Sabtu, 19 November 2011

Hari Ketika Akhirnya Aku Menangis

Aku tidak menangis ketika tahu, bahwa aku adalah orang tua seorang cacat mental. Aku hanya duduk diam seribu bahasa ketika aku dan suamiku diberitahu bahwa Kristi, dua tahun sesuai dari kecurigaan kami adalah anak terbelakang. “silakan menangis,” kata dokter itu dengan ramah.itu dapat mencegah masalah- masalah emosi yang serius. Kendati terancam dengan masalah-masalah serius, aku tidak dapat menangis, baik waktu itu maupun selama bulan-bulan berikutnya.

Ketika Kristi cukup matang untuk bersekolah, kami mendaftarkannya kesebuah sekolah taman kanak-kanak pada usia tujuh tahun. Aku sangat melegakan andai kata aku menangis pada ahri ketika aku meninggalkannya di ruangan yang penuh dengan anak-anak lima tahun yang bersemangat dan penuh keyakinan. Selama itu Kristi selalu bermain sendirian,tetapi saat ini, ketika ia menjadi anak berbeda di antara dua puluh anak lain, bukan tidak mungkin ia akan merasakan kesepian paling berat dalam hidupnya.

Ternyata, suatu yang positif mulai terjadi pada Kristi disekolahannya, juga pada teman-teman kelasnya. Kendati berlomba meraih prestasi-prestasi masing-masing, teman-teman Kristi selalu bersedia memberikan pujian kepadanya juga. Kristi mengeja dengan benar pada hari ini. Tidak seorang pun bertindak usil dengan menambahkan bahwa kata yang harus diejanya lebih muda dari pada anak-anak lain.

Selama tahun keduanya di sekolah, ia menghadapi sebuah pengalaman yang sangat traumatis. Peristiwa penting dalam semester itu adalah perlombaan dalam bidang keterampilan music dan olah raga. Kristi terbelakang dalam olah musik dan olah raga. Aku dan suamiku juga takut dalam menghadapi itu. Pada hari berlangsungnya acara itu, Kristi berpura-pura sakit. Mengungat kekurangannya, aku pun ingin membiarkannya tetap dirumah.

Mengapa aku harus membiarkan Kristi dipermalukan di aula dihadapan para orang tua mudur, dan guru-guru. Kelihatannya solusi yang sederhana adalah mengizinkannya tinggal dirumah. Tidak mengikuti acara ini pastilah bukan suatu masalah. Tetapi hati nuraniku tidak membiarkannya menyerah begitu mudah. Maka aku membujuk Kristi dengan lembut untuk  bersiap-siap berangkat dengan bus sekolah, sementara aku sendiri masih bimbang dengan keputusanku….bersambung.,,..,

1 komentar:

  1. Hands down, Apple's app store wins by a mile. It's a huge selection of all sorts of apps vs a rather sad selection of a handful for Zune. Microsoft has plans, especially in the realm of games, but I'm not sure I'd want to bet on the future if this aspect is important to you. The is a much better choice in that case.

    BalasHapus