak aja. Disanapula segerombolan pengendara sepeda motor mengitari persimpangan itu. Anak sekolah yang berseragam rapi berlalulalang dijalan ini tanpa menghiraukan kendaraan yang lewat. “Wah berani kali anak itu” gumamku salut, ketika aku melihat anak-anak menyebrangi jalan yang hanya menadahkan tangan kesamping, ada yang berlarian padahal di sini ada jembatan penyebrangan seperti tempat aku berdiri tapi kok mereka malah lewat bawah. Wah salut, aku melihat tinggkah anak berseragam sekolah itu.
Mungkin, mereka udah bosan melintas di jembatan penyebrangan ini, atau mungkin juga memang mereka semua suka tantangan, seperti acara yang extrim di tv suwasta yang ada di kota ini. Kelakuan yang memang tidak terdapat dikampunggku dulu, sewaktu aku mau berangkat kesekolah selalu saja di ajarkan “nak kalau pigi sekolah dari sebelah kiri ya…? kalau mu nyebrang jalan liat kanan kiri dulu baru nyebrang” kata orang tuaku di kampung ketika aku mau berangkat sekolah. Tapi di kota ini sangat berbeda, mungkin ini yang dinamakan salah satu kesopanan dalam menggunakan jalan. Ia, memang tidak aku dapatkan dari siapapun dulu mungkin ini salah satu pelajaran yang dapat aku tiru. “Wah…! serujuga kalau kayak gitu bearti ini salah satu kelakuan kota yang dibangga-banggakan di kota ini” seketika terlontar kata senang dalam bibirku yang penuh dengan rasa salut serta senyum pagi yang memang masih cerah saat itu.
“Hussssss…” hembusan angin pagi melalaikan diriku atas ajaran kota ini yang memang baru aku dapatkan dalam masa adaptasi dengan lingkungan ini. Sejenak ku palingkan wajahku ke arah yang lain sembari menapakkan kakiku menuju halte yang ada di trotoar jalan tepat diujung jembatan penyebrangan yang sedang ku berpijak ini. Sambil menikmati segarnya udara kota dengan kepulan asap kenderaan yang mengasikkan. Mulai kuturunin barisan tangga jembatan ini sembari menyapa pagar jembatan penyebrangan ini dengan tangan kiriku, menelusuri besi tua yang melingkar membatasi jalan ini dengan senyum yang terlontar dari bibir lebarku kepada setiap mereka yang berpapasan denganku. Ayunan kakiku mengantarkanku kesebuah halte kota yang dipenuhi dengan antrian orang-orang yang beraktivitas pagi itu. Ada yang berangkat kerja, ada yang kuliah, ada yang memang hanya untuk sekedar jalan-jalan dan lain sebagainya untuk meramaikan aktivitas pagi di kota ini.
Di halte ini aku juga ikut mengantri bersama orang-orang yang ada di halte ini, menanti sebuah bis kota yang mengangkut kami ketemapat tujuan masing-masing. Tempat yang mana kami semua dapat beraktifitas dengan senang hati, untuk mengisi hari-hari yang akan menghidupi diri hingga ahir hayat nanti. Kota yang anggun, yang penuh dengan keramahan, hingga aku merasa sangat betah tinggal berlama-lama di kota ini. Di kota ini juga banyak terdapat tempat-tempat dan bangunan-bangunan yang bersejarah yang perawatannya sangat kurang dan pemanfaatan pasilitas umum yang sesuka hati, sungguh kota yang di idam-idamkan dan kota yang damai.
“tit…tit…tit…!” seru klakson bis kota menghampiri halte tempat ku berpijak, memecahkan kerumunan antrian di halte ini. Para penumpang berkerumun menaiki bis kota seperti dikejar oleh segerombolan preman kampung yang memburu mereka, berdesak-desakan untuk berebut masuk seakan tidak ada bis kota lain yang dapat mengantar mereka ketujuan meka masing-masing. Berjubel saling berebut dan tidak keteraturan ini membuatku bertambah bangga akan sikap orang-orang kota yang tak kenal aturan ini. Pantas saja kecelakaan lalulintas banyak terjadi di kota ini, soalnya para pengguna jasa jalan baik angkutan umum maupun pribadi sangat berhati-hati tidak menghiraukan himbauan yang telah di pasang dimana-mana bahkan setiap sudut jalan persimpangan hingga jalan lurus sekalipun. Bahkan papan himbauannya sendiri telah dihiasi dengan lubang-lubang kecil hingga coretan yang sangat indah menambah keindahan kota yang aku jalanin pagi ini.
Keceriaan pagi masih saja terpancar di di raut wajahku ketika aku melihat sekelompok pemudi yang sangat menghibur mata ini, dengan jilbab yang anggun menutupi kepala dan pakayan yang menutupi tubuhnya serta dilengkapi dengan celana ketat menutupi pahanya yang molek menambah keindahan hari itu, “wau… parah” ucapku seketika keluar begitu saja dari bibir lebar ini. Ternyata yang dinamakan kota yang sangat dibanggakan ini banyak juga pakayan muslim layak pakai yang di kenakan oleh kaum hawa di kota ini. Sesuatu yang menambah pengalamanku pagi ini di kota baruku yang penuh dengan kesejukan ini. “becak…becak…!” aku memanggil besi tua beroda tiga yang melintas di jalanan kota ini dengan suara lantang. Besi tua yang dikendarai seorang pria yang sederhana sopan dan menyebarkan senyum gembira kepada diriku. Besitua itupun menghampiriku. Tanpa fikir panjang akupun menunggangin besitua itu dengan rasa bangga, memutari kota menikmati perjalananku hari ini melewati gang-gang kota seharian dengan besi tua yang sangat unik ini.
Pengalamanku semangkin bertambah ketika ku memperhatikan pengendara mobil yang seenaknya memotong perjalanan kami serta menghidupkan suara bising yang sangat mengasikkan laksana musik tempoe duloe yang melalaikan telinga ini. Entah, seakan mereka tak sabar untuk melintas dijalan raya ini. Tak lama kemudian, terdengar teriakan yang sangat mengasikkan laksana musik jazz yang menghibur. “oiii…. minggir kutabrak nanti, emang kamu aja yang bayar pajak jalan ne ya…!” teriak pengendara montor yang asik memaki-maki di jalanan. Suasana yang sangat menyenangkan, menambah catatanku terhadap kota yang sejuk ini. Kota yang mana terkenal dengan ramah tamahnya serta menjunjung tinggi adat-istiadat daerah setempat.
Lalu-lalang kenderaanpun terus mengalir dijalannan ini, seperti tak terbendungkan lagi. Kerumunan penikmat kota yang aktif di setiap pagi di kota pertamaku ini. Akupun mulai menikmatin perjalannanku dengan besi tua yang aku tunggangin ini. Banyak hal yang aku nikmatin sehingga terasa senang dalam diri ini tanpa merasa bosan sedikitpun. lebih lagi ketika aku melihat pengguna jalan di kota ini yang sangat menyita perhatianku. Sungguh, kenapa tidak, sesuatu yang sangat jarang aku dapatkan ketika aku berada di kampung dahulu ketika aku berjalan-jalan mengitari kampung yang jalannya tidak semulus dan se indah di kota ini. Jalan yang penuh dengan lubang tidak tertata rapi dan banyak temapat-temapat perkumpulan para pengendara motor yang mengadu kecepatan dijalan yang sangat ramai ini. seolah jalan ini tempat ajang mencari perhatian yang membahayakan nyawa diri sendiri, bahkan orang lain, entah apa mereka menyebutnya “balap liar men!” dengan sangat bangga mereka mengungkapkannya. Asik memang kalau pemandangan kota yang damai ini di penuhi dengan para pemain jalanan yang gayanya ala rosi pembalap ternama dari tetangga kita mungkin. Ah entah lah apa itu, yang penting pagi ini aku tidak merasa bosan, terlebih lagi ini hari pertamaku dikota kebanggan masyarakat tanah rencong ini.
Kota sederhana, kota penuh dengan kenangan yang indah. Hari pertama perjalananku mengitari kota dengan besi tua yang unik, menunjukan lagi khas daerah ini yang takkan luntur ditelan jaman. Tak terasa haripun semangkin berlalu begitu saja, besi tua yang aku tunggangin telah mengantarkanku ke tempat penampunganku, rumah kumuh yang akan menghiasi perjalanku di hari yang akan datang, mengukir asa dan harapan yang masih semu hingga raga dan batin ini mampu mendampinginya hingga waktu memisahkan kesetiaanku dengan rumah kumuh mungilku ini. perjalannan pagiku hari inipun berakhir dengan goresan harapan yang mudah-mudahan itu semaua tidakkan hilang dari hadapan dan adat serta budaya kota tua ini. senyumkupun melebar ketika hari pagi telah aku lewati dengan secarik pengalaman sederhana yang mungkin akan kucoba untuk mengingatnya. Agar ku dapat menceritakan pengalamanku di hari pertama di kota ini kelak ketika aku kembali ke kampung halaman.
“Tempat yang begitu tenang” kata orang-orang yang aku dengar ketika aku masih di kampung dulu. Tempat ini, tempat yang jauh dari kesombongan, sopan, dan masyarakat yang beradap. Menjunjung tinggi adat istiadat daerah mereka dan entah apa lagi yang dapat ku bayangkan ketika aku masih merindukan tanah rencong ini dulu. Kini aku sudah berada dalam sebuah masyarakat yang katanya penuh dengan keperdulian. Meninggalkan bayanganku yang entah aku tak tau, aku juga tak dapat memikirkan dengan akal sehatku ketika aku telah berada di tanah rencong ini. Dengan ucapan banga mereka menyebutnya ini semua “seramoe mekah” itulah kata yang juga sering aku dengar ketika itu. Negri seraya penuh dengan gejolak cinta dunia dan akherat, negri yang di idam-idamkan oleh setiap umat muslim sejati.
Tapi, itu semua hanyalah kata mereka, katanya, atau kata siapakah yang pasti aku mendengarnya demikian dari orang-orang yang ada di kampung dulu. Sehingga aku ingin sekali menimba sepotong pengalaman di tanah yang sejuk ini.
Pagi yang cerah, diselimuti oleh awan putih yang menambah keceriaan hari itu, dengan lambayan tangan pengucap salam memulai sebuah perjalananku di kota sederhana ini. Deruan kendaraan berlalu lalang di jalannan hitam bergariskan pembatas yang tidak menyatu. Tempat pemisah antara kenderaan yang satu dengan geberan mesin di hari itu. Aku melintas disebuah trotoar penyebrangan jalan yang membelah perjalanan para pengemudi kota ini. “Wah ramai” gumamku ketika aku beranjak dari sebuah tangga trotoar menuju jembatan penyebrangan di persimpangan jalan kota ini. Persimpangan yang cukup ramai, yang tidak aku jumpai ketika aku dikampung dulu.
Meniti langgkah kakiku yang melayang di sela-sela anak tangga, berjajar mengikuti ayunan telapak kakiku yang asik menari di tepian anak tangga ini. Sejenak aku menghentikan ayunan langkah kakiku di atas jembatan penyebrangan ini. Kutatap pesona kota hari ini, hari yang ku anggap bersejarah, mengapa tidak, ini hari pertamaku mengijakkan kakiku di sebuah pusat kota kebanggaan masyarakat ini. Hari yang aku jalani penuh dengan rasa senang, mengingat di kota ini, aku kini mulai mengawali perjalanan panjangku kehari yang akan datang. Hari yang akan aku arungi bersama masyarakat sekitar tempat tinggalku ini.
Dari atas jembatan penyebrangan terlihat begitu menenangkan, penuh dengan hiasan kota yang begitu mengasikkan. Barisan lampu kota rapi berjajar laksana para pejuang yang sedang mengatur barisan dalam acara apel pagi. Dihiasi pohon-pohon yang memagari jalanan tersebut. “Indah” aku menilai kota ini, dari atas jembatan pula tampak persimpangan jalan yang bercabang berjajar kenderaan dari beberapa sudut tepi jalan berbaris rapi dan hanya dikawal oleh lampu yang warnanya mirip seperti pelangi yang ada di kampung ku dulu ketika hujan gerimis menghampiri kampunggku. Wah warnanya mirip sekali ada yang merah, kuning, dan hijau seperti lagu anak-anak aja. Disanapula segerombolan pengendara sepeda motor mengitari persimpangan itu. Anak sekolah yang berseragam rapi berlalulalang dijalan ini tanpa menghiraukan kendaraan yang lewat. “Wah berani kali anak itu” gumamku salut, ketika aku melihat anak-anak menyebrangi jalan yang hanya menadahkan tangan kesamping, ada yang berlarian padahal di sini ada jembatan penyebrangan seperti tempat aku berdiri tapi kok mereka malah lewat bawah. Wah salut, aku melihat tinggkah anak berseragam sekolah itu.
Mungkin, mereka udah bosan melintas di jembatan penyebrangan ini, atau mungkin juga memang mereka semua suka tantangan, seperti acara yang extrim di tv suwasta yang ada di kota ini. Kelakuan yang memang tidak terdapat dikampunggku dulu, sewaktu aku mau berangkat kesekolah selalu saja di ajarkan “nak kalau pigi sekolah dari sebelah kiri ya…? kalau mu nyebrang jalan liat kanan kiri dulu baru nyebrang” kata orang tuaku di kampung ketika aku mau berangkat sekolah. Tapi di kota ini sangat berbeda, mungkin ini yang dinamakan salah satu kesopanan dalam menggunakan jalan. Ia, memang tidak aku dapatkan dari siapapun dulu mungkin ini salah satu pelajaran yang dapat aku tiru. “Wah…! serujuga kalau kayak gitu bearti ini salah satu kelakuan kota yang dibangga-banggakan di kota ini” seketika terlontar kata senang dalam bibirku yang penuh dengan rasa salut serta senyum pagi yang memang masih cerah saat itu.
“Hussssss…” hembusan angin pagi melalaikan diriku atas ajaran kota ini yang memang baru aku dapatkan dalam masa adaptasi dengan lingkungan ini. Sejenak ku palingkan wajahku ke arah yang lain sembari menapakkan kakiku menuju halte yang ada di trotoar jalan tepat diujung jembatan penyebrangan yang sedang ku berpijak ini. Sambil menikmati segarnya udara kota dengan kepulan asap kenderaan yang mengasikkan. Mulai kuturunin barisan tangga jembatan ini sembari menyapa pagar jembatan penyebrangan ini dengan tangan kiriku, menelusuri besi tua yang melingkar membatasi jalan ini dengan senyum yang terlontar dari bibir lebarku kepada setiap mereka yang berpapasan denganku. Ayunan kakiku mengantarkanku kesebuah halte kota yang dipenuhi dengan antrian orang-orang yang beraktivitas pagi itu. Ada yang berangkat kerja, ada yang kuliah, ada yang memang hanya untuk sekedar jalan-jalan dan lain sebagainya untuk meramaikan aktivitas pagi di kota ini.
Di halte ini aku juga ikut mengantri bersama orang-orang yang ada di halte ini, menanti sebuah bis kota yang mengangkut kami ketemapat tujuan masing-masing. Tempat yang mana kami semua dapat beraktifitas dengan senang hati, untuk mengisi hari-hari yang akan menghidupi diri hingga ahir hayat nanti. Kota yang anggun, yang penuh dengan keramahan, hingga aku merasa sangat betah tinggal berlama-lama di kota ini. Di kota ini juga banyak terdapat tempat-tempat dan bangunan-bangunan yang bersejarah yang perawatannya sangat kurang dan pemanfaatan pasilitas umum yang sesuka hati, sungguh kota yang di idam-idamkan dan kota yang damai.
“tit…tit…tit…!” seru klakson bis kota menghampiri halte tempat ku berpijak, memecahkan kerumunan antrian di halte ini. Para penumpang berkerumun menaiki bis kota seperti dikejar oleh segerombolan preman kampung yang memburu mereka, berdesak-desakan untuk berebut masuk seakan tidak ada bis kota lain yang dapat mengantar mereka ketujuan meka masing-masing. Berjubel saling berebut dan tidak keteraturan ini membuatku bertambah bangga akan sikap orang-orang kota yang tak kenal aturan ini. Pantas saja kecelakaan lalulintas banyak terjadi di kota ini, soalnya para pengguna jasa jalan baik angkutan umum maupun pribadi sangat berhati-hati tidak menghiraukan himbauan yang telah di pasang dimana-mana bahkan setiap sudut jalan persimpangan hingga jalan lurus sekalipun. Bahkan papan himbauannya sendiri telah dihiasi dengan lubang-lubang kecil hingga coretan yang sangat indah menambah keindahan kota yang aku jalanin pagi ini.
Keceriaan pagi masih saja terpancar di di raut wajahku ketika aku melihat sekelompok pemudi yang sangat menghibur mata ini, dengan jilbab yang anggun menutupi kepala dan pakayan yang menutupi tubuhnya serta dilengkapi dengan celana ketat menutupi pahanya yang molek menambah keindahan hari itu, “wau… parah” ucapku seketika keluar begitu saja dari bibir lebar ini. Ternyata yang dinamakan kota yang sangat dibanggakan ini banyak juga pakayan muslim layak pakai yang di kenakan oleh kaum hawa di kota ini. Sesuatu yang menambah pengalamanku pagi ini di kota baruku yang penuh dengan kesejukan ini. “becak…becak…!” aku memanggil besi tua beroda tiga yang melintas di jalanan kota ini dengan suara lantang. Besi tua yang dikendarai seorang pria yang sederhana sopan dan menyebarkan senyum gembira kepada diriku. Besitua itupun menghampiriku. Tanpa fikir panjang akupun menunggangin besitua itu dengan rasa bangga, memutari kota menikmati perjalananku hari ini melewati gang-gang kota seharian dengan besi tua yang sangat unik ini.
Pengalamanku semangkin bertambah ketika ku memperhatikan pengendara mobil yang seenaknya memotong perjalanan kami serta menghidupkan suara bising yang sangat mengasikkan laksana musik tempoe duloe yang melalaikan telinga ini. Entah, seakan mereka tak sabar untuk melintas dijalan raya ini. Tak lama kemudian, terdengar teriakan yang sangat mengasikkan laksana musik jazz yang menghibur. “oiii…. minggir kutabrak nanti, emang kamu aja yang bayar pajak jalan ne ya…!” teriak pengendara montor yang asik memaki-maki di jalanan. Suasana yang sangat menyenangkan, menambah catatanku terhadap kota yang sejuk ini. Kota yang mana terkenal dengan ramah tamahnya serta menjunjung tinggi adat-istiadat daerah setempat.
Lalu-lalang kenderaanpun terus mengalir dijalannan ini, seperti tak terbendungkan lagi. Kerumunan penikmat kota yang aktif di setiap pagi di kota pertamaku ini. Akupun mulai menikmatin perjalannanku dengan besi tua yang aku tunggangin ini. Banyak hal yang aku nikmatin sehingga terasa senang dalam diri ini tanpa merasa bosan sedikitpun. lebih lagi ketika aku melihat pengguna jalan di kota ini yang sangat menyita perhatianku. Sungguh, kenapa tidak, sesuatu yang sangat jarang aku dapatkan ketika aku berada di kampung dahulu ketika aku berjalan-jalan mengitari kampung yang jalannya tidak semulus dan se indah di kota ini. Jalan yang penuh dengan lubang tidak tertata rapi dan banyak temapat-temapat perkumpulan para pengendara motor yang mengadu kecepatan dijalan yang sangat ramai ini. seolah jalan ini tempat ajang mencari perhatian yang membahayakan nyawa diri sendiri, bahkan orang lain, entah apa mereka menyebutnya “balap liar men!” dengan sangat bangga mereka mengungkapkannya. Asik memang kalau pemandangan kota yang damai ini di penuhi dengan para pemain jalanan yang gayanya ala rosi pembalap ternama dari tetangga kita mungkin. Ah entah lah apa itu, yang penting pagi ini aku tidak merasa bosan, terlebih lagi ini hari pertamaku dikota kebanggan masyarakat tanah rencong ini.
Kota sederhana, kota penuh dengan kenangan yang indah. Hari pertama perjalananku mengitari kota dengan besi tua yang unik, menunjukan lagi khas daerah ini yang takkan luntur ditelan jaman. Tak terasa haripun semangkin berlalu begitu saja, besi tua yang aku tunggangin telah mengantarkanku ke tempat penampunganku, rumah kumuh yang akan menghiasi perjalanku di hari yang akan datang, mengukir asa dan harapan yang masih semu hingga raga dan batin ini mampu mendampinginya hingga waktu memisahkan kesetiaanku dengan rumah kumuh mungilku ini. perjalannan pagiku hari inipun berakhir dengan goresan harapan yang mudah-mudahan itu semaua tidakkan hilang dari hadapan dan adat serta budaya kota tua ini. senyumkupun melebar ketika hari pagi telah aku lewati dengan secarik pengalaman sederhana yang mungkin akan kucoba untuk mengingatnya. Agar ku dapat menceritakan pengalamanku di hari pertama di kota ini kelak ketika aku kembali ke kampung halaman.
mentari untuk pagi
Hujan turun dengan derasnya saat Renata terbangun dari mimpinya yang aneh. Renata mengingat mimpinya lagi, mimpi yang selalu hadir belakangan ini, dia terjatuh kedalam sebuah lubang gelap besar yang semuanya hitam, hitam sampai ia tak mampu melihat apapun disana, tapi ia tetap melangkah dalam kegelapan sampai ia melihat sebuah sinar yang menyilaukan matanya dan ia tiba-tiba berada dalam sebuah taman aneh tanpa warna, seperti sebuah taman yang berada dalam bingkai foto hitam putih, di timur ia melihat mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya, di ufuk timur itu dia melihat seorang gadis berambut sebahu mengenakan gaun berwarna merah marun ditengah taman hitam putih itu, dan saat gadis itu menengok ke arah Renata, mentari pagi keluar dari peraduannya, dan ia hilang disana sebelum Renata sempat melihat wajah gadis itu.
Renata masih duduk termenung di tempat tidurnya, ia bingung sendiri memikirkan mimpinya itu, yang entah berarti apa. Hujan turun dengan deras saat ia terbangun tadi, dan diluar masih gelap belum ada tanda-tanda kemunculan mentari pagi diluar sana. Ia melihat jam beker disampingnya, pukul 04.00 WIB, masih terlalu pagi untuk bangun dan bersiap ke sekolah. Tapi ia beranjak juga dari kasurnya yang cukup hangat, namun ia tak tergoda untuk berlabuh ke pulau mimipi lagi, ia terlalu pusing jika harus bermimpi itu lagi.
***
Renata baru tiba di gerbang SMA MENTARI, 5 menit setelah bel berbunyi. Dia tadi ketiduran di meja makan usai menengguk secangkir kopi, aneh-aneh aja ini anak masa abis minum kopi kok malah ketiduran. Untung gerbang belum ditutup seluruhnya, masih ada sedikit celah saat pak Satrio satpam sekolah akan menutup gerbang itu, Renata langsung berlari menerobosnya dengan senyum usil yang ditujukan pada pak Satrio.
Jam pertama Pelajaran fisika, Renata melangkah tenang, males juga ngikut pelajaran hari ini, akhirnya ia memutuskan untuk nggak ikut pelajaran, Ia melangkahkan kakinya ke tangga bangunan utara tempat kelas sepuluh berada yang otomatis berlawanan sama ruang kelas 12 yang berada di bangunan selatan, ia menaiki tangga sampai lantai tiga, disana ada sebuah taman, bukan taman yang kaya’ taman pada umumnya. Inget taman di film high school musical, taman ini persis kaya’ taman itu. Dan Ini taman juga buat kepentingan sekolah, yaitu buat pelajaran juga. Ini bisa juga dibilang tempat cabut paling aman buat Renata. Saat itu ternyata ada anak yang lagi praktikum, melihat itu Renata langsung ngumpet dibalik pot gede takut ketauan bu Rika guru bio kelas 10, Cuma ada 15 anak disana mungkin ini Cuma persiapan buat lomba bio minggu depan, pandangan renata tertuju pada seorang cewek yang serba merah, rambutnya sebahu yang dikuncir nyamping, manis banget, dan dia pake jam tangan, gelang, kacamata, iket rambut, dan kaos kaki berwarna merah ngebuat dia paling mencolok diantara temen”nya. Dan cewek itu mengingatkannya pada cewek bergaun merah marun di mimpinya.
Renata masih duduk termenung di tempat tidurnya, ia bingung sendiri memikirkan mimpinya itu, yang entah berarti apa. Hujan turun dengan deras saat ia terbangun tadi, dan diluar masih gelap belum ada tanda-tanda kemunculan mentari pagi diluar sana. Ia melihat jam beker disampingnya, pukul 04.00 WIB, masih terlalu pagi untuk bangun dan bersiap ke sekolah. Tapi ia beranjak juga dari kasurnya yang cukup hangat, namun ia tak tergoda untuk berlabuh ke pulau mimipi lagi, ia terlalu pusing jika harus bermimpi itu lagi.
***
Renata baru tiba di gerbang SMA MENTARI, 5 menit setelah bel berbunyi. Dia tadi ketiduran di meja makan usai menengguk secangkir kopi, aneh-aneh aja ini anak masa abis minum kopi kok malah ketiduran. Untung gerbang belum ditutup seluruhnya, masih ada sedikit celah saat pak Satrio satpam sekolah akan menutup gerbang itu, Renata langsung berlari menerobosnya dengan senyum usil yang ditujukan pada pak Satrio.
Jam pertama Pelajaran fisika, Renata melangkah tenang, males juga ngikut pelajaran hari ini, akhirnya ia memutuskan untuk nggak ikut pelajaran, Ia melangkahkan kakinya ke tangga bangunan utara tempat kelas sepuluh berada yang otomatis berlawanan sama ruang kelas 12 yang berada di bangunan selatan, ia menaiki tangga sampai lantai tiga, disana ada sebuah taman, bukan taman yang kaya’ taman pada umumnya. Inget taman di film high school musical, taman ini persis kaya’ taman itu. Dan Ini taman juga buat kepentingan sekolah, yaitu buat pelajaran juga. Ini bisa juga dibilang tempat cabut paling aman buat Renata. Saat itu ternyata ada anak yang lagi praktikum, melihat itu Renata langsung ngumpet dibalik pot gede takut ketauan bu Rika guru bio kelas 10, Cuma ada 15 anak disana mungkin ini Cuma persiapan buat lomba bio minggu depan, pandangan renata tertuju pada seorang cewek yang serba merah, rambutnya sebahu yang dikuncir nyamping, manis banget, dan dia pake jam tangan, gelang, kacamata, iket rambut, dan kaos kaki berwarna merah ngebuat dia paling mencolok diantara temen”nya. Dan cewek itu mengingatkannya pada cewek bergaun merah marun di mimpinya.
Langganan:
Komentar (Atom)